Dengarkan artikel ini:
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Ketua AAKBIndo, Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
KATA PEMRED #5
PinterPolitik.com
Pada suatu malam di tahun 2019, dalam sebuah diskusi yang disiarkan langsung, seorang panelis bertanya kepada Prabowo Subianto mengapa ia begitu keras memperingatkan tentang ancaman perang, tentang ketahanan pangan, tentang kemungkinan Indonesia runtuh dari dalam.
Prabowo menjawab dengan tenang: “Mazhab saya adalah mazhab akal sehat. Common sense and reality. Saya selalu mencari the basics, mencari esensi dari masalah.”
Saat itu, banyak yang tertawa. Atau setidaknya, tersenyum skeptis.
Tiga tahun kemudian, Rusia menyerang Ukraina. Harga gandum dunia melonjak. Kapal-kapal suplai berhenti berlayar. Dan negara-negara yang selama ini percaya bahwa pangan bisa dibeli dari mana saja mendapati diri mereka di depan lemari kosong yang tidak bisa dibayar dengan teori globalisasi.
Dan dunia belum berhenti di sana. Konflik Gaza meletus dan mengubah peta geopolitik Timur Tengah. Lalu, pada 28 Februari 2026 — hanya beberapa pekan yang lalu — Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran dalam Operasi Epic Fury, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan mengguncang seluruh kawasan. Selat Hormuz, jalur laut yang mengalirkan sepertiga pasokan energi dunia, terancam tertutup. Fasilitas LNG terbesar di dunia di Qatar rusak akibat serangan balasan Iran. Harga minyak dan gas melonjak. Rantai suplai global berguncang kembali.
Dunia yang Prabowo gambarkan — dunia yang semakin kecil, semakin saling terhubung, semakin rentan terhadap satu krisis yang menjalar ke mana-mana — bukan lagi skenario. Ia adalah kenyataan yang kita hidup di dalamnya, hari ini.
“Saya 2019 ikut membuli Bapak waktu Bapak bicara soal perang… tapi ternyata 2022 ada perang, 2023 ada perang, 2025 ada perang.”
Kalimat itu bukan diucapkan oleh pendukung Prabowo. Ia diucapkan oleh seorang jurnalis senior — pengakuan dosa yang tulus, di hadapan sang presiden, dalam forum “Presiden Prabowo Menjawab” — sebuah momen yang langka dalam politik Indonesia: ketika seorang pengkritik dengan jujur mengakui bahwa ia salah, dan yang dikritik ternyata benar.
Pertanyaannya bukan lagi: apakah Prabowo benar? Pertanyaannya yang lebih menarik adalah: mengapa ia benar? Dan bagaimana seorang mantan jenderal yang gemar berkuda bisa memprediksi bentuk dunia sebelum para ekonom, analis, dan jurnalis terbaik negeri ini melihatnya?
Jawabannya, seperti banyak hal tentang Prabowo, tersembunyi di antara halaman-halaman buku.
Ada sebuah perbedaan mendasar antara dua jenis pembaca yang sering kita temui di dunia kepemimpinan.
Pembaca pertama membaca untuk mengonfirmasi apa yang sudah ia percaya. Ia mencari kutipan yang mendukung posisinya, data yang memperkuat narasinya, dan sejarah yang membenarkan keputusan yang sudah ia ambil. Buku adalah cermin — bukan jendela.
Pembaca kedua membaca untuk melihat apa yang belum terjadi. Ia masuk ke dalam teks bukan sebagai tuan, melainkan sebagai tamu yang rendah hati — siap dikagetkan, siap dikoreksi, siap menemukan sesuatu yang mengubah cara ia memandang segalanya. Buku adalah jendela — bukan cermin.
Prabowo, berdasarkan semua bukti yang ada, adalah pembaca jenis kedua.
Dan inilah yang jarang dipahami oleh mereka yang menilainya hanya dari citra luar: seragam, retorika, kuda, dan gaya bicara yang kadang membara. Di balik semua itu ada seorang lelaki yang menghabiskan puluhan tahun membaca sejarah — bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai metode.
Dalam forum “Presiden Prabowo Menjawab,” ketika ditanya dari mana datangnya keyakinannya tentang ketahanan pangan dan ancaman perang, jawabannya sangat khas seorang pembaca sejarah yang serius:
“Kebetulan saya ini juga suka baca sejarah dan juga latar belakang saya sebagai prajurit, sebagai perwira mendorong saya terus belajar sejarah. Dan di situ saya lihat common denominator masalah yang azazi selalu adalah pangan.”
