Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Pakar Politik Soroti Lemahnya KPU dan Bawaslu, Minta Reformasi Struktur dan Fungsi

Pakar Politik Soroti Lemahnya KPU dan Bawaslu, Minta Reformasi Struktur dan Fungsi

pakar-politik-soroti-lemahnya-kpu-dan-bawaslu,-minta-reformasi-struktur-dan-fungsi
Pakar Politik Soroti Lemahnya KPU dan Bawaslu, Minta Reformasi Struktur dan Fungsi
service

Tangerang Selatan, NU Online

Pakar Politik Saiful Mujani menekankan pentingnya memperkuat peran dan independensi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam sistem demokrasi Indonesia.

Menurutnya, kedua lembaga tersebut perlu didorong agar memiliki posisi yang lebih kuat dan setara secara fungsional dengan lembaga negara lain, termasuk presiden.

“Bagaimana caranya membuat KPU dan Bawaslu setara dengan presiden,” kata Mujani dalam serial diskusi Politik dan Kebebasan Akademik di Auditorium Prof.Bahtiar Effendy, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa langkah utama yang perlu dilakukan dengan mengubah struktur dan fungsi KPU. “Mengubah struktur dan fungsi dari KPU supaya KPU betul-betul independen,” jelasnya.

Hal ini penting karena selama ini masih terdapat persoalan mendasar terkait rendahnya independensi lembaga penyelenggara pemilu di Indonesia.

Saiful menilai banyak pihak belum menyadari bahwa lembaga-lembaga utama negara seperti presiden, DPR, Mahkamah Konstitusi (MK), dan Mahkamah Agung (MA) pada dasarnya sangat bergantung pada KPU.

“Tidak akan ada presiden kalau tidak ada KPU. Tidak akan ada yang namanya DPR kalau tidak ada KPU,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberadaan KPU sangat fundamental dalam sistem demokrasi. Di sejumlah negara lain, sistem ini dapat berjalan dengan baik karena didukung oleh lembaga penyelenggara pemilu yang kuat dan independen.

“Jadi, keberadaan KPU sangat fundamental. Kalau di negara  lain itu berjalan dengan baik tak masalah. Tapi kalau negara kita sumber masalahnya adalah independensi KPU yang sangat rendah,” jelasnya.

25 tahun Reformasi, Sistem politik kian sarat manipulasi

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta Ahmad Suaedy menegaskan bahwa yang perlu dipertanyakan, bukan hanya aktor politik, tetapi juga proses dan sistem yang telah dibangun selama Reformasi.

“Saya kira kita memang harus mulai mempertanyakan proses dan sistem yang telah dibangun selama reformasi,” ujarnya.

Menurut Suaedy, sistem yang berjalan saat ini sarat dengan manipulasi politik dari berbagai laporan dan praktik yang ada, hampir tidak ada bagian yang benar-benar bersih.

Ia menilai praktik tersebut terjadi di berbagai level kekuasaan, mulai dari anggota DPR, para penguasa, hingga pusat kekuasaan. “Secara keseluruhan, sistem kita bisa dikatakan sarat dengan manipulasi politik,” lanjutnya.

Akibat kondisi tersebut, parlemen dinilai menjadi lemah dan fungsi pengawasan tidak berjalan optimal. Hal ini, menurutnya, membuat presiden seolah-olah berkuasa tanpa kontrol yang memadai.

Dampak lainnya adalah meningkatnya kesenjangan ekonomi. Ia menyoroti adanya ketimpangan ekstrem, di mana kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia disebut setara dengan kekayaan 100 juta rakyat.

“Ini menunjukkan bahwa ketimpangan sudah sangat parah, dan oligarki telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Suaedy juga menilai salah satu penyebab utama kondisi ini adalah sistem pemilu yang terlalu terbuka, sehingga membuka celah manipulasi. Sistem proporsional yang telah diterapkan dan mengalami berbagai perubahan belum menunjukkan hasil signifikan. Dalam praktiknya, masih ada kandidat yang minim keterlibatan di daerah pemilihan, tetapi tetap terpilih karena kekuatan modal dan jaringan.

“Ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi dan politik kita bersifat eksploitatif, di mana mereka yang memiliki kekuatan finansial akan lebih mudah memperoleh kekuasaan,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.