Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Menjadi kaharusan bagi kita untuk senantiasa bersyukur dan memanjatkan puji kepada Allah SWT, yang Maha Mendengar setiap doa hamba-Nya, yang Maha Mengetahui isi hati terdalam, dan yang Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan kepada kita hakikat doa sebagai senjata orang beriman.
Rasulullah bersabda:
الدُّعَاءُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّينِ، وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
Artinya: “Doa adalah senjata orang mukmin, pilar agama (Islam), dan cahaya langit dan bumi.” (HR Al-Hakim).
Pada kesempatan ini, mari kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya tentang menjalankan perintah dan menjauhi larangan, tetapi juga tentang bagaimana hati kita bergantung sepenuhnya kepada Allah, termasuk dalam urusan doa. Karena setiap doa yang kita panjatkan sejatinya bukan hanya permintaan, tetapi juga cerminan iman kita kepada-Nya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam kehidupan ini, seringkali kita merasa doa kita berbeda-beda hasilnya. Ada doa yang langsung dikabulkan, ada yang harus menunggu, bahkan ada yang terasa belum dikabulkan. Padahal sesungguhnya, semua itu adalah bagian dari cara Allah mendidik kita. Kita perlu sadari bahwa dalam setiap doa yang kita panjatkan, ada 3 ujian yang kita hadapi:
Pertama, doa yang dikabulkan adalah ujian rasa syukur.
Seringkali kita begitu khusyuk berdoa saat kita sedang susah. Kita menangis, kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah, tetapi ketika Allah mengabulkan doa itu, rezeki datang, masalah selesai, keinginan tercapai, muncul pertanyaan: apakah kita tetap ingat kepada Allah? Ataukah kita justru kembali lalai?
Inilah ujian yang sering tidak kita sadari. Ketika doa dikabulkan, Allah sedang menguji kita, apakah kita menjadi hamba yang bersyukur atau justru menjadi hamba yang kufur nikmat. Syukur itu bukan hanya ucapan “Alhamdulillah,” tetapi bagaimana nikmat itu kita gunakan untuk taat kepada Allah.
Jika nikmat mendekatkan kita kepada Allah, itulah tanda syukur. Tetapi jika nikmat justru menjauhkan kita dari Allah, maka itu tanda kita belum lulus dari ujian tersebut. Allah telah mengingatkan kita dalam QS Ibrahim: 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Kedua, doa yang ditunda adalah ujian kesabaran.
Tidak semua doa langsung dikabulkan oleh Allah. Ada doa yang harus menunggu. Sering kita sudah berdoa siang malam, tetapi hasilnya belum terlihat. Di sinilah kesabaran kita diuji. Kita harus pahami, penundaan bukan berarti penolakan. Allah tidak pernah menolak doa hamba-Nya, tetapi Allah memilih waktu terbaik untuk mengabulkannya. Karena Allah tahu apa yang kita butuhkan, bukan sekadar apa yang kita inginkan.
Kadang kita ingin sesuatu sekarang, tetapi Allah tahu bahwa kita belum siap. Jika diberikan sekarang, bisa jadi justru membawa mudarat. Maka Allah tunda, bukan karena tidak sayang, tetapi justru karena kasih sayang-Nya.
Dalam masa penantian itu, Allah sedang mendidik kita untuk terus berdoa, terus berharap, dan tidak bergantung kepada selain-Nya. Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, tetapi sabar adalah tetap berikhtiar, tetap berdoa, dan tetap husnuzan kepada Allah.
Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 186:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦
Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketiga, doa yang belum dikabulkan adalah ujian keyakinan.
Inilah ujian yang paling berat. Ketika kita sudah lama berdoa, tetapi seolah tidak ada jawaban, di situlah iman kita diuji. Apakah kita tetap yakin kepada Allah, atau mulai ragu? Apakah kita tetap berprasangka baik, atau justru berburuk sangka?
Padahal, Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada satu pun doa yang sia-sia. Semua doa pasti dijawab. Bisa jadi Allah kabulkan di dunia, bisa jadi Allah tunda, atau Allah ganti dengan yang lebih baik, atau Allah simpan sebagai pahala di akhirat.
Maka, ketika doa kita belum dikabulkan, jangan pernah kita berkata, “Allah tidak mendengar doaku.” Tetapi katakanlah, “Allah sedang menyiapkan yang terbaik untukku.”
Kita perlu ingat firman Allah dalam QS Al-Ankabut ayat 2:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ٢
Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?”
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dari sini kita memahami bahwa doa bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang keteguhan keyakinan iman kita. Doa mengajarkan kita tiga hal besar yakni bersyukur ketika diberi, bersabar ketika menanti, dan tetap yakin ketika belum diberi. Ketiga hal ini menjadi pilar kekuatan kita. Jika kita mampu menjaga syukur, sabar, dan yakin, maka hidup kita akan tenang, hati kita akan lapang, dan iman kita akan semakin kuat.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk tetap optimis dalam setiap doa yang kita panjatkan. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim Rasulullah bersabda:
إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، وَلَا يَقُولَنَّ: اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي، فَإِنَّهُ لَا مُسْتَكْرِهَ لَهُ
Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta, dan jangan sekali-kali ia berkata: ‘Ya Allah, jika Engkau menghendaki maka berilah aku,’ karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya.”
Hadirin yang dirahmati Allah,
Marilah kita perbaiki cara kita memandang doa. Jangan hanya fokus pada terkabul atau tidaknya, tetapi lihat bagaimana doa itu membentuk diri kita. Karena sejatinya, doa yang terbaik adalah doa yang mendekatkan kita kepada Allah, menjadikan kita lebih ikhlas menerima takdir, dan lebih kuat dalam menjalani kehidupan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, kuat dalam kesabaran, dan teguh dalam keyakinan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H. Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung





Comments are closed.