Fri,1 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Kuntilanak Wangi, Organisasi Perempuan Sebelum dan Sesudah 1965

Kuntilanak Wangi, Organisasi Perempuan Sebelum dan Sesudah 1965

kuntilanak-wangi,-organisasi-perempuan-sebelum-dan-sesudah-1965
Kuntilanak Wangi, Organisasi Perempuan Sebelum dan Sesudah 1965
service

Instagram tidak hanya memberi informasi seputar gosip artis atau situasi Indonesia saat ini. Aplikasi itu juga bisa memberi informasi seputar buku. Beberapa minggu lalu saya melihat unggahan pre-order buku bersampul apik, wajah SK. Trimurti, yang sudah bisa diduga pelukisnya: Dewi Candraningrum. Buku itu berjudul Kuntilanak Wangi, Organisasi Perempuan Sebelum dan Sesudah 1965 (Komunitas Bambu, 2026) susunan Saskia E. Wieringa. Setelah menunggu cukup lama, kini buku itu ada dihadapan, sudah siap untuk dibaca. 

Tak menghabiskan waktu lama untuk mengkhatamkannya, buku ini dua bahasa (Indonesia-Inggris) jadi hanya perlu membaca setengah dari keseluruhan halaman. Bahasa dan alur pembahasan yang ditulis Saskia mudah dipahami dan diikuti meski pembaca tak punya banyak tabungan informasi seputar sejarah gerakan perempuan dan politik di Indonesia. 

Mula-mula pembaca akan diajak memahami sejarah kolonial di Nusantara. Saskia menjelaskan muali awal abad ke-16 yang melibatkan pedagang Portugis dan Spanyol lalu usaha Belanda dalam melebarkan sayap kekuasaannya ke seluruh wilayah yang kemudian disebut Indonesia, hingga pembentukan organisasi pertama berhaluan kebangsaan tahun 1928: Boedi Oetomo. 

Bagian selanjutnya, penulis menyajikan awal gerakan perempuan yang dilakukan lewat perjuangan bersenjata dan gagasan. Kartini menjadi salah satu tokoh yang diperdalam. Setelah itu penulis menceritakan perihal Gerwani,  hubungan mereka dengan PKI, hubungan Gerwani dengan organisasi-organisasi perempuan lain hingga penghancuran gerakan perempuan yang dilakukan Orde Baru. 

Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) merupakan organisasi perempuan progresif yang berfokus pada kesetaraan, hak perempuan, pemberantasan buta huruf, dan kesejahteraan anak. Dalam sejarah, Gerwani tercatat pernah menerbitkan dua majalah, Api Kartini dan Berita Gerwani. 

Api Kartini ditujukan untuk pembaca lapisan tengah yang sedang tumbuh dan memuat tulisan perihal masak-memasak, pengasuhan anak, mode, pentingnya pendidikan bagi perempuan, dan masalah-masalah sekitar kaum perempuan yang bekerja. Sementara Berita Gerwani merupakan majalah internal organisasi yang berisi berita tentang konferensi-konferensi yang akan datang, laporan kunjungan ke organisasi-organisasi perempuan di negeri sosialis dan lain-lain.  Di tahun itu, apa yang dilakukan Gerwani sebagai sebuah gerakan perempuan sangat progresif. 

Namun sayang, dalam suasana politik kotor tahun 1965, Gerwani dihancurkan lewat propaganda yang mengerikan. Angkatan Darat menyebarkan cerita keji tentang pembunuhan jenderal-jenderal oleh perempuan-perempuan muda komunis. Bahkan para ilmuan terkenal seperti Benedict Anderson dan Ruth McVey dalam tulisan mereka yang menganalisis kudeta yang terjadi tahun 1965 juga berpandangan serupa. Ini berdampak pada tindakan pembunuhan, penyiksaan dan kekerasan seksual pada semua orang yang terkait maupun dituduh terlibat dalam Gerwani. 

Rezim orde baru sukses menciptakan propaganda bahwa Gerwani adalah perempuan sihir tak bermoral, keji, dan mesti dihukum mati. Padahal, itu semua tidak benar. Gerwani adalah gerakan perempuan progresif dengan nilai-nilai sosialis. Buku Kuntilanak Wangi yang ditulis Saski memberi informasi terang pada para pembaca tentang sejarah Indonesia yang kelam terhadap gerakan perempuan di bawah orde Baru. Dari yang semulanya kritis, aktif, dan progresif dihancurkan menjadi pasif, simbolis, tunduk pada kepentingan negara, dan jauh dari permasalahan rakyat. 

Proses itu berlangsung lewat kontrol terhadap perempuan di Indonesia yang disebut Julia Suryakusuma sebagai ibuisme negara. Ibuisme negara merupakan ide yang mendefinisikan perempuan bukan sebagai individu mandiri tetapi sebagai istri dari suami, ibu dari anak-anak, dan pendukung stabilitas sosial dan negara. Peran-peran tersebut bukan sekadar norma sosial tetapi dilembagakan oleh negara dan dijadikan alat politik. 

Penerapannya dilakukan lewat organisasi PKK dan Dharma Wanita melalui program-program yang menekankan perempuan sebagai pengurus rumah tangga, pendamping suami (terutama jika suami pegawai negeri atau pejabat), pengasuh anak demi “generasi bangsa”. Julia, lewat bukunya Ibuisme Negara, Konstruksi Sosial Keperempuanan di Orde Baru (Komunitas Bambu, 2021) melihat ini semua sebagai bentuk kontrol negara terhadap perempuan karena telah menghilangkan identitas individu perempuan, membatasi peran sosial dan politik, menguatkan patriarki lewat negara, dan membungkam kritik. 

Di tengah berbagai informasi yang disajikan dalam buku Kuntilanak Wangi, ada satu bagian yang membuat saya terdiam cukup lama. Bagian itu ada di bab organisasi-organisasi perempuan orde baru. Di halaman 54, penulis menuturkan:

“‘Sungguh menarik bahwa tidak ada satu organisasi perempuan pun yang secara terbuka mencela pembunuhan kejam orang-orang gerwani yang selama 10 sampai 15 tahun terakhir bekerjasama dengan mereka. Beberapa tahun kemudian Wanita Katolik adalah organisasi pertama yang mengulurkan bantuan kemanusiaan kepada orang-orang Gerwani yang masih hidup dalam tahanan. Mereka mengunjungi tempat-tempat penahanan, membantu kehidupan para tahanan dan para korban.”

Tulisan itu membuat saya mempertanyakan makna dari women support women. Saya memikirkan alasan yang membuat organisasi-organisasi perempuan pada waktu itu memilih diam dan mengikuti instruksi Orde Baru sebagaimana yang diinginkan Soeharto. Mengapa tak ada support bagi Gerwani saat itu? Pertanyaan ini masih terus berkecamuk dalam pikiran saya, meminta untuk dijawab. Barangkali, saya bisa mendapatkan jawaban lewat buku-buku selanjutnya atau cerita dari orang-orang yang berkenan 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.