
Ada sebuah paradoks yang tua, mungkin setua perang itu sendiri: keputusan besar sering lahir dari ketidaktahuan yang besar pula. Bukan sekadar salah hitung, melainkan salah memahami dunia. Sejarah mencatat berkali-kali bagaimana kekuasaan bertindak seolah-olah pengetahuan adalah milik mereka, padahal kenyataan selalu lebih luas daripada peta yang mereka bentangkan di atas meja.
Ketika kabar tentang kemungkinan perang antara Amerika dan Iran beredar, saya teringat sebuah kalimat bahwa perang bukan selalu hasil dari rencana jahat, melainkan sering kali akibat dari kesalahan perhitungan yang banal. Sebuah kekeliruan membaca lawan. Sebuah kepercayaan diri yang terlalu tinggi terhadap teori sendiri.
Mungkin itulah yang paling sederhana menjelaskan mengapa sebuah negara adidaya bisa memilih jalan perang: mereka tidak tahu. Atau lebih tepatnya, mereka merasa tahu. Padahal dunia hari ini tidak lagi terdiri dari garis-garis lurus yang mudah dipetakan.
Infrastruktur minyak dan gas di kawasan Teluk, jaringan industri petrokimia, distribusi obat-obatan, pupuk, hingga pestisida—semuanya terhubung dalam simpul yang rapuh. Hancurnya satu simpul bukan hanya soal energi yang berhenti mengalir, melainkan juga rantai kehidupan yang terputus. Dalam bahasa ekonomi politik, itu bukan sekadar krisis energi, melainkan krisis peradaban. Namun mengapa ketidaktahuan seperti itu terus berulang? Mengapa ilusi menjadi kebiasaan di pusat-pusat kekuasaan modern?
Saya pernah mendengar seorang dosen ilmu politik—mengeluh panjang tentang legislasi. Ia berkata dengan nada lelah: pengetahuan yang hanya bertugas “menjelaskan” dunia sering kali tidak mampu mengubah dunia. Ia menyebutnya pengetahuan eksplanatoris: mekanistik, kausal, rapi seperti diagram. Pengetahuan yang memuaskan logika, tetapi gagal menyentuh kenyataan.
Kalimat itu mengingatkan saya Tentang rasionalitas modern. Bahwa dunia modern bisa menjadi sebuah “kandang besi” (iron cage)—sebuah sistem yang sangat rasional, sangat efisien, tetapi kehilangan jiwa. Dalam kandang itu, manusia percaya bahwa setiap persoalan dapat dipecahkan dengan rumus, statistik, dan model. Mereka lupa bahwa masyarakat bukan mesin.
Di kampus-kampus Barat, pengetahuan eksplanatoris memang menjadi raja. Jurnal ilmiah bergengsi menjadi semacam panggung besar tempat para ahli berlomba-lomba menjelaskan dunia dengan presisi metodologis. Siapa yang paling mampu menjelaskan fenomena, dialah yang dianggap paling otoritatif. Seolah-olah kebenaran adalah milik mereka yang memiliki data paling banyak.
Tetapi kehidupan sering menertawakan teori. Saya pernah terlibat—kadang hanya sebagai saksi—dalam proses perumusan kebijakan. Timnya diisi oleh para pakar terkemuka, orang-orang yang reputasinya tak diragukan. Mereka berbicara dengan bahasa yang rapi, penuh istilah teknis, penuh model analitis. Namun ketika kebijakan itu diterapkan, hasilnya sering meleset jauh dari harapan.
Bukan karena mereka bodoh. Melainkan karena mereka terlalu percaya pada pengetahuan yang mereka kuasai. Di sinilah letak bahaya mentalitas hegemoni pengetahuan. Ketika pengetahuan diperlakukan sebagai alat dominasi, bukan sebagai sarana memahami kehidupan, ia berubah menjadi ilusi. Kekuasaan lalu memakai ilusi itu sebagai legitimasi.
Padahal pengetahuan dan kekuasaan selalu berjalan bersama. Pengetahuan tidak pernah netral; ia selalu berada dalam jaringan kepentingan. Dalam tangan kekuasaan, pengetahuan bisa menjadi alat penertiban, bahkan penindasan. Itulah sebabnya dunia modern sering tampak kacau meskipun dipenuhi oleh para ahli.
Kita hidup dalam zaman yang penuh gelar akademik, tetapi miskin kebijaksanaan. Kita memiliki teknologi canggih, tetapi gagal menjaga keseimbangan alam. Kita memproduksi pangan dalam jumlah besar, tetapi tetap dihantui ancaman kelaparan. Kita berbicara tentang demokrasi dengan retorika tinggi, tetapi praktiknya sering terasa hampa.
Barangkali masalahnya bukan kekurangan ilmu. Barangkali masalahnya adalah kekurangan niat baik. Di desa-desa, orang tua sering memberi nasihat sederhana: makan secukupnya, bekerja dengan jujur, menjaga tanah agar tetap subur. Nasihat itu tidak pernah dimuat dalam jurnal internasional. Tidak pernah dipresentasikan dalam konferensi global. Namun ia mengandung kebijaksanaan yang telah menjaga kehidupan selama berabad-abad.
Pengetahuan seperti itu tidak spektakuler. Tidak rumit. Tidak “ndakik-ndakik”. Tetapi ia nyata. Barangkali bangsa ini—dan juga dunia—tidak sedang membutuhkan lebih banyak teori. Yang dibutuhkan adalah komitmen moral. Sebuah kesediaan untuk bertindak berdasarkan kejujuran, bukan sekadar kecerdasan.
Sebab pada akhirnya, pengetahuan yang paling berguna bukanlah yang paling mampu menjelaskan dunia, melainkan yang paling mampu memperbaikinya. Dan sejarah selalu menunjukkan satu hal yang sederhana: peradaban runtuh bukan karena kekurangan pengetahuan, melainkan karena kehilangan hati.[]





Comments are closed.