Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan

Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan

hidup-tak-seindah-dracin:-ada-delusi-kemewahan-dan-propaganda,-tapi-penonton-ketagihan
Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan
service

● Genre drama Cina kerap dicap receh, penuh klise, tidak realistis, tapi mampu mencapai popularitas global.

● Logika dracin tidak hanya melayani fantasi romantik, tetapi juga gairah ekonomi-politik.

● Dracin menggambarkan bagaimana soft power Cina bekerja secara paripurna.


“Harta, Tahta, Drama Cina,” demikian bunyi tajuk laporan Harian Kompas ketika merangkum fenomena masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi drama Cina (dracin).

Dracin kabarnya telah menjadi guilty pleasure, alias kesenangan yang berbalut rasa bersalah warga Indonesia. Mulai dari profesional, akademisi, mahasiswa, hingga pekerja lepas, mereka menonton kisah-kisah dalam Dracin.

Meski begitu, tak sedikit yang merasa malu mengakuinya di ruang publik. Alasannya sangat bisa dipahami. Genre ini dicap receh, penuh klise, dan kurang memiliki prestise artistik layaknya serial Barat atau realisme sinema serius.

Menganggap dracin sebatas hiburan selera rendah sebetulnya adalah kekeliruan besar. Di pentas global, popularitas Dracin nyatanya mampu mengguncang ruang hiburan layar kaca.

Popularitas drama Cina sudah mulai mengglobal.

Cuplikan tayangan drama pendek Cina berjudul My Little Happiness. IMDB, CC BY

Jika lapisan guilty pleasure ini dikupas lebih dalam, kita akan menemukan persimpangan menarik antara kerapuhan psikologis kelas menengah Indonesia dan diplomasi budaya canggih dari negara adidaya yang sedang bangkit tersebut.

Mengapa dracin ini populer bagi audiens Indonesia?

1. CEO Trope dan gairah ekonomi

Seperti diungkap Ien Ang, pakar kajian budaya dari Western Sydney University, konsumsi melodrama bukan soal rendahnya selera penonton, melainkan tentang realisme emosional.

Logika ini berlaku juga untuk dracin. Ia membentangkan pertunjukan ideal kehidupan berkeadilan nan sejahtera. Trope yang berulang—misalnya tentang kuasa CEO menentukan jodoh—bukan semata melayani fantasi romantik, tetapi juga gairah ekonomi-politik.

Lebih dari itu, plot dracin yang dianggap begitu-begitu saja justru memberikan kenyamanan ketika penonton menyaksikan orang jahat dipermalukan, orang baik mendapat imbalan, dan kekayaan seolah tak terbatas.

Hal itu jelas bermakna signifikan bagi penonton Indonesia. Mereka membutuhkan tontonan dengan akhir cerita bahagia di tengah perjuangan menavigasi ketahanan ekonomi pasca-pandemi yang penuh ketidakpastian dan stagnasi, serta ketidakadilan struktural, liminalitas mobilitas sosial, dan kesenjangan kelas.

2. Delusi kemewahan

Cina dalam representasi dracin adalah utopia hipermodern, bebas dari polusi, kemacetan, atau kritik politik. Padahal, dinamika yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari bisa jauh lebih kompleks.

Fantasi CEO kaya raya dalam drama Cina digemari penonton Indonesia yang tengah menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Cuplikan tayangan drama Cina berjudul Meet Yourself. IMDB, CC BY

Selain itu, daya tarik visual Dracin rupanya bekerja dengan logika estetika tertentu. Dracin dikonsumsi secara massif oleh warga Indonesia karena ia menawarkan perayaan kemewahan secara eksplisit.

Hal ini jelas kontras dengan bagaimana representasi Cina di (ruang media) Indonesia yang secara historis punya pengalaman traumatis terhadap bagaimana rezim militeristik Soeharto mendiskriminasi warga etnis Tionghoa.

Dampaknya, menjadi kaya bagi warga Tionghoa seolah merupakan aurat sosial yang musti ditutup rapat.

