Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Maradona di Antara Dosa dan Mukjizat

Maradona di Antara Dosa dan Mukjizat

maradona-di-antara-dosa-dan-mukjizat
Maradona di Antara Dosa dan Mukjizat
service

Titimangsa 22 Juni 1986, Stadion Azteca di Meksiko tidak hanya menjadi panggung sepak bola. Sore itu Argentina bertemu Inggris dalam perempat final Piala Dunia. Di papan pertandingan, laga itu hanya perebutan tiket semifinal. Namun, bagi banyak orang Argentina, pertandingan tersebut membawa beban yang jauh lebih tua tinimbang sembilan puluh menit permainan. Empat tahun sebelumnya, Perang Malvinas atau Falklands meninggalkan kekalahan, rasa hina, dan luka nasional yang belum reda.

Lalu Diego Armando Maradona (1960-2020) berlari ke kotak penalti. Bola melambung. Peter Shilton, penjaga gawang Inggris yang jauh lebih tinggi, maju untuk menangkapnya. Maradona ikut melompat. Tangannya bergerak cepat, luput dari mata wasit, cukup untuk mengubah arah bola ke gawang. Jaring bergetar. Pemain Inggris protes. Pemain Argentina merayakan. Wasit mengesahkan gol.

Sejak itu, gol tersebut tidak pernah selesai. Ia terus diputar ulang, dibela, dikutuk, dan diwariskan sebagai salah satu teka-teki moral terbesar dalam sejarah sepak bola. Secara aturan, gol itu tidak sah. Maradona memakai tangan. Tetapi sejarah jarang hidup hanya dari aturan. Dalam ingatan banyak orang Argentina, gol itu menjadi lambang kecerdikan anak rudin dari Villa Fiorito yang memperdaya negara yang pernah mengalahkan bangsanya di medan perang.

Di sinilah sepak bola memperlihatkan wajahnya yang paling rumit. Ia dapat melahirkan keindahan, tetapi juga menutupi pelanggaran dengan sorak massa. Ia dapat memberi rasa menang kepada bangsa yang terluka, meski rasa menang itu tidak selalu berarti keadilan. Dalam kajian sosial budaya tentang dirinya, Maradona tidak hanya dibaca sebagai pemain bola. Ia menjadi ikon yang dibentuk oleh media, nasionalisme, politik, dan kebutuhan publik akan pahlawan yang sanggup memikul luka bersama. 

Bangsa yang Membawa Luka ke Lapangan
Argentina datang ke Piala Dunia 1986 dengan sejarah yang belum selesai. Perang Malvinas atau Falklands tidak hanya merenggut nyawa. Ia juga mengguncang legitimasi junta militer dan memperlihatkan betapa mahal harga petualangan politik yang dikemas sebagai nasionalisme. Kekalahan dari Inggris membuat luka itu makin dalam. Maka, ketika Argentina bertemu Inggris di Meksiko, pertandingan itu tidak pernah benar-benar netral.

Bagi banyak orang Argentina, Inggris bukan sekadar lawan olahraga. Inggris adalah nama yang melekat pada pulau yang diperebutkan, perang yang hilang, dan kehormatan nasional yang terkoyak. Setiap tekel, setiap umpan, dan setiap sorak penonton membawa muatan simbolik. Lapangan hijau berubah menjadi ruang tempat sejarah kembali dimainkan dalam bentuk yang lebih aman, lebih indah, tetapi tetap penuh dendam.

Maradona berdiri tepat di tengah pusaran itu. Ia bukan diplomat, bukan jenderal, dan bukan pemimpin negara. Walakin, dalam sepak bola, tubuh seorang pemain sering kali menampung hasrat yang gagal diselesaikan oleh politik. Dua golnya ke gawang Inggris membuatnya dipahami sebagai penebus simbolik bagi Argentina. Ia memberi rakyatnya kemenangan yang tidak diberikan oleh negara.

