Ditulis oleh Syahrianto •
KABARBURSA.COM – Perdagangan saham pada Jumat, 10 April 2026, diwarnai tekanan pada sejumlah emiten yang masuk dalam daftar top losers.
Penurunan harga saham ini terjadi seiring dengan aksi jual asing yang terlihat dominan pada beberapa saham utama.
Saham KUAS memimpin pelemahan dengan turun 14,02 persen ke level 141. Penurunan ini terjadi di tengah nilai transaksi mencapai Rp114,57 miliar dengan volume 7,19 juta saham dan frekuensi 53,33 ribu kali, serta diiringi net foreign sell sebesar Rp759,68 juta.
Sementara itu, saham HDFA turun 9,84 persen ke level 110. Berbeda dengan KUAS, saham ini justru mencatat net foreign buy sebesar Rp26,79 juta dengan nilai transaksi Rp1,39 miliar.
Tekanan juga terlihat pada saham MSKY yang melemah 6,19 persen ke level 91. Saham ini mencatat nilai transaksi Rp38,56 miliar dengan volume 3,87 juta saham dan net foreign sell sebesar Rp335,37 juta.
Saham IPAC turun 6,02 persen ke level 156 dengan nilai transaksi Rp51,29 juta. Aktivitas perdagangan saham ini relatif terbatas dengan frekuensi 186 kali.
Pada saham CTTH, harga turun 5,68 persen ke level 83. Nilai transaksi tercatat Rp1,99 miliar dengan volume 234,85 ribu saham.
Saham BRRC melemah 4,94 persen ke level 77. Meski turun, saham ini mencatat net foreign buy sebesar Rp53,58 juta dengan nilai transaksi Rp5,36 miliar.
Sementara itu, saham PEGE turun 4,91 persen ke level 155. Penurunan ini diiringi net foreign sell sebesar Rp238,04 juta dengan nilai transaksi Rp8,59 miliar.
Saham LINK melemah 4,66 persen ke level 1.840 dengan nilai transaksi Rp191,17 juta. Aktivitas transaksi saham ini relatif terbatas dengan volume 1,04 ribu saham.
Pada saham SHIP, harga turun 4,66 persen ke level 3.680. Saham ini mencatat net foreign buy sebesar Rp60,63 juta dengan nilai transaksi Rp1,04 miliar.
Sementara itu, BDMN turun 4,58 persen ke level 2.500. Penurunan ini terjadi dengan net foreign sell sebesar Rp1,49 miliar dan nilai transaksi Rp8,16 miliar.
Pergerakan saham-saham ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak selalu diikuti aksi jual asing di seluruh emiten.
Beberapa saham justru mencatatkan net foreign buy meski berada di zona merah.
Data tersebut mencerminkan dinamika pasar di mana pergerakan harga saham dipengaruhi oleh aktivitas domestik dan asing yang berjalan tidak seragam.(*)





Comments are closed.