Sun,26 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Apa yang Terjadi Jika Tes DNA Anak Tidak Cocok dengan Ibu Kandung?

Apa yang Terjadi Jika Tes DNA Anak Tidak Cocok dengan Ibu Kandung?

apa-yang-terjadi-jika-tes-dna-anak-tidak-cocok-dengan-ibu-kandung?
Apa yang Terjadi Jika Tes DNA Anak Tidak Cocok dengan Ibu Kandung?
service

Jakarta

Tes Deoxyribonucleic Acid (DNA) sering dianggap sebagai cara paling pasti untuk mengetahui identitas seseorang. Dari sini, kita bisa tahu asal-usul dan hubungan kita dengan orang tua maupun keluarga.

Namun ternyata, ada kasus yang menunjukkan kalau DNA tidak selalu memberikan jawaban yang jelas. Buku berjudul Hidden Guests: Migrating Cells and How the New Science of Microchimerism Is Redefining Human Identity karya Lise Barnéoud menjelaskan terkait hal ini.

Dilansir dari laman Live Science, salah satunya dialami oleh seorang Bunda bernama Lydia Fairchild. Saat mengurus tunjangan untuk membesarkan kedua anaknya seorang diri, ia diminta untuk menjalani tes DNA.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa minggu kemudian, pihak layanan sosial menuduhnya bukan ibu dari anak-anaknya. Padahal ia jelas sudah melahirkan mereka, dan keluarga serta dokternya membenarkan hal itu.

Awalnya, Lydia Fairchild dicurigai berbohong tentang anak-anaknya. Pihak berwenang lalu melakukan pemeriksaan dan segera memastikan bahwa memang ada dua anak yang tinggal bersamanya.

Setelah tiga kali melakukan sidang, Fairchild merasa cemas dan takut kehilangan anak-anaknya, Bunda.

“Setiap hari rasanya seperti hari terakhir aku akan melihat mereka,” ujarnya.

“Aku menghubungi setiap pengacara di buku telepon. Tak satu pun dari mereka mempercayaiku. Itu hanya kata-kataku melawan DNA. Itu aku melawan semua orang,” tuturnya.

Saat itu, Fairchild sedang mengandung anak ketiganya. Hakim pun meminta agar ibu dan bayinya segera diuji setelah lahir. Hasilnya menunjukkan bahwa anak ketiganya juga secara genetik bukan putranya.

Lebih lanjut, seorang pengacara yang bernama Alan Tindell setuju membantunya. Ia menanyakan tentang kehidupan Fairchild, hubungannya dengan keluarga, dan Ayah dari anak-anaknya.

“Berdasarkan jawabannya, saya akhirnya memutuskan untuk mempercayainya,” jelas Tindell.

Sampai suatu hari, mereka memeriksa Fairchild lalu ditemukan sel-sel dengan DNA berbeda yang cocok dengan anak-anaknya dan ibunya. Tim menyimpulkan DNA itu berasal dari saudara kembar yang hilang.

Akhirnya, Fairchild bisa bernapas lega setelah semua terungkap. Ternyata, anggapan bahwa setiap orang hanya memiliki satu jenis DNA tidak selalu benar, Bunda.

Bukti genetik tak selalu tepat

Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa bukti genetik kerap dianggap paling pasti untuk mengetahui hubungan keluarga. Tapi kenyataannya, bukti ini juga tak selalu benar, Bunda.

Hal ini dibenarkan langsung oleh seorang ahli filsafat dan akademisi yang berbasis di Swedia, Margrit Shildrick.

“Asumsi utama dalam keadaan seperti itu adalah orang langsung menganggap ada yang curang, padahal masih ada bukti lain yang menunjukkan hubungan keluarga itu sebenarnya sah,” ungkapnya.

Sering kali, ilmu pengetahuan dianggap ‘mutlak’ dan kebenarannya tidak terbantahkan. Tapi terkadang, kita terlalu cepat yakin dan lupa kalau masih banyak yang belum kita pahami.

Kalau kasus Fairchild tidak muncul karena alasan lain, ia mungkin tidak akan pernah tahu bahwa ada sel selain selnya sendiri di tubuhnya. Anak-anaknya mungkin suatu hari juga mengetahui fakta genetik yang berbeda dalam keluarga mereka.

Fenomena ini dikenal sebagai kimerisme garis germinal, di mana beberapa sel tertentu hadir dalam jaringan yang membentuk sel telur atau sperma, Bunda.

Dengan semakin banyaknya tes DNA dilakukan, kemungkinan ada orang yang dianggap bukan ayahnya secara salah juga meningkat. Kasus ini menjadi bukti bahwa hasil genetik itu tidak selalu pasti.

Itulah penjelasan lengkap mengenai kemungkinan yang terjadi jika hasil tes DNA anak ternyata tidak cocok dengan ibu kandungnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.