Standar kecantikan arus utama sejak lama menjadi salah satu alat kontrol sosial yang memasung tubuh perempuan. Dalam jerat patriarki, tubuh perempuan terus-menerus didikte tentang bagaimana mereka harus berhias, berpakaian, bersikap. Bahkan bagaimana seharusnya tubuh mereka terlihat agar dianggap menarik. Estetika perempuan kemudian diperas sedemikian rupa untuk memenuhi male gaze. Yakni pandangan maskulin yang mendewakan kepasifan, kelembutan, kulit putih dan mulus, tubuh ideal, serta penampilan fisik yang seragam.
Di saat industri kecantikan kapitalistik sibuk memanen keuntungan dari rasa tidak aman yang turut mereka produksi, perlawanan terhadap standar tersebut justru dapat tumbuh dari ruang-ruang alternatif. Subkultur fesyen arus bawah, komunitas kreatif, serta keberanian para perempuan yang memilih menampilkan dirinya dengan cara berbeda. Gaya Decora, Goth, dan Gyaru—yang kini dihidupkan sekaligus diinterpretasikan ulang oleh para kreator konten perempuan di Indonesia—dapat dibaca bukan sekadar sebagai pilihan fesyen. Tetapi juga sebagai bentuk negosiasi dan perlawanan terhadap tatanan estetika patriarkal.
Bila dirunut secara historis, beban fisik yang ditanggung perempuan di Asia Timur maupun Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari konstruksi kecantikan dan keanggunan yang sangat homogen. Di Jepang, misalnya. Idealisme “Yamato Nadeshiko” secara historis mengasosiasikan perempuan ideal dengan kesantunan, kulit terang, rambut hitam lurus, perilaku lembut, serta sikap yang cenderung submisif. Sementara di Indonesia, konstruksi tentang “perempuan cantik” juga terus direproduksi melalui gambaran tentang kulit putih atau cerah dan mulus tanpa cela. Serta tubuh langsing, rambut yang tertata, dan gestur yang ramah dan tidak terlalu “mencolok”.
Baca Juga: Film ‘Real Women Have Curves’, Perempuan Berhak Bebas dari Patriarki dan Standar Kecantikan
Konstruksi semacam ini pada akhirnya memangkas otonomi tubuh perempuan sekaligus menyempitkan ruang bagi mereka untuk menentukan bagaimana tubuhnya ingin ditampilkan. Ledakan subkultur jalanan di distrik seperti Harajuku dan Shibuya, yang kemudian bersinggungan dengan berbagai ekspresi alternatif perempuan di berbagai negara, hadir sebagai pembangkangan terhadap kejenuhan atas keseragaman tersebut. Melalui bahasa estetika yang ekstrem, melimpah, eksentrik, dan mendobrak batas, perempuan merebut kembali hak paling mendasar: menentukan tubuh dan penampilannya sendiri.
Subkultur Decora lahir sebagai ledakan warna, tekstur, dan kepolosan yang sengaja dibesar-besarkan. Gaya ini berkembang di Jepang dengan karakteristik visual. Tumpukan jepit rambut berwarna-warni, aksesori berbentuk mainan atau benda-benda imut, pakaian berlapis-lapis, serta penggunaan warna cerah dan neon. Alih-alih menghadirkan tubuh perempuan sebagai sesuatu yang harus terlihat dewasa, elegan, dan menarik secara seksual, Decora justru mengedepankan permainan, kekanakan, dan ekspresi visual yang berlebihan.
Dalam konteks tersebut, Decora dapat dibaca sebagai cara untuk mengganggu dominasi male gaze. Ia membanjiri pandangan pengamat melalui apa yang dapat disebut sebagai visual noise. Tubuh tidak lagi disajikan sebagai objek yang mudah dikonsumsi secara visual. Melainkan sebagai medium kreativitas yang dapat dihias dan dieksplorasi sesuai keinginan pemiliknya.
Karakteristik visual yang hiper-mencolok ini diperkuat oleh analisis Masafumi Monden dalam karyanya Japanese Fashion Cultures: Dress and Gender in Contemporary Japan (2014). Ia menjelaskan bagaimana penggunaan warna-warna terang, aksesori imut, serta estetika kepolosan yang hadir dalam berbagai subkultur fesyen jalanan Jepang dapat menjadi bentuk agensi dan ekspresi diri yang aktif.
Baca Juga: Lebih dari Soal Privilese, Saatnya Melawan Patriarki dalam Standar Kecantikan
Gaya tersebut secara subversif melintasi batas-batas pemaknaan gender konvensional dengan menggeser tujuan berpakaian. Dari sekadar menarik perhatian lawan jenis menjadi sarana memperoleh kepuasan estetika personal dan mengekspresikan kreativitas secara independen. Melalui artikulasi visual yang serba melimpah dan kekanakan, perempuan Decora membongkar anggapan bahwa feminitas harus selalu identik dengan kedewasaan, keanggunan, kepatuhan, dan kesiapan untuk dikonsumsi oleh norma patriarkal.
