Jakarta, Arina.id — Dosen filsafat Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa kebajikan tidak cukup dipahami sebagai kebenaran semata, tetapi harus disertai kebijaksanaan dalam penerapannya di kehidupan nyata. Hal ini merujuk pada pemikiran Sokrates tentang makna kebajikan.
Menurutnya, dalam perspektif Sokrates, kebajikan identik dengan kebijaksanaan. Perbuatan baik tidak hanya dinilai dari benar atau salah secara teori, tetapi juga dari ketepatan dan efektivitas dalam situasi tertentu.
“Kebajikan itu adalah kebijaksanaan. Ternyata perbuatan baik itu perbuatan yang bijaksana untuk bertindak secara efektif atau tepat dalam situasi tertentu berdasarkan pengetahuan tertentu,” ujar Fahrudin Faiz dalam tayangan video Mengaji Hening diakses Jumat (17/4/2026).
Ia menekankan pentingnya dasar pengetahuan dalam menilai suatu tindakan, sekaligus kesesuaian dalam pelaksanaannya. Dalam kajian epistemologi, hal ini dikenal dengan dua konsep utama, yakni know that (mengetahui apa yang benar) dan know how (mengetahui bagaimana menerapkannya).
“Kalau kalian tanya, ‘Pak, ini perbuatan baik apa buruk?’ Coba dicek itu dasar ada dasar pengetahuannya gak? Ada dasar ilmunya atau tidak? Kemudian pas atau tidak situasinya? Efektif atau tidak?” lanjutnya.
Fahrudin menjelaskan, know that merujuk pada pemahaman terhadap kebenaran, sementara know how berkaitan dengan cara menerapkan kebenaran tersebut secara tepat. Keduanya harus berjalan beriringan agar melahirkan kebajikan.
“Jadi baik itu know that dan know how. Know that tahu apa? Know how itu tahu bagaimana,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kebenaran saja tidak cukup tanpa kebijaksanaan dalam penerapan. Bahkan, kebenaran yang tidak disesuaikan dengan konteks bisa berujung pada keburukan.
“Ada banyak kebenaran yang kalau dijalankan tanpa kamu pertimbangkan situasi, dia bisa berubah jadi keburukan,” ujarnya.
Fahrudin juga memberi ilustrasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti situasi ketika seseorang harus memilih antara berkata jujur atau mempertimbangkan kondisi emosional lawan bicara. Dalam kondisi seperti itu, kebijaksanaan menjadi faktor penentu.
“Makanya kalau ada pernyataan kebenaran itu belum cukup, kita perlu sampai pada kebijaksanaan. Kebenaran itu know that. Kebijaksanaan itu know how,” tegasnya.
Dengan demikian, ia menyimpulkan bahwa kebajikan merupakan perpaduan antara pemahaman terhadap kebenaran dan kemampuan menerapkannya secara tepat dalam situasi yang kompleks.
“Jadi justru kebajikan itu yang mix dua-duanya. Kebenarannya nggak boleh ditinggal tapi diaplikasikan secara tepat yaitu know how-nya,” pungkasnya.





Comments are closed.