Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Bisikan dan Podium

Bisikan dan Podium

bisikan-dan-podium
Bisikan dan Podium
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Ketua AAKBIndo, Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com


KATA PEMRED #2
PinterPolitik.com

“Ada yang lebih keras dari kritik. Yaitu diam yang tahu kapan harus berbicara – dan kepada siapa.”
– Wim Tangkilisan

Sokrates tidak pernah menulis satu baris pun. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia percaya bahwa kebenaran adalah makhluk hidup yang hanya bisa lahir dari pertemuan dua jiwa yang bersedia saling menatap.

Bukan dari podium. Bukan dari kerumunan yang sudah sepakat sebelum diskusi dimulai. Ia turun ke jalanan, duduk di teras rumah, menyapa satu demi satu — seperti seorang peladang yang tahu bahwa benih hanya tumbuh jika ditanam di tanah yang tepat, bukan disebarkan ke angin.

Ia mati karena kepercayaan itu. Tetapi ajarannya hidup dua setengah ribu tahun, melampaui seluruh nama para penghakimnya.

Saya memikirkan Sokrates — dan saya memikirkan Bapak Jusuf Kalla — ketika membaca berita-berita dari kawasan Jakarta Selatan pada pertengahan Maret ini.

Sorotan ke Brawijaya

Di sebuah rumah di Jalan Brawijaya Raya, dalam rentang waktu yang tidak sampai dua pekan, sebuah panggung telah dibangun berlapis-lapis seperti sedimen sejarah.

Pertama datang para penjaga gagasan — Feri Amsari, Yanuar Nugroho, Sudirman Said, aktivis dan akademisi yang membawa keresahan intelektual tentang arah bangsa.

Lalu para diplomat senior, mantan duta besar yang telah puluhan tahun membawa nama Indonesia di meja-meja dunia. Kemudian para profesor, guru besar yang memikul angka-angka fiskal dan kekhawatiran tentang otonomi daerah yang mulai terasa rapuh.

Di antara semuanya, tuan rumah menerima pula Duta Besar Iran — membahas bara api di Selat Hormuz, seolah rumah itu telah menjelma menjadi pusat gravitasi geopolitik yang berdetak sejajar dengan kanal-kanal resmi negara.

Tuan rumahnya adalah Bapak Jusuf Kalla.

Ihwal yang membuat semua ini memiliki bobot tersendiri adalah kenyataan bahwa seluruh rangkaian itu berlangsung di bulan yang sama ketika Bapak JK hadir di Istana Merdeka, duduk semeja dengan Presiden Prabowo atas undangan langsung darinya.

Malam yang hangat, lintas generasi, penuh niat baik. Di sana — di dalam keintiman yang langka itu — beliau bertanya langsung kepada Presiden tentang kebijakan dagang dengan Amerika Serikat.

Satu pertanyaan kemudian tidak bisa saya lepaskan, seperti duri yang menempel di kain, jika ada kekhawatiran yang jauh lebih besar dari sekadar kebijakan dagang — tentang geopolitik yang bergeser, tentang fiskal yang mencekik, tentang arah kepemimpinan nasional — mengapa kekhawatiran itu tidak disampaikan di sana? Di meja yang sama. Kepada orang yang sama. Ketika kesempatan itu ada, terbuka, dan hangat.

Seneca menulis kepada Lucilius: nasihat yang diberikan di hadapan orang banyak adalah pertunjukan. Nasihat yang sesungguhnya adalah yang dibisikkan langsung — ke telinga yang bisa mengubah sesuatu, dengan keberanian yang tidak membutuhkan penonton untuk menyaksikannya.

The Space of Appearance

Kahlil Gibran pernah berkata bahwa kita berbicara satu sama lain dalam kata-kata yang tidak mengungkapkan apa-apa, tetapi dalam cara kita memilih diam dan cara kita memilih berbicara — di situlah seluruh jiwa kita terungkap.

Sementara seorang sosiolog Jerman bernama Max Weber mewariskan pembedaan yang terasa seperti pisau bedah, Gesinnungsethik — etika keyakinan, di mana tanggung jawab selesai di ujung niat; versus Verantwortungsethik — etika tanggung jawab, di mana seseorang menanggung akibat dari cara yang dipilih, bukan hanya dari kehendak baiknya.

Weber wafat 105 tahun silam. Tetapi pembedaan itu berdiri tegak pagi ini, segar seperti tanah setelah hujan.

Saya tidak meragukan keprihatinan Bapak JK. Orang yang mendamaikan Poso bukan dengan konferensi pers, melainkan dengan dialog tertutup yang melelahkan — orang yang menengahi Mindanao, duduk di antara dua pihak yang saling membenci, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan — ia tidak bertindak tanpa kepedulian yang berakar dalam.