Namun, pembacaan seperti itu harus dijaga agar tidak berubah menjadi pembenaran berlebihan. Sepak bola memang dapat memberi rasa lega kepada bangsa yang terluka. Tetapi ia tidak bisa menghidupkan kembali korban perang, menghapus kesalahan rezim militer, atau menyelesaikan sengketa geopolitik. Kemenangan Argentina memberi kepuasan emosional. Tetapi kepuasan itu adalah simbol, bukan penyembuhan.

Anak Villa Fiorito, Bukan Santo
Sebelum menjadi nama yang diteriakkan jutaan orang, Maradona adalah anak dari Villa Fiorito, wilayah miskin di pinggiran Buenos Aires. Ia lahir bukan dari akademi sepak bola yang rapi, melainkan dari ruang sosial yang keras dan terbatas. Di sana, bola bukan sekadar permainan sore hari. Bola adalah jalan keluar, bahasa tubuh, dan kadang satu-satunya cara seorang anak kecil merasa punya kuasa atas dunia yang terlalu besar. 

Dalam tradisi sepak bola Argentina, ada istilah pibe, anak muda kelas bawah yang cerdik, lincah, dan kreatif. Ada pula potrero, tanah kosong tempat sepak bola dimainkan tanpa garis resmi, tanpa pelatih bersertifikat, dan tanpa fasilitas layak. Dari ruang seperti itu, Maradona belajar menggiring bola dengan naluri jalanan. Ia belajar mengecoh lawan karena ruang selalu sempit. Ia belajar menjaga bola karena tubuhnya kecil. Ia belajar cepat mengambil keputusan karena kesempatan selalu datang sebentar.

Namun, kisah ini tidak boleh dibaca sebagai romantisasi kemiskinan. Kita sering menyukai cerita anak melarat yang menjadi legenda karena cerita itu memberi harapan. Tetapi kemiskinan bukan pabrik kejeniusan. Kemiskinan lebih sering berarti rumah bocor, gizi buruk, sekolah yang rapuh, dan masa depan yang dipersempit sejak awal. Maradona berhasil keluar dari struktur itu, tetapi keberhasilannya tidak boleh dipakai untuk memperindah struktur yang melukai jutaan anak lain.

Oleh karena itu, Maradona bukan santo sepak bola yang turun dari langit. Ia adalah produk dari bakat luar biasa, kerja tubuh yang panjang, keberanian jalanan, dan ketidakadilan sosial yang membentuknya. “Tangan Tuhan” dapat dipahami sebagai bahasa dari dunia tempat kecerdikan menjadi senjata orang kecil. Tetapi pemahaman itu tidak membebaskan tindakan tersebut dari penilaian moral.

Makna Budaya Tidak Menghapus Pelanggaran
Seperti dikisahkan dengan cerkas oleh Pablo Brescia dan Mariano Paz dalam Diego Maradona: A Socio-Cultural Study (Routledge, 2023), gol perdana Maradona ke gawang Inggris harus dimulai dari fakta semenjana. Bola itu masuk setelah disentuh dengan tangan. Dalam aturan sepak bola, itu pelanggaran. Dalam bahasa sportivitas, itu kecurangan. Maka, setiap pembacaan sejarah terhadap “Tangan Tuhan” harus berdiri di atas kejujuran ini. Kita boleh menjelaskan mengapa gol itu dicintai, tetapi tidak perlu berpura-pura bahwa ia bersih.

Justru karena tidak bersih, gol itu berumur panjang. Jika Maradona mencetak gol biasa, ia mungkin hanya masuk arsip pertandingan. Karena gol itu lahir dari tangan, ia masuk ke wilayah moral. Ia membuat penonton bertanya apakah kemenangan tetap layak dirayakan ketika jalannya melanggar aturan.

Bagi banyak orang Argentina, gol itu memperoleh makna yang jauh melampaui pelanggaran. Ia dibaca sebagai kecerdikan anak kere yang memperdaya kekuatan besar. Dalam imajinasi seperti itu, tangan Maradona bukan hanya tangan seorang pemain. Ia menjadi tangan kaum kecil yang menemukan celah untuk menang.

