Arina.id – Stok persenjataan Amerika Serikat (AS) disebut-sebut mulai menipis akibat perilaku doyan perang mereka. Dalam berbagai konflik perang di dunia, hampir pasti jejak keterlibatan AS selalu ada di sana. Mulai perang di Irak, Afghanistan, Suriah, Ukraina sampai Iran.
Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, dengan Menteri Pertahanannya Pete Hegseth, telah menaruh dasar pemerintahannya pada semangat “siaga perang”. Hegseth dikabarkan telah mengumpulkan sejumlah pengusaha otomotif di Paman Sam agar membantu negara memproduksi senjata.
Wall Street Journal (WSJ), mengutip “orang-orang yang mengetahui diskusi tersebut,” mengatakan Pentagon di bawah pemerintahan Trump telah mendesak para pemimpin industri otomotif AS untuk berbuat lebih banyak bagi upaya perang. Persediaan senjata nasional Amerika mulai terlihat agak menipis akibat dikirim ke luar negeri.
Para CEO, termasuk Mary Barra dari General Motors dan Jim Farley dari Ford, termasuk di antara para eksekutif yang telah duduk berdiskusi dengan pejabat pertahanan tingkat tinggi tentang peningkatan produksi senjata di pabrik-pabrik yang saat ini digunakan untuk memproduksi mobil.
Mereka diminta memanfaatkan tenaga orang-orang yang saat ini bekerja sebagai pekerja otomotif. Perlu dicatat bahwa GM sudah memproduksi kendaraan militer yang disebut Infantry Squad Vehicle atau ISV.
Gizmodo mengutip laporan WSJ, Menteri Pertahanan/Perang Pete Hegseth dalam pidatonya pada November 2025, menggambarkan upaya industri yang ingin ia lihat, tetapi terdengar lebih seperti ChatGPT daripada yang mungkin ia maksudkan: “Kita tidak hanya membeli sesuatu. Kita sedang menyelesaikan masalah hidup dan mati bagi para pejuang kita. Kita tidak membangun untuk masa damai. Kita sedang mengalihkan Pentagon dan basis industri kita ke kondisi siap perang.”
Pernyataan Pentagon itu menekankan bahwa Departemen Pertahanan/Perang “berkomitmen untuk memperluas basis industri pertahanan secara cepat dengan memanfaatkan semua solusi dan teknologi komersial yang tersedia untuk memastikan para prajurit kita mempertahankan keunggulan yang menentukan.”
Awal April 2026 ini, Presiden Trump meminta anggaran militer sebesar USD1,5 triliun, dengan tujuan eksplisit, yakni untuk perluasan basis industri. Pidato siaga perang Hegseth ini seperti menjiplak pidato Franklin Delano Roosevelt (FDR) tahun 1940 yang ada pada buku-buku SMA, yakni tentang “Gudang Senjata Demokrasi,” salah satu mahakarya propaganda perang AS sepanjang masa.
Di dalamnya, FDR mengemukakan bahwa Nazi merupakan ancaman bagi cara hidup Amerika, dan bahwa sekutu AS membutuhkan bantuan Amerika untuk melawan mereka. “Kita tidak diminta untuk mengorbankan nyawa kita, tetapi hanya untuk bersatu sebagai pemerintah, industri, dan pekerja.”
“Kita harus memiliki lebih banyak kapal, lebih banyak senjata, lebih banyak pesawat—lebih banyak segalanya. Dan ini hanya dapat dicapai jika kita menyingkirkan gagasan ‘bisnis seperti biasa’. Pekerjaan ini tidak dapat dilakukan hanya dengan menambahkan kebutuhan pertahanan negara pada fasilitas produksi yang ada.”





Comments are closed.