Di sisi lain spektrum estetika, subkultur Goth mengambil pendekatan yang sangat berbeda, tetapi membawa tujuan perlawanan yang serupa. Dalam masyarakat yang kerap menuntut perempuan untuk selalu ramah, hangat, ceria, dan “menyenangkan”, perempuan Goth secara sadar memilih visual yang dapat dianggap “menakutkan”, “dingin”, atau bahkan “tidak menyenangkan” bagi standar kecantikan arus utama. Nuansa gelap, misterius, morbid, riasan tebal, pakaian serba hitam, serta gaun berenda yang terinspirasi dari era Victoria menjadi bagian dari bahasa visual tersebut. Penampilan ini dapat menjadi penolakan terbuka terhadap kewajiban sosial yang membuat perempuan merasa harus senantiasa terlihat approachable dan “enak dipandang” oleh orang lain.
Peneliti subkultur Dunja Brill dalam studinya Goth Culture: Gender, Sexuality and Style (2008) menegaskan bahwa gaya Goth dapat membongkar konstruksi gender konvensional melalui keindahan yang bersifat androgini dan subversif. Ciri khasnya adalah riasan tebal yang melintasi batas-batas gender serta estetika yang berfokus pada kegelapan dan morbiditas. Subkultur ini menolak gagasan tentang kecantikan feminin tradisional yang harus selalu lembut, bersih, muda, dan menyenangkan untuk dilihat. Perempuan Goth yang menampilkan citra dingin, misterius, atau tidak mudah didekati bukan hanya menentang keharusan untuk tampil menarik bagi pandangan maskulin. Tetapi juga menciptakan ruang subkultur tempat ekspresi gender dan seksualitas dapat dinegosiasikan secara lebih mandiri. Di luar dikotomi yang dibentuk norma patriarkal.
Baca Juga: ‘The Substance’, Ketika Standar Kecantikan Media Hadirkan Diri yang ‘Liyan’ dan Menghancurkan Tubuh Perempuan
Jika Decora dan Goth banyak bermain dengan tekstur, warna, bentuk, dan siluet pakaian, subkultur Gyaru melancarkan tantangan yang lebih langsung terhadap norma kecantikan fisik tradisional masyarakat Asia. Tren ini muncul dan berkembang kuat pada era 1990-an. Gyaru—termasuk variasi seperti Ganguro dan Manba—ditandai oleh kulit yang sengaja dibuat lebih gelap melalui proses penyamakan, rambut yang di-bleach hingga pirang atau berwarna terang, serta riasan mata yang tebal dan kontras. Gaya tersebut secara terang-terangan berhadapan dengan standar kulit putih atau cerah, penampilan “alami”, dan kecantikan yang dianggap feminin serta pantas dalam masyarakat Jepang pada masa itu.
Pilihan untuk menggelapkan kulit dan menggunakan riasan secara berlebihan menjadi penting. Sebab ia membalik logika kecantikan yang selama ini mengharuskan perempuan terus memperbaiki tubuh agar mendekati standar tertentu. Alih-alih berusaha menghapus warna kulit, memperkecil tubuh, atau menyamarkan bagian tubuh yang dianggap tidak ideal, perempuan Gyaru justru menonjolkan elemen-elemen tersebut secara sengaja. Riasan tebal, rambut mencolok, dan penampilan yang berlebihan menjadi bagian dari ekspresi kelompok dan kepuasan personal.
Maka berdandan tidak semata-mata dilakukan untuk memperoleh validasi laki-laki. Tetapi juga untuk membangun identitas, solidaritas dengan komunitas, serta kesenangan atas tubuh sendiri.
Bagi perempuan Indonesia, mengadopsi subkultur seperti Decora, Goth, Gyaru, maupun berbagai bentuk fesyen dan performa alternatif lainnya bukan selalu sekadar tren yang datang dan pergi. Di dalamnya terdapat upaya mereklamasi hak untuk berekspresi. Ketika standar kecantikan lokal masih banyak mendewakan kulit putih atau cerah dan mulus, tubuh langsing, rambut yang tertata, serta penampilan yang serba lembut dan feminin, keberanian para kreator konten dan pencinta fesyen alternatif untuk tampil berbeda dapat menjadi tindakan politik atas tubuh. Mereka menunjukkan bahwa tubuh perempuan bukan ruang publik yang bebas dinilai, diatur, atau dikomentari oleh siapa pun. Tubuh perempuan adalah milik mereka sendiri. Bebas dihiasi, dieksplorasi, diubah, dan dirayakan tanpa harus meminta izin dari male gaze maupun validasi sosial.