Dalam semesta dracin, yang terjadi adalah sebaliknya. Kekayaan harus terlihat, berkilau, higenis, dan sebisa mungkin simetris. Kepuasan, atau rasa malu, yang dirasakan publik saat menontonnya berasal dari alam bawah sadar bahwa kita sedang menikmati delusi, dan kelegaan yang dibawanya terlalu adiktif untuk dihentikan.

Di sini, dracin menawarkan kebalikan dari tren quiet luxury, atau kekayaan terselubung ala orang kaya lama. Ini bisa dijumpai dan sering dikaitkan dengan fenomena taipan lokal yang hanya memakai kaos oblong ketika mengunjungi pusat perbelanjaan.

Cara Cina mengekspor fantasi

Selain menjadi media eskapisme kultural, ternyata dracin juga menjadi instrumen konsolidasi pengaruh geopolitik.

Di titik ini, hal yang personal menjadi politis. Ada ironi mendalam di balik ledakan fantasi kapitalis yang ditawarkan dracin.

Di negeri di mana dracin diproduksi, Partai Komunis Tiongkok di bawah Xi Jinping justru berwajah garang menindak industri hiburan sejak akhir 2010-an. Mulai dari kampanye “Kemakmuran Bersama” (Common Prosperity) hingga larangan penggambaran “pria feminin” atau pamer kekayaan berlebihan (bai lan).

Namun, seperti diamati cendekiawan Zheng Yongnian, penetrasi budaya Cina ke peradaban lain jarang berasal dari usaha ekspor ideologi. Sebaliknya, pengaruh itu sering muncul dari perjumpaan regulasi domestik dan sirkulasi budaya yang digerakkan pasar di luar negeri.

Contohnya, platform siaran seperti WeTV dan iQIYI. Meski bukan bagian produk kebijakan formal, keduanya mampu memperluas kehadiran budaya Cina yang selaras dengan ambisi konektivitas global mereka.

Apa yang diekspor bukanlah ideologi negara, tetapi fantasi seputar kenikmatan gaya hidup glamor.

Propaganda lunak

Saat diplomasi keras “Wolf Warrior” Cina sering menimbulkan keresahan di tingkat pejabat lintas negara, budaya populer beroperasi di frekuensi yang berbeda.

Dracin menggambarkan bagaimana soft power atau diplomasi lunak bekerja secara paripurna. Titik tekannya menghujam pada aspek perasaan (afeksi), alih-alih melalui persuasi formal.

Logikanya begini: di saat Konfusius (lembaga promosi kebudayaan Cina) mungkin kesulitan menembus akar rumput masyarakat global, termasuk Indonesia, sebuah drama tentang pebisnis yang baik hati justru sukses memikat hati penontonnya.

Gambaran CEO yang berulang dalam dracin menjadi perantara budaya informal, menerjemahkan modernitas ekonomi Cina menjadi narasi yang intim dan mudah diterima secara emosional.

Drama Cina digemari audiens Indonesia karena menawarkan fantasi kemewahan, meski alur ceritanya berulang-ulang.

Poster salah satu tayangan drama pendek Cina. IMDB, CC BY

Suguhan narasi berulang-ulang ini seolah secara halus menormalisasi sentralitas ekonomi Cina. Alhasil, kekayaan, teknologi, dan modernitas negara Cina tampak sebagai sesuatu yang didambakan publik, bukan ancaman.

Pergeseran budaya yang terlanjur nyaman

Di level akar rumput, popularitas dracin di Indonesia menandakan pergeseran dalam konsumsi budaya kita. Kita telah bergerak dari American Dream ala Hollywood, main mata dengan gelombang Hallyu Korea, dan kini mulai nyaman dalam pelukan industri budaya Cina.

Di tengah dunia yang kacau, eskapisme merupakan mekanisme pertahanan diri yang sah. Menonton dracin adalah salah satunya.

Walakin, sebagai konsumen kritis, kita harus menyadari bahwa guilty pleasure bisa jadi bagian dari pertentangan pengaruh yang lebih besar.

Melalui Dracin, kita bukan saja mengonsumsi romansa, tetapi berpartisipasi dalam pergeseran budaya global.

Nyatanya, realitas kehidupan menjadi WNI tak seindah dramaturgi Dracin.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.