Dengarkan artikel ini:
Audio dibuat menggunakan AI.
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Ketua AAKBIndo, Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
KATA PEMRED #7
PinterPolitik.com
Sejarah tidak mencatat semua luka. Tapi ia tidak pernah benar-benar melupakannya.
Kemarin, di open house Pak SBY, saya menyaksikan sesuatu yang lebih banyak berbicara dalam diamnya daripada dalam kata-kata yang terucap. Dari podium, AHY — putra Presiden ke-6, Menko Infrastruktur, Ketua Umum Demokrat — menyapa Anies Baswedan dengan hangat. Sebagai sahabat. Anies duduk di baris terdepan, di sebelah Yenny Wahid dan satu baris dengan Emil Salim. Tenang. Senyumnya manis.
Saya ingin kita berhenti sejenak di sini. Bukan untuk mengagumi ketenangan Anies — tapi untuk bertanya dengan jujur: di antara dua orang yang berdiri di ruangan itu, siapakah yang sesungguhnya menunjukkan kebesaran jiwa? AHY, yang memilih menyapa dengan hangat seseorang yang pernah membuat partainya terluka dalam di depan seluruh Indonesia — atau Anies, yang duduk tenang menerima sapaan itu?
Kebesaran hati di ruangan itu kemarin adalah milik AHY. Bukan milik Anies. Dan kita perlu jujur tentang itu sebelum membaca lebih jauh.
I. LUKA YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN
Pramoedya pernah menulis bahwa bangsa yang melupakan sejarahnya adalah bangsa yang sedang bersiap untuk mengulanginya. Kita tidak boleh melupakan September 2023.
Demokrat telah berada dalam Koalisi Perubahan bersama Anies. AHY telah disebut-sebut sebagai kandidat kuat cawapres. Kepercayaan dibangun, pembicaraan berjalan, dan ada janji-janji yang terucap maupun tidak terucap di antara para pemimpin koalisi. Lalu, pada 1 September 2023, Anies dan Nasdem mengumumkan Muhaimin Iskandar sebagai cawapres — di Surabaya, tanpa sepengetahuan Demokrat. Tanpa pemberitahuan. Tanpa konsultasi. Meja terbanting di rapat Tim 8. SBY dan AHY baru mengetahuinya dari layar televisi, seperti jutaan orang Indonesia lainnya.
Ini bukan luka dua pihak yang sama-sama merasa dirugikan. Ini adalah satu pihak yang memilih, secara sadar dan terencana, untuk tidak menghormati mitranya sendiri pada momen yang paling menentukan. Dan Anies adalah figur yang selama ini paling sering berbicara tentang etika berpolitik, tentang cara berpolitik yang beradab, tentang pentingnya kepercayaan sebagai fondasi demokrasi.
Yang hadir kemarin di open house Pak SBY adalah orang yang sama. Senyumnya masih manis. Pertanyaannya: apakah kehadirannya itu tulus — atau ini adalah kalkulasi seorang politisi yang membutuhkan kembali legitimasi dari basis massa Demokrat menjelang 2029?
II. POPULISME NARATIF: SENJATA YANG BERBAHAYA
Ada satu hal tentang Anies Baswedan yang tidak bisa kita abaikan: ia sangat pandai bercerita tentang dirinya sendiri.
Ia doktor ilmu politik dari Northern Illinois University. Pemegang beasiswa Fulbright. Mantan rektor termuda di Indonesia. Ia lahir dari perpustakaan, dari dunia ide, dari tradisi intelektual yang serius. Dan justru dari sanalah bahayanya bermula. Karena seseorang yang tahu cara membingkai gagasan — yang tahu bahwa narasi adalah kekuasaan — adalah seseorang yang bisa membuat kalkulasi terlihat seperti idealisme, dan ambiguitas terlihat seperti kebijaksanaan.
Pilgub DKI 2017 tidak bisa dipisahkan dari Drama 212. Anies memenangkan Jakarta dengan menunggangi gelombang yang sarat politisasi identitas — gelombang yang meninggalkan luka polarisasi di ibu kota yang belum sepenuhnya sembuh hingga hari ini. Kemudian, perlahan, ia membangun narasi baru tentang dirinya sebagai pemimpin moderat dan inklusif. Narasi itu diterima di banyak tempat. Tapi bagi mereka yang mengalami langsung dampak 2017, narasi baru tidak menghapus fakta lama.
Inilah yang oleh sejumlah pengamat disebut populisme naratif: kemampuan membungkus kalkulasi dalam bahasa yang terdengar seperti ketulusan. Ketika seseorang terlalu pandai bercerita tentang dirinya, kita perlu lebih hati-hati, bukan lebih percaya.
III. SENYUM YANG BELUM CUKUP MENJAWAB
Dua setengah ribu tahun yang lalu, Konfusius menulis sesuatu yang terasa sangat relevan hari ini: “Mereka yang berbicara dengan kata-kata yang indah dan menampilkan wajah yang menyenangkan — jarang sekali yang memiliki kebajikan yang sesungguhnya.” Saya tidak sedang menghakimi. Saya hanya mencatat bahwa pertanyaan ini sudah ada sejak zaman Konfusius, dan Indonesia berhak mengajukannya kepada siapapun yang meminta kepercayaan publiknya.
