
Foto: MizarVision
Teknologi.id – Isu penggunaan kecerdasan buatan dalam konflik militer kembali mencuat. Kali ini, laporan intelijen Amerika Serikat menyebut adanya dugaan bahwa Iran memanfaatkan teknologi citra satelit berbasis AI dari perusahaan China untuk menentukan target serangan di Timur Tengah. Dugaan ini menambah ketegangan geopolitik yang sudah tinggi di kawasan tersebut.
Informasi ini pertama kali diungkap oleh sumber internal dari Defense Intelligence Agency (DIA), badan intelijen militer di bawah Pentagon. Menurut sumber tersebut, teknologi AI memungkinkan Iran mengidentifikasi target militer dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi dibanding metode konvensional.
Peran AI dalam Analisis Target Militer
Teknologi yang dimaksud bukan sekadar citra satelit biasa. Dengan bantuan AI, data visual dapat dianalisis untuk mengenali objek penting seperti sistem pertahanan udara, pesawat tempur, hingga radar militer. Hal ini membuat proses identifikasi target menjadi lebih cepat dan akurat.
Intelijen AS menduga Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memanfaatkan data tersebut untuk menentukan sasaran serangan, baik menggunakan rudal maupun drone. Penggunaan AI dalam konteks ini dianggap sebagai lompatan besar dalam strategi militer modern.
Baca juga: Iran Terapkan Tol Bitcoin di Selat Hormuz, Biaya Tembus Rp32 Miliar
Jejak Publikasi Citra Satelit
Sorotan utama mengarah pada perusahaan AI geospasial asal China, MizarVision. Perusahaan ini dilaporkan mempublikasikan citra satelit sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah, lengkap dengan penandaan detail lokasi strategis.
Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Dalam beberapa hari sebelum konflik memanas, citra satelit pangkalan tersebut diunggah berulang kali di media sosial China, Weibo.
Pada salah satu unggahan, terlihat lokasi sistem pertahanan rudal Patriot. Unggahan lain menunjukkan posisi puluhan pesawat militer di area tersebut. Menariknya, tidak lama setelah publikasi terakhir, pangkalan tersebut menjadi target serangan yang menyebabkan korban dari pihak militer AS. Peristiwa ini memunculkan dugaan bahwa data yang dipublikasikan tersebut dimanfaatkan untuk menentukan prioritas target secara lebih efektif.
Bukan Sekadar Bisnis?
Pengamat keamanan dari Elliott School of International Affairs, Michael Dahm, menilai bahwa model bisnis perusahaan seperti MizarVision patut dipertanyakan. Ia menyoroti praktik distribusi data secara gratis yang dianggap tidak lazim bagi perusahaan komersial.
Menurutnya, jika sebuah perusahaan terus membagikan data bernilai tinggi tanpa model monetisasi yang jelas, ada kemungkinan pihak lain yang mendukung operasional tersebut. Hal ini memicu spekulasi adanya kepentingan strategis di balik aktivitas tersebut. Di sisi lain, China memang memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Iran, terutama dalam sektor energi.
Baca juga: Efek ‘Kodok Direbus’: Studi Ungkap AI Turunkan Berpikir Kritis
Bantahan dari Pemerintah China
Menanggapi tudingan tersebut, pemerintah China membantah adanya keterlibatan dalam aktivitas militer Iran. Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa perusahaan di negaranya beroperasi sesuai hukum yang berlaku.
Mereka juga menyebut bahwa citra satelit yang dipublikasikan berasal dari sumber terbuka, yang merupakan praktik umum dalam industri teknologi. China menilai tudingan tersebut sebagai upaya mengaitkan negaranya dengan konflik secara tidak berdasar.
Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan ini, satu hal menjadi jelas: AI kini memainkan peran penting dalam dinamika perang modern. Kemampuan analisis data yang cepat dan akurat menjadikan teknologi ini sebagai aset strategis yang tidak bisa diabaikan.Jika teknologi ini terus berkembang, bukan tidak mungkin konflik di masa depan akan semakin dipengaruhi oleh AI, bukan hanya kekuatan militer konvensional.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(ir/sa)





Comments are closed.