Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Film ‘Na Willa’ Mengajak Kita Menjadi Anak Perempuan dengan Dunia yang ‘Sempurna’

Film ‘Na Willa’ Mengajak Kita Menjadi Anak Perempuan dengan Dunia yang ‘Sempurna’

film-‘na-willa’-mengajak-kita-menjadi-anak-perempuan-dengan-dunia-yang-‘sempurna’
Film ‘Na Willa’ Mengajak Kita Menjadi Anak Perempuan dengan Dunia yang ‘Sempurna’
service

Saya perlu membuka artikel ini dengan disclaimer: saya menonton ‘Na Willa’ sebagai orang yang tidak begitu suka anak-anak. 

Maka, pada saat melangkah memasuki bioskop untuk menonton film ‘Na Willa’, saya tidak menaruh terlalu banyak ekspektasi. Saya pikir, jika filmnya menempatkan penonton dewasa untuk harus memahami anak-anak, saya hanya akan meresponnya dengan ‘sepakat untuk tidak setuju (agree to disagree)’. Seperti arogansi banyak orang dewasa lainnya, saya merasa sudah cukup selalu disuruh memahami anak-anak.

Na Willa’ sendiri bukan sesuatu yang benar-benar asing di telinga saya, meski baru kali ini bersentuhan dengan medianya. Pasalnya, film ‘Na Willa’ diangkat dari novel berjudul sama karya Reda Gaudiamo dan diterbitkan oleh Post Press pada tahun 2012. 

Kita mungkin pernah menjumpai buku bersampul merah itu di toko buku. Kini, filmnya digarap oleh sutradara Ryan Adriandhy yang juga memproduksi film ‘Jumbo’ pada 2025.

Baca Juga: Bridgerton Season 4, Kisah Cinta Yang Melegitimasi Ketimpangan Kelas dan Rapuhnya Kedaulatan Perempuan

Kisah anak perempuan bernama Na Willa berpusat di Gang Krembangan, Surabaya, Jawa Timur, pada era 1960-an. Na Willa, yang berusia enam tahun dan rambutnya  dikuncir dua, tinggal dengan ibunya, Marie—yang ia panggil Mak—dan Mbok, seorang pekerja rumah tangga (PRT). 

Ayah Willa, Paul atau biasa dipanggil Pak, bekerja di sebuah perusahaan kargo. Pak sering pergi berlayar ke kota lain cukup lama. Saking lamanya Willa tidak bertemu Pak dan hanya di rumah bersama Mak dan Mbok, pernah pada saat Pak pulang, Willa tidak mengenalinya. Ia memanggil Pak “om” dan bertanya keperluannya datang ke rumah. Pak pun menangis dan sejak itu berjanji tidak akan bepergian terlalu lama agar Willa tidak lagi melupakannya.

Willa punya tiga sahabat di Krembangan: Dul, Bud, dan Farida (Ida). Dul, yang paling dulu duduk di bangku sekolah, adalah anak paling iseng di antara mereka berempat. Tapi ia juga cerdas dan selalu menjadi juara kelas. 

Lalu ada Bud, yang punya banyak mainan tapi selalu diambil alih oleh adik perempuannya, maka ia lebih senang bermain bersama Willa dan teman-temannya di rumah Willa. Ada juga Farida, anak bungsu dalam keluarga dengan jumlah kakak yang sangat banyak. 

Willa selalu bermain dengan mereka setiap hari. Hingga suatu hari, Dul mengalami kecelakaan tertabrak kereta dan harus dirawat intensif di rumah sakit. 

Baca Juga: ‘The Ugly Stepsister’ Menghidupkan Kembali Dongeng Klasik yang Misoginis

Tidak lama kemudian, Bud dan Farida juga mulai masuk sekolah, meninggalkan Willa kembali hanya bersama Mak dan Mbok di rumah. Kalau tidak ikut Mak berbelanja ke pasar, kegiatan Willa pun hanya bermain dengan bonekanya, mengutak-atik barang, atau menjahili Mbok—seringnya secara tidak sengaja.