Perhatikan struktur berpikirnya. Ia tidak mengutip laporan IMF. Ia tidak merujuk proyeksi Bank Dunia. Ia membaca pola — common denominator — yang berulang sepanjang ribuan tahun peradaban manusia. Bahwa perang pertama manusia bukan tentang ideologi, bukan tentang perbatasan, bukan tentang agama. Perang pertama adalah tentang makanan. Tentang lembah yang lebih subur. Tentang sumber air yang lebih deras. Tentang siapa yang menguasai apa yang membuat manusia lain bisa bertahan hidup.
Dan dari pola ribuan tahun itu, ia menarik garis lurus ke masa kini: jika teknologi membuat dunia semakin kecil dan saling terhubung, maka kerentanan terhadap perang atas sumber daya tidak berkurang — ia justru semakin besar. Karena kini satu krisis di satu sudut bumi bisa mengguncang lemari makan di sudut yang lain.
“Kalau 200 tahun yang lalu perang di Eropa enggak pengaruh untuk kita,” katanya. “Sekarang perang di mana saja berpengaruh.”
Sederhana. Hampir terlalu sederhana. Tapi justru itulah kekuatannya — ia menemukan kebenaran yang dalam bukan dengan menambah kerumitan, melainkan dengan memangkas semua lapisan hingga tinggal esens.
Di sinilah kita perlu menengok kembali ke Artikel pertama dari seri ini, tentang buku-buku yang terverifikasi pernah ia baca.
Ghost Fleet, novel fiksi ilmiah tentang perang dunia berikutnya, bukan sekadar pilihan bacaan yang eksentrik. Dalam konteks cara berpikirnya yang kita bongkar hari ini, ia adalah perpanjangan dari metode sejarahnya: jika sejarah mengajarkan bahwa pola perang selalu berulang, maka fiksi yang dibangun di atas riset strategis adalah cara paling jujur untuk membayangkan bagaimana pola itu akan berulang dalam konteks teknologi hari ini.
Why Nations Fail bukan sekadar senjata retorika di podium debat. Ia adalah konfirmasi akademis atas intuisi yang sudah ia bangun dari membaca sejarah selama puluhan tahun: bahwa kehancuran selalu datang dari dalam, melalui institusi yang membusuk perlahan, jauh sebelum ia terlihat dari luar.
Bahkan Paulo Coelho — yang terlihat paling jauh dari dunia geopolitik — kini terasa bukan sebagai anomali melainkan sebagai pelengkap yang justru paling personal: jika sejarah mengajarkan bahwa bangsa bisa musnah, maka Coelho mengajarkan bahwa manusia bisa tetap berdiri di tengah kemusnahan itu. Keduanya adalah dua sisi dari pertanyaan yang sama: bagaimana bertahan.
Tapi ada dimensi lain dari cara ia membaca sejarah yang lebih jarang dibahas, dan yang muncul dengan sangat jelas dalam forum “Presiden Prabowo Menjawab”: ia tidak hanya membaca sejarah untuk memprediksi — ia membaca sejarah untuk merasakan tanggung jawab moral yang diwariskan oleh masa lalu.
Ketika ia menyebut Bung Karno — “Dia yang bikin IPB, dia yang selalu ngomong the hungry stomach cannot wait” — ia bukan sedang berpidato tentang nasionalisme. Ia sedang melanjutkan sebuah percakapan yang dimulai jauh sebelum ia lahir. Percakapan antara para pemimpin yang memahami bahwa kemerdekaan tanpa pangan adalah kemerdekaan yang rapuh, bahwa kedaulatan tanpa sumber daya adalah kedaulatan di atas kertas.
Ia membaca sejarah bukan sebagai arsip, melainkan sebagai dialog yang hidup. Dan dalam dialog itu, ia merasa terikat — bukan secara romantis, melainkan secara strategis — untuk meneruskan apa yang belum selesai.
Bung Karno begitu dia mimpin Indonesia baru merdeka, yang dia urus sebetulnya ya pangan pertanian. Dia yang bikin IPB. Dia yang selalu ngomong: ‘The hungry stomach cannot wait.’
