Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Harga Daging Meugang Tinggi, NU Aceh: Momentum Berbagi dan Perkuat Ukhuwah

Harga Daging Meugang Tinggi, NU Aceh: Momentum Berbagi dan Perkuat Ukhuwah

harga-daging-meugang-tinggi,-nu-aceh:-momentum-berbagi-dan-perkuat-ukhuwah
Harga Daging Meugang Tinggi, NU Aceh: Momentum Berbagi dan Perkuat Ukhuwah
service

Banda Aceh, NU Online

Harga daging pada meugang pertama dan kedua menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah di sejumlah wilayah Aceh berada di kisaran Rp170 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Meski tergolong tinggi, antusiasme masyarakat tetap tinggi dalam menyambut tradisi tahunan yang telah mengakar dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Aceh.

Di Kabupaten Bireuen, aktivitas jual beli daging tampak ramai sejak pagi hari. Pedagang telah menempati lapak sejak dini hari, khususnya di kawasan eks rel kereta api di Kecamatan Kota Juang. Daging sapi segar dijual sekitar Rp180 ribu per kilogram, sementara tulang iga atau rusuk berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Pantauan NU Online di Kabupaten Pidie Jaya, seperti di Pasar Ulee Glee, menunjukkan harga daging berada pada kisaran Rp180 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan lokasi penjualan. Meski harga relatif tinggi, masyarakat tetap memadati pasar untuk membeli daging sebagai bagian dari tradisi meugang.

Sementara itu, harga tertinggi terpantau di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), yang mencapai Rp200 ribu per kilogram. Tingginya harga tersebut tidak menyurutkan minat masyarakat, meskipun pembelian umumnya dilakukan dalam jumlah terbatas.

Di Kota Sabang, harga daging kualitas satu berada di angka Rp180 ribu per kilogram, sedangkan kualitas dua dijual Rp160 ribu per kilogram. Tingginya minat beli masyarakat membuat sejumlah lapak pedagang bahkan habis terjual sebelum memasuki waktu siang.

Seorang pedagang daging di Gampong Cot Bau, Sabang, Arju, mengatakan bahwa harga daging masih dalam kisaran normal. Ia menyebutkan, selain daging, bagian lain seperti tulang dan hati juga banyak diminati masyarakat.

“Untuk tulang super kami jual Rp120 ribu per kilogram, tulang biasa Rp80 ribu, dan hati Rp160 ribu per kilogram. Harga tersebut masih bisa dijangkau masyarakat,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).

Ia menambahkan, sejak membuka lapak pukul 06.00 WIB, pembeli terus berdatangan hingga seluruh dagangannya habis sekitar pukul 11.00 WIB. Hal ini menunjukkan tingginya permintaan masyarakat pada momen meugang.

Di tengah harga yang relatif tinggi, tradisi meugang tetap dijalankan sebagai bagian dari identitas budaya dan keagamaan masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas konsumsi, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial dan berbagi kebahagiaan menjelang hari raya.

Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menjelaskan bahwa meugang memiliki akar sejarah panjang sejak masa Kesultanan Aceh. Pada masa itu, para sultan membagikan daging kepada masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap rakyat.

“Secara historis, meugang merupakan tradisi yang diwariskan sejak era kesultanan. Ini menunjukkan bahwa nilai keadilan sosial telah lama hidup dalam masyarakat Aceh,” ujarnya.

Menurutnya, hingga kini nilai filosofis tersebut tetap terjaga dalam praktik meugang. Tradisi ini menjadi momentum penting untuk berbagi rezeki, mempererat silaturahmi, dan menghadirkan kebahagiaan bersama.

“Meugang bukan sekadar membeli daging, tetapi juga memperkuat ukhuwah. Ada nilai berbagi kepada tetangga dan kaum dhuafa agar semua dapat merasakan kebahagiaan menjelang hari raya,” ujarnya.

Dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe itu menambahkan, meugang juga mencerminkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Umumnya, masyarakat membeli daging dalam jumlah satu hingga dua kilogram per keluarga, disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi meugang tetap dapat dijalankan tanpa harus memberatkan.

Pemerintah daerah diharapkan terus memantau stabilitas harga dan distribusi bahan pangan menjelang hari raya. Langkah ini penting agar tradisi meugang tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Secara keseluruhan, harga daging meugang tahun ini yang berada di kisaran Rp170 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram mencerminkan tingginya permintaan masyarakat. Di balik itu, tradisi meugang tetap menjadi simbol kuat nilai kebersamaan, kepedulian, dan identitas keislaman masyarakat Aceh.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.