Na Willa tidak sekolah meski sudah cukup umur untuk duduk di bangku TK, bahkan SD. Sejak masih sangat kecil, Mak-lah yang mengajarinya berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan; mulai dari matematika sampai bahasa; dari membaca, menulis, hingga membetulkan radio. Pak juga kerap membawakan buku bacaan untuk Willa setiap kali pulang berdinas. Tapi karena temannya, Dul, sering menceritakan serunya bersekolah seperti dirinya, Willa jadi ingin merasakan duduk di bangku sekolah. Apa lagi Bud dan Farida juga akhirnya masuk sekolah umum. Setiap mereka lewat di depan rumah Willa saat berangkat ke sekolah, keinginan Willa untuk bersekolah pun semakin kuat.

Namun, tidak bersekolah bukan berarti Willa tidak pintar. Malah, kendati Dul adalah siswa sekolah, ia selalu meminta tolong Willa untuk membantunya membaca tanda-tanda di jalanan. Willa juga bisa membaca, menulis, dan berhitung karena Mak mengajarinya di rumah setiap hari. Na Willa gemar bernyanyi; lagu kesukaannya berjudul ‘Hesty’, dinyanyikan oleh Lilis Suryani. 

Willa pernah percaya kalau Lilis Suryani ada di dalam setiap radio yang membunyikan lagunya, tapi tak menemukan penyanyi itu meski telah membongkar radio di rumah. Mak, yang memergoki Willa membuka radio dalam keadaan masih tersambung ke saluran listrik, lantas memarahinya karena tindakannya berbahaya. Tapi segera pula Mak jelaskan cara kerja radio—tidak ada Lilis Suryani mini di dalamnya—dan membetulkan kembali radio itu.

Baca Juga: Internalized Misogyny dalam Film Perselingkuhan Menjebak Kita Pada Narasi ‘Istri Sah vs Pelakor’

Keputusan tentang Willa tidak perlu bersekolah diambil oleh Mak, didukung Pak. Mereka merasa cukup karena Mak selalu memberikan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung kepada Willa di rumah dengan buku-buku yang Pak berikan. Namun, banyak orang yang justru menilai bahwa Willa sebaiknya masuk sekolah saja. Willa sendiri mulai mendesak Mak untuk mengizinkannya masuk sekolah karena kesepian setiap ditinggal Mak pergi ke pasar, Mbok mengurus rumah, dan teman-temannya bersekolah. Akhirnya, Mak luluh dan mendaftarkan Willa untuk bersekolah di tempat yang sama seperti Farida dan Bud.

Sayang, Willa hanya betah bersekolah di sana satu hari. Sebab ia menghadapi guru yang galak dan diskriminatif bernama Bu Tini. Willa tidak diberikan buku karena ia “anak baru”, serta disuruh hanya memperhatikan teman-temannya belajar mengeja dan menulis sambung. Padahal, Willa sudah mempelajari semua itu di rumah bersama Mak. Saat ia mengutarakan hal itu, Bu Tini malah menghukumnya dan mengatakan Willa berbohong. Ditambah anak-anak di kelasnya yang menertawakan nama Na Willa dan mengejeknya dengan julukan “asu Cino (anjing Cina)”. Ia pun marah dan berkelahi dengan mereka. Akhirnya, Willa berlari pulang ke rumah sambil menangis. 

Bahkan di rumah pun, ia harus berdebat lagi dengan Mak yang memarahinya karena “bandel” dan “tidak menurut” di sekolah. Di sisi lain, Mak tahu Willa tidak berbohong. Mak sendiri yang pernah mengajari Willa bahwa berbohong itu ibarat ada kerikil yang masuk dalam sepatu. Semakin banyak, semakin bikin kita tidak nyaman. Mak pun lantas mendatangi sekolah itu dan mengecam Bu Tini yang memperlakukan anaknya dengan semena-mena.