Perhatikan bagaimana ia mengutip Soekarno dalam bahasa Inggris — seolah kutipan itu sudah terpatri dalam bahasa aslinya di suatu sudut pikirannya, diingat bukan dari teks akademis melainkan dari bacaan yang berulang, yang diresapi, yang menjadi bagian dari cara ia berpikir tentang apa artinya memimpin sebuah bangsa.
Ada sebuah paradoks menarik yang muncul ketika kita melihat Prabowo sebagai pembaca sejarah.
Di satu sisi, ia adalah pemimpin yang paling terbuka mengakui kelemahan dan kerentanan bangsanya — dalam setiap buku yang ia baca, dalam setiap peringatan yang ia sampaikan, selalu ada bayangan tentang kemungkinan gagal, tentang skenario terburuk yang harus diantisipasi. Ia bukan optimis yang naif.
Di sisi lain, ia adalah pemimpin yang paling keras meyakini bahwa Indonesia bisa — dan harus — menjadi besar. Bahwa kekayaan alam yang belum tersentuh adalah modal yang menunggu untuk diaktifkan. Bahwa generasi muda yang membaca, yang berpikir, yang memahami posisi Indonesia dalam peta dunia yang semakin berbahaya, adalah kunci dari segalanya.
Bukan kontradiksi. Ini adalah tanda seseorang yang benar-benar membaca sejarah — karena sejarah mengajarkan keduanya sekaligus: bahwa kejatuhan selalu mungkin, dan bahwa kebangkitan selalu mungkin. Yang menentukan bukan nasib, melainkan pilihan — dan pilihan dimulai dari pemahaman.
Dari membaca.
Dalam sebuah tradisi pemikiran yang tua, ada keyakinan bahwa pemimpin yang bijak bukan ia yang paling banyak tahu tentang hari ini, melainkan ia yang paling dalam memahami bagaimana hari ini terhubung dengan ribuan hari sebelumnya.
Dalam tradisi itu, sejarah bukan mata pelajaran. Ia adalah kompas.
Prabowo Subianto, dengan segala kompleksitas dan kontroversi yang melekat pada namanya, adalah salah satu pemimpin Indonesia yang menggunakan kompas itu dengan serius. Ketika dunia sedang ramai membicarakan artificial intelligence, disruption, dan geopolitik baru, ia terus kembali ke pertanyaan yang paling purba: apakah rakyatnya akan makan besok? Apakah energinya cukup untuk musim dingin berikutnya? Apakah bangsanya tahu apa yang akan datang, sebelum yang datang itu terlambat untuk dihindari?
Pertanyaan-pertanyaan yang lahir bukan dari survei, bukan dari big data, melainkan dari ribuan malam bersama buku-buku yang menceritakan bagaimana peradaban-peradaban besar sebelumnya bertanya hal yang sama — dan menjawabnya terlambat.
Mereka yang pernah membuli prediksinya di 2019 kini tahu: ia tidak beruntung. Ia membaca. Dan sementara dunia hari ini bergulat dengan perang Rusia-Ukraina, konflik Gaza, dan kini kobaran perang Iran yang menutup Selat Hormuz — pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan dua dekade lalu tentang ketahanan pangan dan energi terasa bukan lagi seperti kekhawatiran seorang jenderal yang terlalu waspada, melainkan seperti cetak biru yang seharusnya sudah lama kita pegang.
Dan mungkin itulah pelajaran terpenting yang bisa kita ambil dari seorang presiden yang suka membaca — bukan daftar bukunya, bukan citra intelektualnya, melainkan ini: bahwa dalam dunia yang bergerak terlalu cepat untuk dipahami hanya dengan data hari ini, membaca sejarah dengan sungguh-sungguh masih merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang paling langka, dan paling berharga.
Sesuatu yang layak kita tiru — apa pun pandangan politik kita terhadapnya.
**********************
Tulisan ini adalah bagian kedua dan penutup dari seri dua esai.
Bagian pertama: “Dari Coelho hingga Ghost Fleet: Apa yang Sebenarnya Dibaca Prabowo.”
Tentang Penulis
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc. adalah CEO & Founder PT Sentral Data Utama (SDU), Ketua Asosiasi Ahli Kecerdasan Buatan Berbasis Kompetensi Indonesia (AAKBIndo), dan Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com. Ia secara konsisten menulis tentang kepemimpinan strategis, geopolitik, dan tata kelola nasional Indonesia.





Comments are closed.