Akan tetapi, kritik harus tetap bekerja. Menjadikan “Tangan Tuhan” sebagai simbol perlawanan dapat membantu kita memahami emosi kolektif Argentina. Tetapi itu tidak otomatis membuat tindakan tersebut benar. Luka sejarah tidak boleh menjadi izin moral untuk melanggar aturan. Kekalahan perang tidak dapat dijawab secara adil dengan kecurangan di lapangan. Penjelasan bukan pembenaran.

Kemarahan Inggris juga tidak bisa dianggap sekadar keluhan pihak yang kalah. Dari sudut aturan, protes mereka masuk akal. Sepak bola hanya dapat berjalan jika semua pemain menerima batas yang sama. Ketika pelanggaran besar lolos, rasa keadilan olahraga terganggu. Inggris bukan hanya kehilangan gol. Mereka kehilangan keyakinan bahwa pertandingan berlangsung dalam kerangka yang setara.

Gol Abad Ini dan Godaan Memaafkan
Beberapa menit setelah gol yang lahir dari tangan, Maradona mencetak gol yang lahir dari seluruh tubuhnya. Ia menerima bola di wilayah sendiri, berputar, lalu berlari seperti seseorang yang sudah melihat peta rahasia di atas rumput. Pemain Inggris datang satu demi satu. Maradona melewati mereka dengan keseimbangan yang hampir tidak masuk akal. Ia menaklukkan Shilton. Bola masuk. Kali ini tidak ada tangan. Tidak ada ruang bagi protes.

Gol itu kemudian masyhur sebagai “Goal of the Century”. Julukan tersebut tidak berlebihan. Ia memuat kecepatan, keberanian, kendali bola, imajinasi, dan ketepatan. Maradona tidak sekadar berlari. Ia membaca tubuh lawan, menipu arah gerak mereka, lalu menjaga bola tetap dekat dengan kaki kirinya. Dalam momen itu, sepak bola tampak seperti seni yang bergerak terlalu cepat untuk dijelaskan.

Tetapi gol indah itu menghadirkan persoalan liyan. Ia sering dipakai untuk menebus “Tangan Tuhan”. Banyak orang mengingat laga itu sebagai paket lengkap: satu gol licik dan satu gol agung, satu pelanggaran dan satu mahakarya. Cara mengingat ini menggoda, tetapi berbahaya. Keindahan tidak membuat pelanggaran menjadi sah. Sebaliknya, pelanggaran tidak menghapus kejeniusan.

Maradona menjadi selit belit karena dua kenyataan itu hadir dalam satu pertandingan. Ia melakukan kesalahan yang sulit dibela. Ia juga menciptakan salah satu gol terindah dalam sejarah olahraga. Kematangan membaca sejarah terletak pada kemampuan menahan dua fakta itu sekaligus. Kekaguman adalah hak penonton. Penilaian moral adalah kewajiban ingatan.

Media dan Pabrik Mitos
Gol yang berlangsung beberapa detik dapat hidup puluhan tahun jika media terus memberinya napas. “Tangan Tuhan” dan “Goal of the Century” tidak berhenti di Stadion Azteca. Keduanya masuk televisi, surat kabar, dokumenter, buku, lagu, mural, arsip digital, dan percakapan keluarga. Maradona tidak hanya dikenang karena mencetak gol. Ia dikenang karena gol itu terus diputar ulang seolah-olah sejarah belum selesai memutuskan maknanya.

Inilah ciri sepak bola modern. Peristiwa di lapangan tidak lagi berdiri sendiri. Kamera memilih sudut. Komentator memberi emosi. Surat kabar menciptakan judul. Dokumenter menyusun ulang ingatan. Media sosial kemudian mengubah arsip menjadi potongan singkat yang mudah disebarkan, dipuja, dan diperdebatkan.