Namun Willa masih mau bersekolah. Maka, Mak mencarikannya sekolah baru yang lebih ramah. Akhirnya mereka melabuhkan tujuan di TK Juwita, yang menerima Willa apa adanya dan mengakomodir kreativitas anak itu.

Baca Juga: ‘The Housemaid’: Cerita PRT dan Lika-Liku Perempuan Lepas dari Jerat KDRT

Di luar kejadian itu, bagi Na Willa, dunianya di Krembangan sempurna. Tentu, setelah dewasa, kita tahu bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Maka bagi orang dewasa yang skeptis dan berpikir ‘pahit’ seperti saya, gagasan Willa terlalu utopis. Tapi kalau menempatkan diri sebagai anak perempuan seperti Na Willa, mungkin justru saya akan lebih heran jika melihat orang dewasa begitu saja menilai kehidupan ‘harus’ tidak sempurna. Sebab, ke sanalah arah ‘Na Willa’: membuat kita menjadi anak-anak lagi.

Bukannya Willa tidak dihadapkan pada kusutnya kehidupan. Ia sempat bingung karena Pak jarang pulang. Dia kesal saat Mak memarahinya karena tidak boleh melihat kereta api dengan Dul, sampai berbohong meski Mak juga yang melarang Willa berbohong. Dirinya juga dirundung oleh gurunya sendiri, Bu Tini, dan anak-anak sekelasnya saat baru pertama kali memasuki sekolah umum karena identitasnya sebagai anak keturunan Tionghoa. 

Selain itu, Willa dibuat penasaran dengan tangis Martini, kakak perempuan Farida, saat Ida mengatakan kakaknya itu akan segera menikah. Kata Ida, orang yang menikah memang begitu, pasti menangis. Willa dan Ida mungkin tidak paham bahwa Martini menangis karena perempuan remaja itu dipaksa menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua darinya—tidak seperti Mak, yang memeluk Martini dengan penuh pengertian dan memberikannya sapu tangan untuk mengelap air matanya, saat ia dan Willa bertamu ke acara pernikahan Martini. Tapi tangisan Martini paling tidak membuat Willa menyadari satu hal: ia tidak mau menikah, lebih baik sekolah dan belajar saja.

Baca Juga: Kisah Eksil Politik Indonesia dalam Novel ‘Pulang’ dan Film ‘Surat dari Praha’

Dunia bagi Na Willa sempurna karena sederhana saja. Isinya Mak, Pak, Mbok, Dul, Bud, Farida, Cik Mien, Ayam Kuning Kecil Sekali, dan sebotol Orange Cruz dingin yang segar diminum setelah bermain. Kalau senang, Willa dan dunianya bernyanyi.

Kalau Willa sedang membayangkan sesuatu, kita diajak menggunakan imajinasinya. Misalnya: Willa ingin rambut keriting seperti Mak, kenapa kata Mbok dia bakal tumbuh lebih mirip seperti Pak—rambutnya lurus? Willa suka makan bagian mata ikan bandeng, jadi kenapa matanya tidak banyak? Imajinasi itu baru akan luruh saat Mak menjelaskan kenapa hal itu tidak mungkin. Setiap adegan diiringi musik dan tampak berwarna. Perpindahan ke adegan lainnya tidak monoton—selalu ada kejutan. 

Jangan berharap ada pesan tersembunyi yang kelam atau konflik berat dari film ini—seperti saya. Tentu bukannya tidak ada sama sekali. Ketegangan dalam film ini muncul dalam bentuk adegan Dul dibopong usai tertemper kereta, Bu Tini membentak Willa karena menganggapnya tidak tahu apa-apa, dan anak-anak sekelas Willa yang menjambak dan meneriakinya, “Asu cino!” Bagi orang dewasa, eskalasi konflik itu mungkin hanya terlihat ‘dramatis’ atau ‘berlebihan’. Tapi kalau saya menjadi anak kecil lagi, sepertinya adegan-adegan itu cukup membuat saya marah dan menangis.

