Mamalia bukanlah kelompok hewan dengan jumlah spesies terbanyak di dunia. Mamalia hanya memiliki 6.800 spesies, lebih sedikit dibandingkan amfibi yang memiliki sekitar 8.800 spesies, burung 11.000 spesies, dan reptil 12.500 spesies.
Meski begitu, kebanyakan orang umumnya langsung memikirkan mamalia—seperti panda, orangutan, gajah, atau harimau—ketika membayangkan keanekaragaman hayati. Hewan-hewan itu biasa disebut mamalia karismatik alias hewan yang menarik perhatian.
Menarik perhatian bisa juga berarti menarik masalah. Tak heran, mamalia menjadi organisme yang paling banyak diteliti—sekaligus yang paling terancam.
Dalam daftar status konservasi spesies internasional, satu dari empat spesies mamalia termasuk ketegori rentan, terancam punah, atau terancam kritis.
Namun, karena sibuk meneliti berbagai mamalia yang ada, para ilmuwan sangat jarang untuk fokus menemukan atau mendeskripsikan spesies mamalia baru.
Penemuan olinguito (Bassaricyon neblina)—mirip kuskus—di Amerika Latin sempat menggemparkan dunia karena menjadi mamalia karnivora baru pertama yang diidentifikasi di benua Amerika dalam 35 tahun.
Pada 2017, bukti DNA juga mengungkap bahwa dunia ternyata memiliki tujuh spesies kera besar—bukan enam seperti yang sebelumnya diyakini. Sebab, orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies yang berbeda: kera besar baru pertama yang berhasil diidentifikasi dalam hampir satu abad belakangan.
Menemukan spesies baru sudah sangat menarik. Namun mengidentifikasi genus baru adalah hal yang lebih luar biasa.
Genus adalah kelompok taksonomi yang mencakup satu atau lebih spesies. Ia berada satu tingkat di atas spesies dalam sistem klasifikasi Linnaeus yang dikembangkan oleh Carl Linnaeus. Contohnya, dalam nama ilmiah Homo sapiens, Homo adalah genusnya, dan sapiens adalah spesiesnya.
Di seluruh dunia hanya ada sekitar 1.300 genus mamalia yang masih hidup.
Penemuan genus mamalia yang benar-benar baru sangat jarang terjadi—bahkan mungkin hanya beberapa kali dalam setahun. Misalnya Nagasorex, sejenis celurut khas dari Nagaland, India yang ditemukan pada 2025.
Ada juga Paucidentomys, seekor hewan pengerat dari Sulawesi pada 2012; dan Laonastes, tikus batu dari Laos yang ditemukan pada 2005.
Karena itu, menetapkan genus baru adalah peristiwa langka dan sebuah keistimewaan tersendiri. Dan itulah yang baru saja kami lakukan—mendeskripsikan genus baru dari seekor marsupial atau kuskus kecil yang bisa meluncur di udara. Kami menemukannya hidup di Papua, Indonesia.
Read more: Riset: Sapi Indonesia punya jejak DNA banteng liar, tertinggi di sapi madura
Penemuan spesies Lazarus
Kisah kami bermula dari sebuah foto.
Pada 2015, seorang pekerja perkebunan di Papua menangkap seekor marsupial penghuni pohon yang tidak dikenalnya. Ia memotretnya beberapa kali. Kami tidak dapat menyebutkan namanya, karena lokasi penemuan harus dirahasiakan.
Pekerja tersebut terlibat dalam proyek pemantauan keanekaragaman hayati berbasis warga (sains warga) yang kami inisiasi di Indonesia.
Dalam proyek ini, kami meminta pekerja perkebunan memotret atau merekam setiap suara satwa liar yang mereka temui saat bekerja.

