Bincangperempuan.com- Di Indonesia, selembar kain di kepala perempuan tidak pernah menjadi sekadar urusan privat. Jilbab bisa menjadi alat ideologi, identitas, hingga ladang bisnis yang sangat menggiurkan.
Dalam kumpulan esainya yang berjudul Esok Jilbab Kita Dirayakan, Kalis Mardiasih membedah fenomena ini dengan kacamata yang humanis. Namun, bagi kita yang melihat realitas hari ini, apakah “perayaan” itu sudah benar-benar inklusif bagi semua perempuan?
Dari Simbol Perlawanan ke Etalase Toko
Kalis memulai dengan menarik garis sejarah yang krusial. Banyak dari kita mungkin lupa atau bahkan tidak tahu bahwa gejolak hijab di Indonesia punya akar politik yang kuat, salah satunya dipicu oleh Revolusi Iran 1979. Di Indonesia sendiri, pada era Orde Baru, jilbab sempat menjadi simbol subversif dan perlawanan terhadap kontrol negara yang represif.
Melalui SK 052 tahun 1982, negara bahkan sempat secara resmi melarang penggunaan jilbab di sekolah-sekolah negeri karena dianggap sebagai representasi ekstremisme yang mengancam stabilitas Pancasila. Memakai jilbab saat itu adalah tindakan berani—sebuah perlawanan nyata terhadap kontrol negara yang represif.
Namun, ada satu mata rantai yang terasa luput dari penjelasan Kalis yaitu bagaimana simbol perlawanan ini tiba-tiba bergeser menjadi lambang identitas moral seseorang? Transisi ini cukup ironis. Begitu negara mulai melunak di akhir era 90-an, jilbab perlahan mengalami domestikasi. Dalam artina tidak lagi menjadi simbol pemberontakan dan mulai diadopsi sebagai atribut identitas muslimah yang taat.
Selain itu jilbab juga perlahan berubah menjadi ajang berpakaian. Masuknya pengaruh desainer seperti Jenahara dkk. menandai era di mana jilbab bukan hanya sekadar kewajiban agama, tetapi juga tren gaya hidup. Kapitalisme dengan cerdik membaca peluang ini. Kelompok menengah muslimah menjadi pasar yang sangat basah. Seemenjak itu jilbab semakin populer dan digemari. Hingga akhirnya kelompok muslimah berjilbab mendominasi.
Fakta ini tertoreh oleh dari 2023 Alvara Research Center, jumlah perempuan muslim yang mengenakan jilbab kini telah mencapai 74,9%. Angka dominan ini menunjukkan bahwa identitas berjilbab telah menjadi “normalitas” baru.

Sudah Berjilbab Masih Saja Salah
Bagi banyak perempuan di Indonesia, pengalaman berjilbab sering dibarengi dengan komentar tak diminta, yang bahkan dilakukan oleh sesama perempuan. Mulai dari urusan rambut yang sedikit terlihat, bentuk jilbab yang dianggap kurang menutup dada, hingga gaya pashmina atau jilbab serut yang dianggap kurang syar’i.
Entah mengapa ada obsesi kolektif untuk mencari celah dosa pada penampilan perempuan berjilbab. Jilbab yang seharusnya menjadi ruang privat antara hamba dan Tuhannya, berubah menjadi alat validasi kesalehan sosial yang melelahkan. Kalis mencoba menegaskan bahwa dalam setiap helaian kain itu, ada kondisi nyaman yang berbeda-beda bagi setiap perempuan, dan itu seharusnya dihargai.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Rapi: Membaca Ulang Makna Rumah lewat Mindful Home
Jilbab dan Ekspektasi “Attitude”
Salah satu poin paling tajam yang muncul dari diskusi buku ini adalah bagaimana jilbab kemudian dikaitkan secara paksa dengan perilaku (attitude). Ada beban ganda yang harus dipikul perempuan berjilbab mereka tidak boleh hanya sekadar menutup kepala, tapi juga harus menjadi representasi kesempurnaan akhlak.
Ambil contoh kasus viral seperti Oklin. Ketika seorang perempuan berjilbab menunjukkan ekspresi diri yang dianggap “tidak pantas” oleh norma publik—misalnya berjoget atau bertingkah ekspresif—reaksi yang muncul sangat misoginis. Dalam buku ini, Kalis bahkan memaparkan salah satu tokoh publik laki-laki dengan entengnya berkomentar, “Lepas saja jilbabnya kalau kelakuannya begitu.”
Ini adalah logika yang cacat, karena jilbab diperlakukan seperti seragam yang izin pakainya ditentukan oleh opini publik. Jika perempuan memakai jilbab tapi berperilaku bebas, mereka dihujat. Jika mereka tidak memakai jilbab tapi beragama Islam, mereka tetap digunjingkan. Tubuh perempuan seolah-olah menjadi milik semua orang, kecuali milik perempuan itu sendiri.
Menempatkan Akal dan Kemanusiaan dalam Beragama
Kalis Mardiasih menawarkan jalan tengah yang sangat humanis dengan menempatkan aspek akal budi dan kemanusiaan sebagai fondasi utama. Bahwa perempuan berjilbab atau tidak adalah manusia yang mulia. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa panjang kain yang ia kenakan, melainkan oleh integritas dan kemampuannya menggunakan akal budi untuk kebaikan.
Mungkin inilah makna “dirayakan” yang dimaksud Kalis. Ketika jilbab tidak lagi menjadi alat penghakiman, melainkan pilihan sadar yang dihormati tanpa embel-embel tekanan sosial. Sebuah perayaan atas kemanusiaan perempuan yang melampaui atribut lahiriah.
Bagaimana dengan Mereka yang Berjilbab Karena Tekanan?
Bagi kita yang memiliki kemewahan untuk memilih, jilbab memang bisa dirayakan sebagai identitas. Tapi, bagaimana dengan mereka yang tidak punya pilihan?
Narasi jilbab sebagai “pilihan bebas” masih sering abai terhadap realitas di tempat-tempat seperti Iran atau Afghanistan, di mana perempuan dipukuli, dipenjara, bahkan kehilangan nyawa karena menolak atau salah dalam mengenakan jilbab. Bahkan di Indonesia pun, kita masih menemukan pemaksaan jilbab di lembaga-lembaga pendidikan atau instansi tertentu melalui aturan yang diskriminatif.
Bagi perempuan yang teropresi oleh kewajiban berjilbab, kata “dirayakan” mungkin terdengar menyakitkan. Jika kita hanya merayakan jilbab sebagai pilihan, kita berisiko melupakan mereka yang memakai jilbab karena rasa takut—pada polisi moral, takut pada sanksi sosial, atau takut pada kekerasan fisik.
Baca juga: Satu Dekade Mengeja Damai: Membaca Puisi Ajeng Restiyani
Kedaulatan Tubuh Adalah Kunci
Esok Jilbab Kita Dirayakan adalah refleksi penting bagi masyarakat Indonesia untuk berhenti menjadi hakim bagi tubuh perempuan. Buku ini mengajak kita untuk lebih empatik dan menggunakan akal sehat dalam beragama.
Perayaan sejati hanya akan terjadi jika setiap perempuan memiliki kedaulatan penuh atas tubuhnya sendiri. Jilbab baru benar-benar bisa dirayakan ketika ia dipakai tanpa paksaan, dan ketika mereka yang memilih untuk tidak memakainya juga tidak lagi dipandang sebelah mata.
Sebab kehormatan perempuan bukan terletak pada kainnya, tapi pada kemerdekaannya untuk memilih jalan hidupnya sendiri.




Comments are closed.