Arina.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuntut agar Iran menyerah tanpa syarat di tengah perang kedua negara yang semakin brutal. Pasukan gabungan teroris AS dan Israel–julukan yang dibuat Iran kepada dua negara tersebut–terus membombardir Teheran.
AS dan Israel bahkan tanpa malu mengebom sebuah sekolah hingga menewaskan ratusan anak-anak tidak berdosa. Serangan yang mereka mulai tersebut segera dibalas oleh Teheran dengan membombardir Israel dan sejumlah aset milik Amerika di Timur Tengah menggunakan roket. Hingga hari ke tujuh perang ini, kedua belah pihak masih dalam posisi konfrontasi.
Trump, dalam beberapa laporan media dan unggahan di media sosial bahkan mulai mengembangkan narasi agama dalam serangan ke Iran tersebut. Pemerintah AS membagikan video ketika ia didoakan oleh para pendeta di kantornya.
Tak berselang lama dari momentum beredarnya video tersebut, Trump kembali muncul di depan publik dengan pernyataan tegas kepada Iran, yakni meminta negeri para Mullah tersebut “menyerah tanpa syarat”.
“Tak akan ada kesepakatan apa pun dengan Iran, kecuali (Iran) menyerah tanpa syarat! Setelah itu, dan setelah pemilihan pemimpin baru yang hebat dan dapat diterima, kami dan para sekutu yang hebat dan pemberani akan bekerja tanpa lelah menyelamatkan Iran dari jurang kehancuran,” kata Trump melalui akun media sosial Truth Social miliknya, Sabtu 7 Maret 2026.
Trump pun mengatakan akan memastikan ekonomi Iran menjadi lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari sebelumnya. “Iran pun akan memiliki masa depan yang amat cerah,” katanya, seperti dikutip dari Anadolu.
Ketegangan di kawasan Teluk terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, hingga menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, sejumlah 150 murid sekolah, dan pejabat senior militer.
Iran kemudian meluncurkan serangkaian serangan balasan terhadap pangkalan militer, fasilitas diplomatik, dan personel militer milik AS di kawasan dan sejumlah kota di Israel. Intensitas serangan tersebut terus meningkat.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Kamis 5 Maret 2026, mengatakan bahwa otoritas Iran telah salah mengira jika Washington tak dapat mengejar laju operasi militer mereka.
“Iran berharap kami tidak dapat bertahan, tetapi hal tersebut merupakan miskalkulasi besar bagi IRGC di Iran,” kata Hegseth, merujuk pada Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Dia menambahkan bahwa AS tidak kekurangan tekad apa pun, seraya menegaskan persediaan senjata ofensif maupun defensif AS masih sangat cukup untuk melanjutkan serangan sampai kapan pun hingga AS mencapai tujuan perangnya.
Iran tetap melawan
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa beberapa negara terlibat dalam upaya mediasi untuk mengakhiri perang, menekankan bahwa Iran berkomitmen pada perdamaian di kawasan tersebut tetapi siap untuk membela diri.
“Mediasi harus ditujukan kepada mereka yang meremehkan rakyat Iran dan memicu konflik ini,” kata Pezeshkian dalam sebuah pernyataan di media sosial.
Para pejabat Iran telah menyatakan sikap menantang sejak awal perang, menekankan bahwa mereka siap untuk konflik yang panjang dan siap untuk menangkis invasi darat AS jika itu terjadi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam sebuah pesan kepada Trump pada hari Kamis bahwa rencana AS untuk “kemenangan militer yang bersih dan cepat telah gagal”.
“Rencana B Anda akan menjadi kegagalan yang lebih besar,” tulis Araghchi di X.
Pada hari Jumat, diplomat tertinggi Iran mengunggah foto peti mati seorang ibu dan anak, yang tampaknya menjadi korban serangan AS-Israel. “Angkatan Bersenjata Kita yang Berani dan Perkasa akan membalas dendam atas setiap ibu, ayah, dan anak Iran yang telah menjadi sasaran kekuatan musuh,” tulis Araghchi.





Comments are closed.