Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Dinyatakan Punah 66 Juta Tahun Silam, Ikan Purba ini Ada di Laut Indonesia

Dinyatakan Punah 66 Juta Tahun Silam, Ikan Purba ini Ada di Laut Indonesia

dinyatakan-punah-66-juta-tahun-silam,-ikan-purba-ini-ada-di-laut-indonesia
Dinyatakan Punah 66 Juta Tahun Silam, Ikan Purba ini Ada di Laut Indonesia
service

Indonesia menjadi rumah kedua yang nyaman bagi spesies laut yang sempat dinyatakan punah selama 66 juta tahun. Rumah pertamanya, adalah Benua Afrika, tepatnya perairan Afrika Selatan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Ikan raja laut, spesies purba ini, menarik perhatian dunia pada 1997 atau 29 tahun lalu. Hewan tersebut menjadi yang kedua ditemukan di dunia, yang sebelumnya diketahui hidup dan menetap di perairan Afrika Selatan. Coelacanth Sulawesi (Latimeria menadoensis), nama internasional ikan tersebut, ditemukan pertama kali di perairan Manado, Sulawesi Utara. Penemuan itu menggemparkan dunia, karena fisiknya sangat mirip dengan nenek moyangnya dari periode Cretaceous. Morfologi ikan tersebut memang sangat unik, berbeda dari kebanyakan ikan moderen yang saat ini ada. Di Indonesia, warnanya cenderung cokelat keemasan, berbeda dengan saudara tuanya di Afrika, Latimeria chalumnae yang tubuhnya didominasi biru keabu-abuan. Keduanya adalah ikan bersirip lobus (sarcopterygians) ukuran besar yang biasa menghuni gua-gua laut di kedalaman sekitar 150-200 meter. Ukurannya terbilang besar, karena bisa mencapai panjang dua meter dengan berat sekitar 100 kilogram. Peneliti yang berada satu meter di belakang ikan coelacanth pada kedalaman 144 m di bawah permukaanlaut di Maluku Utara.Tim penyelam menggunakan trimix (gas penyelaman campuran oksigen, helium, dan nitrogen yang dikhususkan untuk penyelaman laut dalam. Foto: © Alexis Chappuis/Scientific Reports Jarak usia penemuan keduanya juga sangat jauh, karena terpisah 59 tahun. Ikan spesies Afrika pertama kali ditemukan pada 1938 di atas kapal pukat ikan lokal, milik seorang kurator museum. Selain bersirip lobus, keunikan Coelacanth adalah mereka kerabat terdekat tetrapoda dan memiliki beberapa ciri morfologi-anatomi yang tidak ditemukan pada vertebrata…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.