Dunia Na Willa mungkin akan terasa sedikit masuk akal setelah mengetahui bahwa sebagian besar kisahnya diangkat dari kisah nyata kehidupan penulisnya, Reda Gaudiamo. Reda adalah Na Willa dan dunia ‘sempurna’nya memang terjadi demikian baginya.

Baca Juga: Film Dopamin: Pasangan Muda Hadapi Krisis dan Kerja Perawatan Perempuan Yang Seringnya Diabaikan

Mak dan Pak pernah sungguhan ada. Mak—namanya Marie dalam ‘Na Willabetul-betul berasal dari Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur. Ia sungguh berasal dari keluarga yang pernah menyuruhnya untuk mengurus rumah dan 9 adiknya saja sebagai anak perempuan tertua; tapi Marie berkeras ingin bersekolah, maka ia menempuh sekolah di Sumba hingga melanjutkan kuliah di Salatiga, Jawa Tengah. Sedangkan Pak—Paul namanya dalam ‘Na Willa’—adalah laki-laki Tionghoa yang mengurus rumah tangga dan gemar menonton film. Marie dan Paul pindah ke Surabaya dan menikah, lalu menetap di sana hingga Paul kembali berdinas di tempat lain.

Mak mendidik Willa sangat ketat terutama terkait Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kata “kami” dan “kita” tidak boleh tertukar penggunaannya, misalnya. Mak juga sering memberikan pengetahuan baru kepada Willa tentang hal-hal di sekitarnya. Hanya saja, Mak cuma bisa memasak nasi. Tapi ini bukan masalah, sebab ada Pak yang berperan memasak dan membereskan rumah. Ketika Pak harus berdinas pun, tugasnya digantikan Mbok. Jadi Mak tinggal berbelanja saja untuk kebutuhan Mbok memasak—meski, menurut Reda Gaudiamo dalam deskripsinya tentang ‘Mak’ yang asli, Mak kadang dimarahi Mbok karena salah membeli bumbu dapur. Mak terima saja karena Mbok lebih tua dan memang lebih paham soal masakan.

Farida, Dul, dan Bud juga sungguhan ada dengan nama yang sama. Setelah film ‘Na Willa’ tayang, Willa (sekarang kita bisa menyebutnya Reda) akhirnya bertemu Farida kembali. Ia masih tinggal di Krembangan bersama keluarganya, dan reuni mereka sungguh hangat. Mereka tidak bertemu Budi alias Bud karena, menurut Farida, “Istrinya galak.” Sedangkan Dul sudah wafat.

Baca Juga: Mendobrak Homogenitas Film “Chick Flick”, Saatnya Munculkan Perempuan Kalangan Marginal

Dari cerita ‘Na Willa’ yang ditambah deskripsi Reda tentang latar belakang aslinya, kita juga belajar tentang sosok ibu dari karakter Mak. Ia lembut, pintar, sekaligus tegas. Mak menyayangi Willa, tapi jika Willa berbuat salah, Mak tidak segan menegur bahkan menghukumnya. Namun, ‘hukuman’ itu bukan dalam bentuk sesuatu yang mengerikan. Mak ‘menghukum’ Willa dengan cara yang memberikan efek jera sekaligus hiburan. Misalnya, saat Willa mengotori sprei putih yang digunakannya sebagai mukena ketika ikut Farida mengaji—kendati Willa Kristen—Mak ‘menghukum’ Willa dengan memberikannya anak ayam sebagai latihan bertanggungjawab. Atau, saat Willa kabur dari sekolah karena dirundung, Mak ‘menghukum’ Willa dengan memindahkannya ke sekolah baru. 

Sebaliknya, ‘kekurangan’ Mak juga ditunjukkan. Misalnya, ketika Mak berbohong kepada Dul dengan mengatakan bahwa Willa tidak bisa ikut menonton kereta dengannya, sebab Pak akan pulang. Padahal, Willa membaca surat terakhir dari Pak dan tahu ayahnya belum akan kembali dalam waktu dekat. Willa menegur Mak karena hal itu; meski sempat membela diri dengan mengatakan bahwa kebohongannya itu demi kebaikan Willa, Mak juga mengakui kesalahannya.

