Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Krisis Energi Efek Perang Hantui Asia, UGM Ingatkan RI Jangan Terlena Energi Lama

Krisis Energi Efek Perang Hantui Asia, UGM Ingatkan RI Jangan Terlena Energi Lama

krisis-energi-efek-perang-hantui-asia,-ugm-ingatkan-ri-jangan-terlena-energi-lama
Krisis Energi Efek Perang Hantui Asia, UGM Ingatkan RI Jangan Terlena Energi Lama
service

KABARBURSA.COM — Gejolak perang Iran mulai terasa hingga ke dapur energi global. Jalur distribusi logistik yang terganggu membuat pasokan energi dunia tersendat. Krisis energi disebut berpotensi lebih berat dibandingkan krisis minyak pada dekade 1970-an.

Dampaknya tak lagi abstrak. Sejumlah negara Asia sudah lebih dulu menyesuaikan harga bahan bakar, sementara Indonesia memilih menahan harga BBM bersubsidi di tengah tekanan yang kian terasa.

Kepala Laboratorium Energi Baru Terbarukan Fakultas Teknik UGM, Ahmad Agus Setiawan, menilai langkah pemerintah menahan harga merupakan kebijakan berani, meski konsekuensinya adalah tekanan fiskal yang tidak ringan.

Ia menggambarkan kondisi di kawasan Asia mulai menunjukkan tanda-tanda krisis yang nyata. “Di Asia Selatan, India dan Bangladesh, antrean mengular panjang banyak terlihat di SPBU,” ujar Ahmad, dilansir dari laman resmi UGM, Ahad, 12 April 2026.

Di sisi lain, masyarakat di beberapa negara mulai mencari cara bertahan. Di Filipina, misalnya, warga mulai beralih ke mobilitas sederhana seperti berjalan kaki untuk menghemat biaya energi.

Indonesia sendiri mencoba merespons tekanan ini melalui kebijakan efisiensi, termasuk penerapan kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara dan sebagian pekerja swasta. Namun, menurut Agus, langkah ini belum cukup jika tidak dibarengi strategi yang lebih struktural.

Ia menilai momentum krisis justru harus dimanfaatkan untuk mempercepat pengembangan energi alternatif, bukan sekadar meredam konsumsi jangka pendek.

Dalam pandangannya, posisi Indonesia dalam peta energi global cukup strategis sekaligus rentan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk besar, Indonesia juga menjadi salah satu konsumen energi terbesar sekaligus penyumbang emisi karbon yang signifikan.

Di saat yang sama, ketergantungan pada komoditas seperti nikel dan batubara dinilai tidak bisa menjadi sandaran jangka panjang.

“Kalau kita mengikuti peta geopolitik, krisis seperti ini bukan hal yang baru. Perang itu selalu mencari sumber energi. Sementara, dunia ke depan berencana menekan produksi emisi. Ini akan sangat menyulitkan mereka yang tidak siap. Sehingga, kita perlu segera meninggalkan kenyamanan energi masa lalu, bergeser ke alternatif sumber energi lain,” papar pria yang akrab disapa Aas ini.

Aas mencontohkan, Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah proyek energi terbarukan yang bisa menjadi pijakan transisi. Salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga bayu di Sulawesi Selatan yang memanfaatkan potensi angin.

Selain itu, Indonesia juga memiliki pembangkit listrik tenaga surya terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat, yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Menurutnya, teknologi ini justru memiliki efisiensi lebih tinggi dibandingkan pembangkit surya di darat.

“PLTS apung justru lebih efisien daripada PLTS di tanah karena memiliki sistem pendingin alami dari air. Sebagai negara yang wilayahnya didominasi oleh laut, tentu Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan konsep serupa,” jelas Aas.

Meski demikian, ia mengingatkan transisi energi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal tata kelola dan kolaborasi. Peran akademisi, kata dia, menjadi penting untuk memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi bisa diterjemahkan menjadi kebijakan dan kesadaran publik.

“Selain penelitian, mereka berperan besar dalam mengedukasi dan meningkatkan kesadaran publik,” kata Aas.

Di tengah tekanan krisis global, pilihan Indonesia kini tidak lagi sekadar menahan harga atau menghemat konsumsi. Lebih dari itu, arah kebijakan energi akan menentukan apakah negara ini mampu bertahan, atau justru tertinggal dalam gelombang transisi energi dunia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.