Mubadalah.id – Menyadari pemandangan yang kerap kita jumpai ketika melawati hamparan sawah dari tepi pematang, melihat mereka datang para perempuan-perempuan dengan capil di kepala, berjalan beriringan di antara hamparan sawah yang masih basah oleh embun.
Awalnya, penulis hanya melihatnya sebagai aktivitas biasa di desa. Namun semakin sering memperhatikan, semakin tampak bahwa ada hal lain dari cara mereka berjalan bersama, cara mereka saling menyapa, hingga bagaimana tubuh-tubuh itu menunduk serempak di tengah sawah. Dari situlah penulis mulai memahami bahwa melihat realita para buruh tandur dari potret kehidupan pencari nafkah .
Dari kejauhan, terlihat buruh tandur perempuan berjalan di pematang sawah, beriringan, seperti sudah diatur oleh kebiasaan yang lama. Capil menutup kepala mereka, langkahnya begitu kecil, dan sesekali terdengar tawa kecil yang memecah dingin pagi. Mereka ada sebagai kelompok. Selalu ada yang ditunggu, disapa, atau dipanggil. Kebersamaan itu menjadi sesuatu yang direncanakan dan tumbuh dari kebiasaan setiap hari.
Tampak tangan mulai bekerja, kaki masuk ke lumpur, tubuh membungkuk, tapi suara tetap percakapan nampak semakin panjang dalam alur cerita.
“Aku wingi tuku lombok, regane mundhak maneh,” kata satu, sambil menancapkan bibit.
“Iyo, kabeh mundhak saiki,” jawab yang lain, singkat.
“Anakku wes keterima sekolah,” ujar seseorang, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda.
“Alhamdulillah, sing penting terus sekolah,” sahut yang lain.
Ketika Sawah Menjadi Ruang Pertemuan
Percakapan seperti itu terus berjalan, menyelip di antara gerakan menanam. Tidak ada yang terlalu panjang, tidak juga dibuat dramatis. Mereka tidak berhenti bekerja hanya untuk bercerita. Justru cerita itu cukup untuk membuat beban terasa lebih terbagi.
Menjelang siang, panas mulai terasa. Mereka berhenti sejenak di bawah pohon di pinggir sawah, membuka bekal dan berbagi makan sambil tetap berbincang, lalu beberapa di antaranya mengeluarkan mukena, membentangkan kain putih yang akan terpakai salat di pinggir hamparan lumpur. Tuntutan ekonomi yang keras, mereka tetap menjaga ruang untuk berhenti, menata diri, dan menguatkan jiwa, sehingga kerja, kebersamaan, dan keyakinan berjalan berdampingan dalam keseharian mereka.
Menjelang sore, pekerjaan selesai. Mereka berjalan pulang bersama. Namun obrolan belum selesai. Kali ini tentang besok. “Sesok neng sawah ngarep, kumpul luwih esuk yo.”
“Iyo, tak barengi sekalian.”
Pekerjaan tandur berpindah-pindah. Hari ini di satu sawah, besok di sawah lain. Pola ini membuat mereka tetap punya pekerjaan dan kekuatan tetap menyambung nafas . Tidak perlu menunggu lama, tidak perlu mencari sendiri. Informasi berpindah dari satu ke yang lain. Menjadi pencari nafkah para buruh perempuan tandur memiliki penghasilan secara mandiri.
Dari sini kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Dari sini mereka ikut menopang kehidupan keluarga. Yang menarik, tidak ada yang benar-benar berjalan sendiri. Jika ada pekerjaan, biasanya berbagi. Jika ada yang tidak bisa hadir, yang lain mengisi.
Di sela menanam, di antara obrolan-obrolan dan candaan ringan, terlihat bahwa sawah juga menjadi menjadi ruang pertemuan tempat cerita terbagi, beban diringankan, dan hubungan terjaga.
Tandur sebagai Gerakan Perempuan
Jika kita perhatikan lebih dekat, ada sesuatu yang terus bergerak di sana. Perempuan-perempuan ini tidak hanya bekerja untuk diri sendiri. Mereka membangun cara bertahan bersama, dengan rasa saling berbagi infromasi atau job tandur. Keesokan pagi, mereka akan kembali berjalan di pematang yang sama. Membawa capil, membawa bekal, dan mungkin membawa cerita baru. Tidak ada yang berubah drastis, tapi justru dari pengulangan itu, kehidupan terus berjalan.
Dari pengamatan yang berulang itu, penulis sebagai sosok kacamata pada satu hal, mengamini apa yang dilakukan para ibu tandur sebagai bentuk gerakan perempuan, meski tidak selalu disadari sebagai “gerakan.”
Melihat kerja perempuan, termasuk kerja informal dan kerja perawatan, sebagai fondasi yang menopang kehidupan tetapi sering tidak dihitung nilainya. Apa yang terjadi di sawah itu juga bisa dipahami sebagai ruang aman dalam kebersamaan bagi para perempuan- perempuan yang mengemban sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga.
Kebersamaan mereka saat berangkat, berbagi informasi mulut kemulut, saling mengajak, hingga menyelipkan curhatan di tengah menanam padi menunjukkan adanya jaringan solidaritas yang hidup. Bentuk kepercayaan, relasi, dan kebiasaan saling membantu yang menjadi sumber kekuatan kolektif. Mereka tidak menyebutnya organisasi, tetapi cara mereka bekerja sudah membentuk sistem yang menjaga keberlangsungan ekonomi dan kehidupan. []





Comments are closed.