Obama pernah menulis bahwa kepercayaan dalam demokrasi bukan dibangun oleh pidato — ia dibangun oleh tindakan-tindakan kecil yang dilakukan ketika tidak ada yang melihat. Saya selalu mengingat dua kalimat itu bersama-sama ketika mengamati Anies Baswedan: Konfusius yang memperingatkan tentang keindahan kata-kata, dan Obama yang mengingatkan kita bahwa karakter sejati terlihat bukan di depan podium, melainkan di ruang-ruang tertutup yang tidak terekam kamera.
Kemarin, AHY menyapa dari podium. Anies membalas dengan senyum. Bagi sebagian orang, itu cukup. Tapi bagi mereka yang mengikuti September 2023 dari dekat, senyum itu belum menjawab apa-apa. Rekonsiliasi yang sejati tidak hadir dalam bentuk kehadiran di acara dan senyum dari baris depan. Ia hadir dalam bentuk pengakuan — pengakuan yang jujur, terbuka, dan tidak dibungkus dalam narasi yang indah.
Ada garis tipis antara kelapangan hati dan ketiadaan pertanggungjawaban. Selama Anies belum secara terbuka menjawab pertanyaan yang digantungkannya sejak 2023, senyum itu — semanis apapun — tetaplah ambigu.
IV. BEBAS DARI REM, BEBAS DARI KOREKSI
Selama bertahun-tahun, satu hal yang membatasi manuver Anies adalah ketergantungannya pada orang lain. Ia selalu menyewa tanah orang lain untuk berpijak. Dan pemilik tanah, di saat-saat genting, selalu ingat bahwa merekalah pemiliknya — seperti yang kita lihat di 2023, dan sekali lagi ketika Nasdem, PKS, dan PKB menarik tiket Jakarta-nya di menit terakhir.
Tapi kini lanskap itu berubah. Januari 2026, Gerakan Rakyat menjadi Partai Gerakan Rakyat. Mahkamah Konstitusi menghapus ambang batas pencalonan presiden. Untuk pertama kalinya, Anies tidak membutuhkan izin siapapun. Tidak ada lagi pemilik tanah yang bisa menarik rem.
Dan ini adalah perkembangan yang perlu kita perhatikan bukan dengan antusiasme, melainkan dengan kewaspadaan yang matang. Strategi yang ia jalankan sekarang — membiarkan kekecewaan publik terhadap status quo bekerja untuknya tanpa perlu dikomandoi, hadir di ruang-ruang yang tepat pada waktu yang tepat, membangun kehadiran tanpa terlihat berambisi — adalah strategi yang efisien dan yang secara inheren bergantung pada polarisasi sebagai bahan bakarnya.
Anies paling sulit dibaca bukan ketika ia berteriak. Ia paling sulit dibaca ketika ia diam dan tersenyum — dan membiarkan jutaan orang mengisi keheningan itu dengan harapan atau kemarahan mereka masing-masing.
V. PERTANYAAN YANG MASIH MENGGANTUNG
Ada pertanyaan yang sudah lebih dari dua tahun menggantung tanpa jawaban yang jujur: mengapa Anies tidak memberi tahu Demokrat sebelum mengumumkan Muhaimin? Satu kalimat. Satu tindakan. Yang bertentangan dengan semua nilai yang selama ini ia banggakan sebagai ciri khasnya.
Kita tidak bisa terus melewatkan pertanyaan itu. Bukan karena masa lalu lebih penting dari masa depan, tapi karena karakter seorang pemimpin paling jelas terlihat bukan ketika segala sesuatunya berjalan baik — melainkan ketika ia dihadapkan pada pilihan yang sulit dan tidak ada yang melihat. September 2023 adalah ujian semacam itu. Dan hasilnya ada dalam catatan.
SBY mengajarkan kepada kita bahwa kepercayaan adalah modal yang paling mahal dalam berpolitik — dan yang paling sulit dibangun kembali setelah dirobohkan. Anies tahu pelajaran itu. Yang belum terjawab adalah apakah ia juga menghormatinya.
Indonesia, kata Pramoedya, adalah negeri yang besar — besar dalam potensi, besar dalam luka, dan terlalu sering besar pula dalam kesediaannya melupakan. Kita gemar narasi rekonsiliasi. Kita gemar senyum yang manis dan kehadiran yang hangat. Tapi rekonsiliasi yang sejati — yang akan bertahan melewati satu siklus pemilu — harus dibangun di atas sesuatu yang lebih kuat dari gestur simbolik.
Kemarin, AHY memilih besar hati. Itu adalah pilihan yang terhormat, dan pilihan yang mencerminkan watak kepemimpinan yang telah SBY tanamkan. Tapi menghormati pilihan AHY tidak berarti kita harus berhenti bertanya. Justru karena kita menghormati kebesaran hati AHY — kita tidak boleh membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang sah itu terkubur di bawah senyum yang manis.
Anies Baswedan adalah pertanyaan yang belum selesai.
Dan dalam sejarah panjang republik ini, pertanyaan yang dibiarkan tanpa jawaban selalu menemukan caranya sendiri untuk kembali — biasanya pada momen yang paling tidak kita inginkan.
Dalam politik Indonesia, yang paling berbahaya bukan musuh yang berteriak — melainkan kawan yang tersenyum sambil menghitung langkahnya.
**********************
Tentang Penulis
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc. adalah CEO & Founder PT Sentral Data Utama (SDU), Ketua Asosiasi Ahli Kecerdasan Buatan Berbasis Kompetensi Indonesia (AAKBIndo), dan Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com. Ia secara konsisten menulis tentang kepemimpinan strategis, geopolitik, dan tata kelola nasional Indone





Comments are closed.