Sun,26 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kisah Rumah Gratis di ITB, Tempat Mahasiswa Bertahan Saat Biaya Hidup Hampir Habis

Kisah Rumah Gratis di ITB, Tempat Mahasiswa Bertahan Saat Biaya Hidup Hampir Habis

kisah-rumah-gratis-di-itb,-tempat-mahasiswa-bertahan-saat-biaya-hidup-hampir-habis
Kisah Rumah Gratis di ITB, Tempat Mahasiswa Bertahan Saat Biaya Hidup Hampir Habis
service

Kisah Rumah Gratis di ITB, Tempat Mahasiswa Bertahan Saat Biaya Hidup Hampir Habis


“Tiba-tiba ada kabar, ‘Bu, saya sudah lulus. Terima kasih sudah diberi kesempatan tinggal di Rumah Anak Bangsa’. Bagi kami, kabar seperti itu sudah membahagiakan,” kata Ariati.

Selama bertahun-tahun menyediakan tempat tinggal bagi mahasiswa secara gratis, mendengar kabar kelulusan “anak-anak”-nya tentu menjadi kabar paling membahagiakan.

Sebagai alumni ITB, Ariati Arismunandar paham betul bagaimana rasanya berjuang di perantauan. Makanya, ia menghadirkan rumah secara gratis bagi mahasiswa yang dalam kondisi kesulitan.

Rumah itu diberi nama Rumah Anak Bangsa. Selayaknya rumah biasa memang, tapi bagi beberapa mahasiswa, rumah ini adalah alasan mereka tetap bertahan.

Rumah Anak Bangsa dihadirkan oleh pasangan Doddy Rahadi (Mesin 85) dan istri Ariati Arismunandar, putri Rektor ITB ke-10, Prof. Wiranto Arismunandar.

Selama lebih dari sepuluh tahun, rumah ini sudah dihuni mahasiswa dari berbagai daerah. Mereka datang dengan cerita yang hampir mirip, yakni membawa harapan, tapi dengan kondisi finansial yang terbatas.

Beberapa dari mereka bahkan berada di fase paling kritis. Tinggal selangkah lagi lulus, tapi kehabisan cara untuk bertahan.

“Rata-rata anak-anak beasiswa yang kemudian sudah hampir lulus tapi sudah tidak cukup untuk membiayai kehidupan di luar sekolah, jadi kami bantu supaya jadi sarjana bagaimana caranya jangan sampai putus,” kata Ariati.

Rumah yang Jadikan Penghuni sebagai Keluarga

Awalnya, rumah ini hanya untuk mahasiswa Teknik Mesin. Sebab, Doddy adalah lulusan Mesin. Lalu, seiring berjalannya waktu, rumah ini juga terbuka untuk anak Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Sejak 2026, Rumah Anak Bangsa terbuka untuk seluruh mahasiswa ITB.

Kapasitasnya tidak besar, hanya cukup untuk sembilan orang. Tapi bagi penghuninya, kebaikan Ariati dan Doddy jelas tidak bisa dikalkulasikan.

Apalagi, selama ini, lebih dari 20 mahasiswa telah tinggal di sana dan berhasil lulus.

“Kami ingin manfaatkan yang selama ini ada tapi belum termanfaatkan maksimal. Saya pikir ini bisa bermanfaat untuk orang banyak. Sudah lebih dari 10 tahun dihuni oleh mahasiswa. Ini sumbangsih kita untuk ITB khususnya, umumnya untuk orang banyak, untuk anak-anak harapan bangsa,” kata Doddy Rahadi, dikutip dari laman ITB.

Para penghuni rumah pun hidup tidak sekedar numpang tidur seperti di kos. Mereka punya kehidupan yang dibangun bersama, seperti memasak, kerja bakti, diskusi, dan masih banyak lagi.

Koordinator rumah, Imam Tantowi, menggambarkan bahwa rumah itu akan menjadikan penghuninya seolah punya keluarga di Bandung.

“Kebersamaannya di sana. Seperti apa yang dipesankan kepada anak-anak agar dapat tinggal bersama, menjaga ketertiban satu sama lain, saling menjaga dan saling membantu. Itu yang sering disampaikan Bu Ariati,” katanya.

Filosofi yang Sengaja Ditinggalkan

Hal ini sebagaimana yang Ariati dan Doddy harapkan. Di ruang utama rumah, ada tulisan berisi harapan yang tidak diubah sejak awal.

“Tempat ini kami namakan RUMAH ANAK BANGSA. Supaya lulusannya menjadi orang-orang hebat yang bukan hanya pandai pada bidangnya tapi terampil berkomunikasi, mempunyai jiwa sosial yang tinggi, dan peduli kepada sesama. Didedikasikan pada orang tua, keluarga, dan bangsa sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya yang begitu besar.”

Bagi Ariati, keberhasilan rumah ini tidak diukur dari angka. Tapi yang paling berkesan adalah saat anak-anaknya berhasil lulus dari ITB.

“Tiba-tiba ada kabar, ‘Bu, saya sudah lulus. Terima kasih sudah diberi kesempatan tinggal di Rumah Anak Bangsa’. Bagi kami, kabar seperti itu sudah membahagiakan.”

Di dinding rumah, foto-foto alumni yang pernah tinggal di sana masih tersimpan. Foto itu menjadi pengingat bahwa rumah itu pernah jadi bagian dari perjalanan mereka.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.