Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Semakin Menjadi Tren, Orang Tua Pilih Pendidikan Anaknya di Pesantren

Semakin Menjadi Tren, Orang Tua Pilih Pendidikan Anaknya di Pesantren

semakin-menjadi-tren,-orang-tua-pilih-pendidikan-anaknya-di-pesantren
Semakin Menjadi Tren, Orang Tua Pilih Pendidikan Anaknya di Pesantren
service

Jakarta, Arina.idDi tengah perubahan zaman yang kian dinamis, akses dan pilihan layanan pendidikan semakin beragam. Namun, muncul tren yang semakin menguat di tengah masyarakat. Dewasa ini, semakin banyak orang tua yang memilih memasukkan putra-putri mereka ke pondok pesantren. Pilihan ini bukan lagi sekadar mempertahankan tradisi, melainkan wujud kesadaran  pentingnya pendidikan berbasis nilai.

Jika dahulu pesantren identik dengan pendidikan sederhana dengan biaya terjangkau, kini banyak yang telah bertransformasi. Pesantren modern hadir dengan fasilitas lengkap, kurikulum terpadu, dan biaya yang tidak sedikit—namun justru menjadi favorit. Lalu, apa sebenarnya yang dicari para orang tua?

Benteng di Tengah Arus Zaman
Bagi sebagian orang tua, keputusan memilih pesantren berangkat dari kegelisahan. Dunia luar dirasakan semakin kompleks: pergaulan bebas, derasnya pengaruh media sosial, hingga krisis moral yang perlahan menggerus karakter anak.

“Di sekolah konvensional, saya khawatir kurang pengawasan. Anak bebas memegang gawai, akses apa saja sangat mudah. Di pesantren, ada kontrol penggunaan gawai dan pembiasaan ibadah,” ujar Fatimah, orang tua siswa asal Banjarnegara yang memondokkan putrinya di sebuah boarding school ternama di Kebumen Jawa Tengah.

Dalam pandangan Fatimah, pesantren adalah benteng. Bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang pembentukan karakter.

“Di sana, anak kami tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga dilatih hidup disiplin, mandiri, dan dekat dengan agama,” imbuhnya.

Senada dengan itu, Hanum juga memiliki alasan kuat. Ia ingin anaknya tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual.

“Nilai sekolah bisa dikejar, tetapi akhlak harus dibentuk sejak dini. Itu yang tidak semua sekolah bisa berikan,” ujarnya. Ia pun mempercayakan pendidikan anaknya di Pondok Modern Zamzam, Cilongok, Banyumas.

Apa tidak kangen sebulan berpisah dengan anaknya? 

“Di sinilah, kami sama-sama belajar. Anak belajar mandiri tanpa bantuan orang tua, saya juga belajar dewasa berpisah dengannya, meski sementara waktu. Ya, buat kangen-kangenan,” ujar ibu muda ini berseloroh.

Investasi Mulia
Fenomena para orang tua memilih pendidikan anaknya di pesantren kini kembali menjadi tren. Pesantren hari ini sanggup memenuhi sesuatu yang sulit ditemukan di sekolah konvensional: integrasi antara ilmu pengetahuan dan pembinaan akhlak. Santri hidup dalam lingkungan yang sarat nilai, sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat.

Banyak pesantren modern (boarding school) kini mematok biaya cukup tinggi, mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah per tahun. Namun, bagi sebagian orang tua, hal itu bukan penghalang.

“Kalau untuk pendidikan dunia saja kita berani mahal, masa untuk akhirat tidak?” ujar Hanum mantap.

Bagi mereka, pendidikan di pesantren adalah investasi jangka panjang—bukan hanya untuk masa depan dunia, tetapi juga akhirat. Jika investasi logam mulia bersifat sementara, maka investasi ilmu dan akhlak bernilai selamanya.

Pesantren yang Bertransformasi
Fenomena ini tak lepas dari transformasi pesantren itu sendiri. Kini, pesantren hadir dengan beragam pilihan: mulai dari yang fokus pada kitab kuning, tahfidz Al-Qur’an, hingga penguasaan teknologi.

Salah satu contohnya adalah Pondok Pesantren Modern Tahfidz Al-Qur’an Andalusia di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pesantren ini menjadi etalase bagaimana pendidikan berbasis Al-Qur’an dikelola secara modern dan sistematis.

Menurut Ustadz Anwasy Mahfudz, Al Hafidz selaku mudir, Andalusia mengusung konsep kolaborasi antara kurikulum formal dan pendidikan khas pesantren.

“Tujuan kami sederhana: melahirkan generasi yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki akhlak dan kemampuan akademik yang baik,” jelasnya.

Ritme Hidup Membentuk Karakter
Kehidupan santri di Andalusia dimulai sejak dini hari. Pukul 03.00 WIB, mereka bangun untuk melaksanakan qiyamul lail, dilanjutkan shalat Subuh berjamaah dan hafalan Al-Qur’an. Pagi harinya diisi dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah (MTs Andalusia), yang mengintegrasikan kurikulum pesantren dan madrasah.

Program tahfidz menjadi inti kegiatan. Santri menghafal Al-Qur’an setelah Subuh dan Maghrib, serta menyetorkan hafalan pada pagi hari. Setiap Kamis sore digelar sima’an, dan bagi yang telah mencapai lima juz akan diuji oleh dewan hakim untuk memperoleh syahadah.

Kegiatan penunjang juga dirancang untuk menjaga keseimbangan. Mulai dari yasinan, tahlil, istighosah, hingga hadroh dan pemutaran film Islami.

Pada hari Jumat, santri mendapat ruang pengembangan diri: olahraga, musik, pramuka, hingga bela diri. Mereka juga dibekali keterampilan hidup seperti budidaya tanaman, peternakan, perikanan, dan kewirausahaan.

“Kami menggembleng santri agar siap hidup di masyarakat. Tidak hanya alim, tetapi juga mandiri,” tambah Ustaz Anwasy.

Seluruh aktivitas tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan proses pembentukan karakter yang utuh—menyentuh aspek spiritual, intelektual, dan keterampilan hidup sekaligus.

Kembali ke Pesantren
Dalam sebuah pengajian di Gedung Aswaja Banjarnegara pada 11 April 2026, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf menyampaikan pesan khusus kepada para orang tua. Menurutnya, mencintai nilai-nilai keislaman tidak cukup dengan simbol, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, salah satunya melalui pendidikan di pesantren.

“Kalau kita serius memikirkan masa depan generasi, pesantren adalah salah satu jalan terbaik,” ujarnya.

Ia mengibaratkan pesantren seperti pusat pilihan pendidikan.

“Sekarang pesantren itu seperti mal. Tinggal pilih sesuai kebutuhan anak,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya keseimbangan. Anak harus kuat dalam akidah, akhlak, sekaligus mampu menghadapi tantangan zaman.

Fenomena meningkatnya minat terhadap pesantren menunjukkan adanya kebutuhan yang belum sepenuhnya terjawab oleh sistem pendidikan konvensional. Orang tua tidak lagi semata mencari sekolah terbaik secara akademik, tetapi juga tempat terbaik untuk membentuk karakter anak.

Pesantren hadir menjawab kebutuhan itu. Di sanalah butuh keberanian orang tua untuk berinvestasi pada sesuatu yang bermuara pada kemuliaan anak dan kemaslahatan umat. Ketika Al-Qur’an telah menjadi teman hidup, jalan pulang anak-anak itu akan selalu terjaga.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.