Beliau pun dua kali merasakan dari dalam betapa rumitnya memimpin negeri ini: keputusan selalu harus diambil dengan informasi yang tidak pernah lengkap, dalam waktu yang tidak pernah cukup.

Pablo Neruda menulis tentang negarawan yang tubuhnya menyimpan ingatan tentang tanah yang ia jaga — dan ingatan itu, justru karena dalamnya, menuntut cara yang lebih cermat, bukan lebih keras.

Justru karena itu, pertanyaan Weber menjadi mendesak: sudahkah cara ini melewati timbangan yang lebih berat — bukan hanya timbangan niat, melainkan timbangan akibat?

Apa yang terjadi kepada kepercayaan publik ketika kebenaran dipilih untuk disampaikan dari panggung ini, kepada audiens yang berulang kali berganti dalam dua pekan?

Hannah Arendt, yang melarikan diri dari kekejaman abad dua puluh dan menghabiskan hidupnya memikirkan bagaimana manusia hadir di ruang publik, menulis tentang the space of appearance — ruang di mana seseorang tampil dan dengan tampilnya itu membangun siapa dirinya di mata dunia.

Ketika seseorang memasuki ruang publik, ia tidak sekadar menyampaikan pendapat. Ia melakukan sesuatu yang dampaknya tidak bisa ditarik kembali, seperti batu yang dilempar ke dalam telaga — riak-riaknya menjalar jauh melampaui niat si pelempar.

Setiap kali pintu Brawijaya terbuka untuk gelombang tamu baru, sesuatu bergeser di ruang publik: narasi tentang siapa yang berwenang berbicara atas nama kepentingan nasional, tentang seberapa kokoh pemerintahan yang sedang berjalan.

Arendt mengingatkan bahwa keberanian sejati bukan keberanian tampil di depan kamera — melainkan keberanian berbicara langsung kepada kekuasaan, dari muka ke muka, tanpa penonton yang siap bertepuk tangan jika ditolak.

Bapak JK memiliki keberanian itu. Ia telah membuktikannya berkali-kali. Maka pertanyaannya bukan tentang keberaniannya — melainkan tentang panggung yang dipilih.

Ibn Khaldun, sejarawan Islam yang mempelajari naik-turunnya dua ratus dinasti, menemukan pola yang berulang seperti musim: keruntuhan hampir selalu dimulai bukan dari musuh di luar gerbang, melainkan dari dalam — dari para penasihat senior yang mulai bergerak di luar kanal resmi, bukan karena jahat, justru karena merasa paling tahu.

Ia menyebutnya penggerusan ‘asabiyyah — ikatan kohesi yang menjadi fondasi otoritas. Fondasi yang retak dari dalam tidak bisa diperkuat dari luar.

Saya tidak mengatakan itulah yang sedang terjadi. Tetapi Ibn Khaldun tidak bisa saya usir dari pikiran ketika membaca berita-berita itu.

Weber, Arendt, Ibnu Khaldun — tiga pemikir dari benua dan abad yang berbeda — berbagi satu keyakinan yang sama: cara adalah bagian dari kebenaran itu sendiri, bukan sekadar kemasannya. Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang menggerus kepercayaan publik bukan sepenuhnya kebenaran — ia kebenaran yang bercampur dengan sesuatu yang lain, meski pelakunya sendiri belum tentu menyadarinya.

Kearifan Negarawan

Edmund Burke membedakan politikus dari negarawan dengan satu garis yang tegas: politikus berpikir tentang pemilu berikutnya, negarawan berpikir tentang generasi berikutnya.

Politikus bertindak agar terlihat benar. Negarawan bertindak agar sesuatu yang benar benar-benar terjadi — meski tak ada yang menyaksikannya.

Dan ada bahasa lain yang terasa lebih dekat di dada. Dalam tradisi gamelan Jawa, ada pamurba lagu — pemegang otoritas melodi, yang menentukan arah dan menanggung akibat dari setiap nada yang salah.

Ada pula pamangku lagu — penopang irama, pengalaman yang menjaga agar keberanian tidak kehilangan pijakannya, agar melodi yang paling tinggi pun tidak kehilangan bumi. Dua peran itu saling membutuhkan seperti napas dan paru-paru.

Presiden Prabowo adalah pamurba yang memegang mandat. Bapak JK — dengan seluruh kedalaman zamannya — adalah pamangku yang paling berharga yang kita miliki.

Tetapi pamangku yang bermain melodi sendiri di panggung lain tidak lagi menopang. Ia menciptakan disonansi.