Makhluk bermata besar dengan bulu cokelat dan telinga tanpa bulu ini secara sekilas mirip greater glider atau kelompok kuskus peluncur dari Australia. Namun, ada beberapa perbedaan jelas. Foto tersebut menunjukkan adanya patagium (selaput luncur) serta ekor yang dapat mencengkeram, berbulu di bagian atas tapi tidak di sisi bawahnya.
Hewan itu tidak cocok dengan spesies apa pun yang diketahui dari Papua Nugini. Ketika meneliti foto tersebut, kami menyadari kemiripannya dengan seekor kuskus yang sebelumnya hanya dikenal dari beberapa fosil tulang.
Fosil tersebut, yang awalnya dinamai Petauroides ayamaruensis, ditemukan puluhan tahun lalu di situs arkeologi di Papua Barat dan kemudian juga di Papua Nugini.
Tulang-tulang itu berasal dari anggota kecil kelompok kuskus peluncur Australia yang disebut hemibelidines, atau kuskus ekor cincin.
Terakhir kali, garis keturunan ini diyakini hanya ada di Australia timur. Di Pulau Papua yang sangat luas dan kaya keanekaragaman hayati, tidak ada bukti keberadaannya. Para ilmuwan bahkan menduga hewan ini telah punah sekitar 6.000 tahun lalu.
Namun, foto tersebut menunjukkan bahwa dugaan itu salah. Apa yang kami lihat tampaknya merupakan “spesies Lazarus”: salah satu spesies yang menghilang dari catatan fosil, lalu muncul kembali.
Contoh “spesies Lazarus” yang terkenal lainnya adalah coelacanth, ikan besar yang selama 66 juta tahun dianggap telah punah sebelum akhirnya ditemukan kembali di lepas pantai Afrika Selatan pada 1938.
Read more: Riset: Populasi hewan langka anoa dan babirusa di pulau kecil lebih tangguh, meski jumlahnya sedikit
Memperkenalkan genus baru: Tous
Untuk memastikan bahwa ini memang genus baru, kami menganalisis foto-foto tersebut secara teliti dan membandingkannya dengan gigi fosil yang ditemukan di Papua serta sisa-sisa fosil lainnya yang lebih baru dari tempat lain di Papua Nugini.
Pada mamalia, ukuran dan bentuk gigi—termasuk tonjolan kecilnya—sangat penting untuk membedakan satu spesies dari yang lain.
Analisis kami dari fosil dan foto tersebut menunjukkan bahwa semuanya merujuk pada hewan yang sama.
Untuk mengonfirmasi, kami juga memanfaatkan pengetahuan dari masyarakat adat setempat yang sejak lama mengenal hewan ini. Bahkan beberapa kelompok suku di wilayah tersebut menganggapnya hewan suci.
Informasi ini menegaskan bahwa hewan tersebut bukan hanya individu yang masih hidup dari spesies yang sebelumnya hanya dikenal dari fosil, tetapi juga cukup berbeda untuk disebut sebagai genus baru. Kami kemudian menamainya Tous.
“Tous” adalah istilah lokal yang digunakan untuk menyebut spesies hutan ini, yang oleh masyarakat setempat dikenal berbeda dari kuskus peluncur yang lebih kecil.
Dalam wawancara dengan pemilik tanah adat, para tetua mengenali hewan dalam foto sebagai “Tous wansai”, membedakannya dari marsupial arboreal (penghuni pohon) lain yang serupa.
Temuan ini sangat langka. Menetapkan genus baru berarti mengidentifikasi garis keturunan yang telah berevolusi secara terpisah selama jutaan tahun.
Dalam kasus ini, bukti menunjukkan bahwa Tous termasuk garis keturunan kuskus yang sangat tua—yang dulu mungkin hidup dari Australia hingga Papua Nugini.
Dan sekarang, ia hanya bertahan di sebagian kecil hutan Papua yang rawan.
Pengetahuan tradisional menunjukkan bahwa Tous bersarang di lubang-lubang pohon pada pohon tertinggi di hutan hujan. Seperti halnya greater glider di Australia, hewan ini juga rentan kehilangan habitat karena ancaman penebangan hutan yang masif.
Melindungi spesies baru
Kerentanan spesies ini adalah hal yang paling kami khawatirkan.
Ketika kami secara resmi mendeskripsikan Tous, kami tidak mengungkap lokasi pasti tempat foto pertama diambil. Kami juga tidak menyebut nama pemilik tanah adat setempat karena alasan yang sama.
Dengan mata besar yang tajam, bulu lembut, dan ekor yang bisa mencengkeram, Tous pasti akan sangat menarik bagi para penyelundup satwa liar.
Di era saat ini, ketika perdagangan satwa banyak dipicu oleh media sosial, daya tarik hewan ini bisa menjadi ancaman besar. Spesies yang baru ditemukan terkadang langsung menghadapi eksploitasi tak lama setelah diumumkan.
Sebagai contoh, hanya butuh 22 tahun antara penemuan kembali badak jawa di Vietnam pada 1988 hingga ia dipastikan punah akibat perburuan liar pada 2010.

Melindungi Tous tidak akan mudah. Kita masih belum mengetahui wilayah sebarannya secara pasti. Namun, semua bukti menunjukkan bahwa hewan ini terbatas pada wilayah kecil di Papua yang hutannya sedang terancam penebangan dan ekspansi pertanian.
Bahkan dalam foto-foto ketika ditemukan, terlihat sisa penebangan dan perkebunan kelapa sawit di latar belakang gambar.
Masyarakat setempat mengatakan hewan ini hidup berpasangan dan monogami (hanya memiliki satu pasangan), serta hanya melahirkan satu anak dalam setahun. Tingkat reproduksi yang kemungkinan rendah ini membuatnya sangat rentan terhadap perburuan dan kehilangan habitat.
Pengetahuan yang membawa kami pada penemuan ini tidak hanya berasal dari fosil dan foto, tetapi juga dari komunitas lokal yang telah mengenal hewan ini selama beberapa generasi.
Jika upaya konservasi dibangun di atas pengetahuan lokal tersebut—dan jika masyarakat memperoleh keuntungan dari menjaga satwa liar tetap hidup daripada menangkap atau menjualnya—maka Tous akan tetap ada, melanjutkan keturunannya sekaligus memiliki masa depan yang aman.




Comments are closed.