Na Willa’ pun menunjukkan peran dalam rumah tangga yang setara. Mak ibu rumah tangga, tapi ia tak lantas harus bisa memasak karena itu bisa dilakukan Pak. Beres-beres rumah bisa mereka lakukan bersama. Mak juga bertugas memastikan anak mereka, Willa, tercukupi pendidikan dan kasih sayangnya. Di sisi lain, keluarga Na Willa punya cukup privilese untuk mempekerjakan PRT saat Pak tidak bisa lagi memasak dan berkegiatan di rumah. Kendati jauh dari rumah, peran Pak sebagai ayah tidak absen. Ia tetap memantau perkembangan Willa lewat surat-surat dari Mak, serta memberikannya buku dan mainan.

Baca Juga: Serial Culture Shock dan Kekacauan Seksualitas: Ketakutan Pada Keperawanan dan Keperjakaan Ditanamkan pada Tubuh

Hal lain yang menarik adalah mengikuti cara anak-anak memaknai perbedaan dalam film ini. Contohnya saat Willa bertemu Dul kembali usai kecelakaan. Sebelum bertemu Dul, Mak sudah memperingatkan Willa bahwa akibat tertemper kereta, satu kaki Dul harus diamputasi dan kini ia menggunakan kaki palsu. Sebagai orang dewasa, Mak khawatir Willa akan sedih dan ngilu.

Yang Willa tanyakan? Bentuk kaki palsu Dul yang baru. Pun ketika menjenguk ke rumah sakit, perawat mengatakan Dul “anak bandel” karena tidak berada di tempat tidurnya. Saat Willa akhirnya mengobrol dengan Dul, anak laki-laki itu justru tidak melihat disabilitas fisiknya sebagai kekurangan. Ia membanggakan kaki palsunya yang terbuat dari kayu dan “bisa berbunyi” dengan nyanyian “sikilku iso muni (kakiku bisa bunyi)”. Dalam dunia anak-anak, disabilitas mungkin bukan soal tubuh yang “tidak sempurna”. Sebab, ketika mereka menemukan kebahagiaan dari kondisi itu, berarti dunia tetap sempurna, bukan?

Baca Juga: Gwan-sik dan Standar Baru Laki-laki Sehat Emosional

Atau ketika Farida mengajak Willa untuk ikut mengaji di rumahnya. Bagi Farida dan Willa, terang mengaji hanya satu dari berbagai kegiatan yang biasa dilakukan di rumah. Beda dengan Mak, yang keningnya langsung berkerut dan menegur Willa karena mengaji bagi Farida sama saja seperti membaca Alkitab bagi Willa—alias berbeda. Tapi bagi Willa dan Farida, apa masalahnya? Yang penting Willa datang ke rumah Farida, ikut membaca kitab dengan tulisan yang tidak ia pahami sama sekali, dan memakai kain putih untuk menutupi sekujur tubuh selain wajahnya seperti yang Farida lakukan. Willa tak harus mengerti hal yang Farida lakukan, yang penting mereka bersama-sama. Itulah dunia yang “sempurna” untuk mereka.

Maka rupanya asumsi awal saya salah. Film ‘Na Willa’ bukan mengajak penonton untuk memahami anak-anak. Sebab, saat menonton film ini, saya justru diajak menjadi Na Willa. Menjadi anak perempuan seperti dulu pernah saya alami. Bermain bersama teman-teman, menghabiskan waktu bersama ibu (saya pribadi tidak pernah betul-betul mengalami ini), menjalani hidup seakan-akan ia adalah sebuah musikal.

Di tengah kondisi dunia yang sangat tidak sempurna seperti sekarang ini, mungkin tidak apa-apa sejenak kembali menjadi anak perempuan yang bahagia.

(Editor: Luviana Ariyanti)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.