Dan disonansi tidak diselesaikan dengan bermain lebih keras. Ia diselesaikan dengan kembali ke titik yang sama — duduk bersama, menyamakan nada, menemukan irama yang bisa ditanggung bersama. Itulah rembug. Itulah yang absen dari Brawijaya: bukan keprihatinannya, melainkan kesediaan untuk menyampaikan keprihatinan itu langsung kepada orang yang bisa mengubah sesuatu — tanpa penonton, tanpa siaran pers, tanpa nama-nama besar yang mengangguk di belakang.

Percakapan Negarawan

Masa depan bukan satu garis lurus yang kaku — ia adalah beberapa jalan yang bercabang di persimpangan yang sama, dan yang menentukan bukan angin sejarah, melainkan satu keputusan kecil yang bisa diambil hari ini.

Ada jalan di mana Bapak JK memilih sunyi yang bermartabat — menyampaikan keberatan langsung, menjadi pamangku yang sesungguhnya, berbicara dari hati ke hati di balik pintu tertutup.

Jalan ini tidak menghasilkan tepuk tangan. Tetapi kebenaran yang disampaikan ke telinga yang bisa menggunakannya selalu lebih dalam bekasnya dari kebenaran yang diserukan ke udara terbuka.

Edmund Burke menyebutnya prudence — kearifan yang tidak perlu membuktikan dirinya kepada penonton.

Ada jalan lain di mana ketegangan ini menggerus perlahan, seperti arus bawah laut yang tidak terlihat dari permukaan tetapi mengubah bentuk dasar samudra.

Dua pusat gravitasi yang berbicara kepada audiens yang berbeda, sementara Indonesia membutuhkan satu arah.

Dalam kekaburan itulah para pemain yang lebih kecil — yang lebih oportunistik, yang lebih sedikit terikat oleh cinta kepada negeri ini — menemukan celah. Ibn Khaldun menyaksikan pola ini dalam dua ratus dinasti, dan tidak satu pun berakhir dengan baik bagi siapapun.

Namun, ada juga kemungkinan yang paling ironis dan paling indah sekaligus: bahwa justru Presiden Prabowo yang akan membutuhkan JK — bukan karena kalah, melainkan karena cerdas.

Reputasi Bapak JK di dunia Islam, Teheran, hingga OKI, adalah aset yang tidak bisa dibeli atau dibangun dalam semalam.

Pemimpin besar tidak menciptakan musuh permanen — ia mengubah pengkritik menjadi kontributor, seperti tanah yang menyerap hujan bahkan dari awan yang paling gelap sekalipun.

Marcus Aurelius menulis dalam buku harian yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca orang lain: “Bila seseorang bisa membuktikan bahwa aku salah, aku akan dengan gembira mengubah pikiranku. Aku mencari kebenaran, yang tidak pernah merugikan siapapun.”

Saya yakin Bapak JK dan Presiden Prabowo sama-sama bisa mengucapkan kalimat itu dengan jujur. Keduanya bukan orang yang takut pada kebenaran. Keduanya pernah berdiri di persimpangan di mana satu keputusan menentukan nasib banyak orang.

Maka yang saya rindukan — dengan seluruh hormat kepada Bapak JK, dan seluruh kepercayaan kepada Presiden Prabowo — adalah percakapan yang seharusnya sudah terjadi: dua orang, satu meja, tanpa kamera, tanpa siaran pers.

Hanya dua orang yang mencintai negeri ini, mungkin dengan cara yang berbeda, bicara jujur tentang apa yang mereka lihat dan apa yang mereka takutkan. Seperti yang Kahlil Gibran bayangkan tentang persahabatan sejati: dua jiwa yang tidak bersembunyi di balik topeng kesantunan, melainkan berani saling menatap dalam terang yang sesungguhnya.

Sokrates tidak menulis apa-apa. Tetapi setiap percakapannya mengubah seseorang — dan perubahan yang dimulai dari satu ruangan selalu lebih dalam dan lebih abadi dari perubahan yang dimulai dari keramaian.

Minta waktunya, Pak. Bukan untuk tampil. Bukan untuk didengar publik. Melainkan untuk berbicara — seperti yang pernah Bapak lakukan di Poso, di Mindanao, di setiap ruang sunyi yang akhirnya melahirkan perdamaian. Bisikan yang tepat kepada telinga yang tepat selalu mengubah lebih banyak hal daripada suara yang paling keras di podium manapun. Dari pamangku kepada pamurba. Dari tiga zaman kepada zaman keempat. Cukup setengah jam. Di Istana. Itu jauh lebih bermartabat — dan jauh lebih berdampak — dari podium manapun di Brawijaya.

**********************


Tentang Penulis

Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc. adalah CEO & Founder PT Sentral Data Utama (SDU), Ketua Asosiasi Ahli Kecerdasan Buatan Berbasis Kompetensi Indonesia (AAKBIndo), dan Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com. Ia secara konsisten menulis tentang kepemimpinan strategis, geopolitik, dan tata kelola nasional Indonesia.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.