Baca Juga: Bukan Cuma Nostalgia: Welcome Back 2NE1, ‘Ratu K-Pop’ yang Gebrak Standar Kecantikan Korea!
Lebih dari itu, subkultur juga dapat menciptakan ruang sosial bagi perempuan untuk saling mengapresiasi karya estetika dan kreativitas masing-masing. Relasi yang terbentuk tidak harus selalu didasarkan pada kompetisi untuk menjadi perempuan yang paling cantik atau paling menarik bagi laki-laki. Sebaliknya, komunitas dapat menjadi ruang untuk bertukar inspirasi, merayakan keberagaman penampilan, dan membangun solidaritas. Dalam ruang tersebut, kecantikan tidak lagi diposisikan sebagai perlombaan dengan satu standar pemenang. Melainkan sebagai sesuatu yang dapat memiliki banyak bentuk dan makna.
Melalui tumpukan aksesori yang meriah, gaun gelap yang misterius, riasan yang tebal, hingga permainan kontras warna yang mendobrak batas, perempuan merebut kembali otonomi atas tubuhnya. Subkultur tersebut menjadi ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan identitas, membangun solidaritas, dan menegaskan bahwa kecantikan tidak pernah tunggal. Ia dapat berwarna-warni, gelap, berlebihan, androgini, kekanakan, eksentrik, atau bahkan sengaja dibuat tidak “menyenangkan” bagi mata orang lain. Pada akhirnya, perlawanan estetika ini menyampaikan pesan yang sederhana tetapi tegas. Perempuan berhak menentukan tubuhnya sendiri, dan mereka tidak hadir di dunia ini hanya untuk menyenangkan mata orang lain.
Namun, kebebasan untuk tampil berbeda tidak berarti tanpa konsekuensi. Hingga hari ini, perempuan yang mengadopsi subkultur dan gaya berpakaian di luar standar arus utama masih menghadapi perundungan, prasangka buruk, seksualisasi, hingga pelecehan di ruang publik maupun ruang digital.
Baca Juga: Harus Glowing untuk Ngikutin Standar Kecantikan di Tiktok: Sejauh Apa Kita Mengejar yang Tak Realistis?
Mereka kerap dicap “mencari perhatian”, “aneh”, “berlebihan”, atau dianggap sengaja mengundang tatapan dan komentar orang lain. Ironisnya, ketika perempuan tampil sesuai dengan standar kecantikan dominan, mereka juga dapat dianggap terlalu berusaha mendapatkan perhatian. Ketika mereka menolak standar tersebut, mereka kembali dihukum karena dianggap berbeda. Situasi ini menunjukkan betapa kuatnya kontrol sosial terhadap tubuh perempuan: apa pun pilihan mereka, selalu ada standar yang merasa berhak menghakimi.
Karena itu, persoalannya bukan apakah masyarakat menyukai gaya Decora, Goth, Gyaru, atau subkultur lainnya. Tidak semua orang harus menyukai estetika tersebut. Yang lebih penting adalah mengakui hak perempuan untuk memilih bagaimana mereka ingin menampilkan dirinya. Pilihan fesyen tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan, melakukan perundungan, melakukan seksualisasi, atau menganggap seseorang pantas menerima pelecehan.
Pada akhirnya, perlawanan terhadap standar kecantikan tidak selalu hadir melalui demonstrasi atau slogan politik. Ia juga dapat muncul melalui hal-hal yang sehari-hari dianggap sepele. Memilih warna rambut, mengenakan pakaian tertentu, menumpuk aksesori, menggunakan riasan secara berlebihan, atau sekadar menolak terlihat seperti perempuan “ideal” yang dibentuk masyarakat. Ketika pilihan tersebut dilakukan dengan kesadaran dan menjadi bagian dari upaya mengambil kembali kendali atas tubuh, fesyen dapat menjadi bahasa politik.
Baca Juga: Tren Gyaru, Saat Perempuan di Jepang Mendobrak Standar Kecantikan
Perempuan yang memilih tampil berbeda sedang menunjukkan bahwa tubuh mereka bukan milik patriarki, industri kecantikan, maupun publik. Tubuh mereka bukan kanvas yang harus terus diperbaiki agar sesuai dengan selera zaman. Tubuh adalah ruang otonomi.
Selama perempuan masih harus menghadapi tekanan untuk memenuhi standar tertentu agar dianggap layak, cantik, feminin, atau pantas dihormati, keberanian untuk mengatakan “tubuh ini milikku” tetap menjadi bentuk perlawanan yang relevan.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(sumber foto: Aesthetic Wiki)





Comments are closed.