Arina.id – Ada kekhawatiran harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bakal naik di tengah ketidakstabilan harga minyak dunia, terutama imbas dari perang berdarah di Timur Tengah antara Iran vs AS-Israel.
Perang di Timur Tengah tengah memasuki babak baru. AS mengeluarkan sanksi ekonomi menutup semua akses kapal di pelabuhan Iran. Hal ini diprediksi bakal memukul perekonomian dunia, terutama bagi negara-negara yang masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan negaranya.
Lalu bagaimana dengan harga BBM bersubsidi di Indonesia? Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menegaskan sampai akhir tahun 2026 bisa dipastikan tidak akan ada kenaikan harga, terutama untuk BBM subsidi.
Menurut dia, keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto setelah lawatan ke Rusia dan Prancis. Setelah menghadap Presiden, Bahlil mengatakan stabilitas harga BBM subsidi masih sejalan dengan kondisi pasokan energi nasional.
“Saya sampaikan kepada publik, bahwa Insya-Allah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, baik itu bensin, maupun LPG. Insya-Allah aman, dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden, bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun,” katanya, dalam siaran pers Jumat, 17 April 2026.
Kebijakan itu, lanjutnya, menjadi kabar baik bagi masyarakat, terutama kelompok yang paling terdampak oleh fluktuasi harga energi.
Dari sisi fiskal, pemerintah menilai kebijakan tersebut masih aman untuk dijalankan. Hal itu didukung oleh harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price) yang masih berada di bawah asumsi anggaran, sehingga ruang fiskal dinilai masih cukup kuat untuk menjaga harga BBM subsidi tetap stabil tanpa menambah beban masyarakat.
“Doain, ini kan tergantung dengan harga ICP, tapi kalau sampai dengan 100 dolar AS itu sudah aman BBM. Dan sekarang harga rata-rata ICP Januari sampai dengan sekarang itu tidak lebih dari 77 dolar AS. Jadi kita itu baru split 7 dolar AS,” kata Bahlil.
Sementara itu, dari sisi pasokan, ia mengatakan pemerintah masih menghadapi kebutuhan impor sekitar 1 juta barel per hari. Kondisi itu terjadi karena konsumsi BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi dalam negeri baru berada di kisaran 600-610 ribu barel per hari.
Di sisi lain, pemerintah juga membuka peluang penguatan kerja sama energi dengan Rusia, tidak hanya pada pasokan minyak mentah, tetapi juga pada sektor infrastruktur penunjang. Bahlil menyebut ada pembahasan mengenai investasi di bidang kilang dan penyimpanan energi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
“Itu salah satu poin yang kemarin kita bicarakan, bahwa memang ada beberapa investasi mereka yang pick up, sudah siap untuk masuk, tetapi finalisasinya tunggu ada 1-2 putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage. Nanti baru kami akan sampaikan,” ujar Bahlil.
Dengan sejumlah langkah tersebut, pemerintah berharap stabilitas energi dapat terus terjaga sepanjang tahun. Kepastian harga BBM subsidi diharapkan memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap menjalankan aktivitas ekonomi dengan lebih tenang di tengah dinamika harga energi global, katanya menambahkan.





Comments are closed.