Maradona adalah bahan sempurna bagi industri kisah. Ia datang dari kemiskinan, bermain seperti seniman jalanan, berbicara dengan nada perlawanan, menciptakan keajaiban, lalu jatuh dalam skandal. Hidupnya memuat semua unsur yang disukai media: bakat, luka, konflik, kejayaan, dosa, dan kehancuran.

Tetapi media tidak hanya merekam Maradona. Media juga menyusun Maradona. Ia diberi label sebagai genius, pemberontak, penipu, korban, dewa, pecandu, dan pahlawan rakyat. Setiap label mengandung sebagian kebenaran. Tidak ada satu pun yang cukup untuk menjelaskan dirinya secara jangkap.

Pahlawan Rakyat dan Risiko Pemujaan
Setiap zaman punya cara menciptakan pahlawan. Ada yang lahir dari perang, ada yang lahir dari revolusi, ada pula yang lahir dari lapangan bola. Maradona termasuk jenis terakhir. Ia membawa tubuh kecil dari Villa Fiorito, kaki kiri yang ganjil, lidah yang tajam, dan keberanian menantang siapa pun yang dianggap lebih besar. Dari bahan seperti itulah publik membangun figur yang lebih besar daripada manusia.

Di Argentina, Maradona menjadi pahlawan rakyat karena memberi kemenangan kepada mereka yang lama merasa kalah. Di Napoli, ia menjadi lambang martabat kota yang sering dipandang rendah. Di banyak tempat lain, ia dibaca sebagai suara Selatan Global yang berani menatap kekuasaan besar.

Fenomena paling ekstrem tampak dalam “Church of Maradona”, sebuah praktik pemujaan yang berada di antara parodi, ritus, dan keseriusan emosional penggemar. Stadion menyerupai tempat ibadah. Nyanyian suporter menyerupai doa. Kaus bernomor sepuluh berubah menjadi relik. Gol dikenang laksana mukjizat.

Masalahnya, pemujaan hampir selalu menuntut penyederhanaan. Agar pahlawan tetap tinggi, bagian hidupnya yang mengganggu sering diperkecil. Kecanduan dianggap luka personal. Komentar kasar disebut spontanitas. Relasi problematis dengan perempuan disisihkan sebagai urusan pribadi. “Tangan Tuhan” dibingkai sebagai kecerdikan, bukan pelanggaran.

Maradona tidak perlu dihancurkan oleh kesalahannya. Walakin ia juga tidak boleh diselamatkan dari kritik hanya karena pernah memberi kebahagiaan kepada banyak orang. Sejarah yang dewasa harus mampu memisahkan penghargaan dari pemujaan.

Sepak Bola sebagai Politik Emosi
Sepak bola sering menjadi tempat rakyat mencari kemenangan yang tidak mereka peroleh dari negara. Ketika politik gagal memberi martabat, lapangan hijau menyediakan panggung tempat orang biasa merasa terwakili. Tatkala ekonomi membuat hidup sempit, pertandingan memberi ruang lega selama sembilan puluh menit. Tatkala sejarah meninggalkan kekalahan, gol memberi ilusi bahwa sesuatu telah dibayar kembali.

Dalam kasus Maradona, politik emosi itu tampak jelas. Ia memberi Argentina rasa menang setelah masa penuh luka. Ia memberi Napoli keyakinan bahwa kota yang dihina dapat menaklukkan pusat kekuasaan sepak bola Italia. Ia memberi orang miskin gambaran bahwa tubuh kecil dari pinggiran dapat mengguncang dunia. Namun, sepak bola dapat memberi rasa keadilan tanpa benar-benar menghadirkan keadilan. Setelah Argentina mengalahkan Inggris, trauma perang tidak hilang. Setelah Napoli menjadi juara, ketimpangan antara Italia Selatan dan Utara tidak selesai. Setelah anak miskin melihat Maradona menjadi dewa bola, jalan keluar dari kemiskinan tetap hanya terbuka bagi sedikit orang.

Oleh sebab itu, sepak bola perlu dicintai dengan mata terbuka. Ia dapat menghibur luka sejarah, tetapi tidak boleh menggantikan keberanian untuk menyembuhkannya.

Cermin untuk Indonesia
Pengalaman Argentina bersama Maradona tidak jauh dari cara banyak orang Indonesia mencintai sepak bola. Kita mungkin tidak memiliki Malvinas atau Falklands dalam sejarah sepak bola nasional. Tetapi kita mengenal rasa yang serupa dalam bentuk lain. Kemenangan tim nasional sering terasa seperti pemulihan harga diri. Kekalahan terasa seperti luka bersama. Stadion menjadi tempat orang membawa nama kota, daerah, kampung, keluarga, dan ingatan masa kecil.

Dalam banyak momen, tim nasional menjadi tubuh simbolik bangsa. Ketika menang, publik merasa ikut berdiri lebih tinggi. Ketika kalah, kekecewaan menyebar ke ruang keluarga, warung kopi, kampus, kantor, dan media sosial. Sepak bola bekerja seperti bahasa nasional yang tidak membutuhkan banyak penjelasan.

Walakin, euforia perlu diawasi. Kegembiraan publik tidak boleh menjadi tirai yang menutupi masalah lama dalam sepak bola Indonesia. Kita sering menuntut kemenangan, tetapi kurang sabar membangun pembinaan usia muda. Kita merayakan pencetak gol, tetapi kerap mengabaikan kompetisi, keselamatan stadion, pendidikan suporter, fasilitas latihan, dan tata kelola federasi.

Indonesia perlu mencintai sepak bola dengan cara yang lebih dewasa. Dukungan kepada tim nasional atau klub daerah adalah bagian sah dari kebudayaan populer. Tetapi dukungan itu seharusnya tidak berhenti pada sorak, mural, unggahan media sosial, atau pesta jalanan setelah kemenangan. Cinta yang sehat menuntut perbaikan.

Gol Bisa Menang, Sejarah Belum Tentu Sembuh
“Tangan Tuhan” bertahan dalam ingatan dunia karena ia bukan sekadar gol. Ia adalah pelanggaran yang berubah menjadi mitos. Ia adalah luka perang yang menyusup ke lapangan. Ia adalah tubuh kecil anak Villa Fiorito yang memikul harapan terlalu besar. Ia adalah media yang terus memutar ulang satu detik kontroversial sampai kontroversi itu terasa seperti bagian tetap dari sejarah modern.

Maradona tidak mudah diadili dengan satu kalimat. Ia terlalu lantip untuk diringkas sebagai penipu. Ia terlalu bermasalah untuk disucikan sebagai pahlawan tanpa noda. Dalam dirinya, sepak bola menemukan salah satu wajahnya yang paling manusiawi: indah, licik, rapuh, berani, penuh hasrat, dan tidak selalu adil.

Gol ke gawang Inggris memberi Argentina kemenangan. Tetapi kemenangan itu tidak menghapus korban perang, tidak membersihkan kesalahan rezim militer, dan tidak menyelesaikan sengketa sejarah. Ia hanya memberi rakyat sebuah sore ketika rasa kalah dapat ditunda.

Bagi Indonesia, pelajarannya jelas. Sepak bola layak dicintai, tetapi cinta itu perlu ditemani kewarasan. Kita boleh bersorak untuk kemenangan. Kita boleh memiliki pahlawan. Namun, kita tidak boleh menyerahkan penilaian moral kepada mitos.

Pada akhirnya, bola memang dapat melewati garis gawang dan mengubah skor. Tetapi sejarah membutuhkan lebih dari satu gol untuk sembuh. Sejarah membutuhkan ingatan yang jujur, keberanian mengakui luka, dan kesediaan memperbaiki permainan yang kita cintai agar tidak terus hidup dari euforia yang sama.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.