Mubadalah.id – Beberapa waktu yang lalu, Paus Leo XIV mengadakan perjalanan Apostolik ke daerah-daerah di Afrika. Salah satu yang menjadi tempat kunjungan Apostolik Paus Leo adalah Aljazair. Meskipun umat Katolik di Aljazair sangat sedikit, namun Paus Leo mau untuk mengunjungi umat katolik di sana.
Aljazair sendiri merupakan negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Menurut data dari International Center of Law and Religion Studies, 99 % penduduk di Aljazair bergama Islam sedangkan 1% penduduk memeluk agama Kristen.
Dalam awal pidatonya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada otoritas sipil Aljazair atas sambutan hangat dan kehormatan dalam menyambut Takhta Suci.
Paus Leo mengatakan bahwa pengawalan militer kepada pesawat kepausan di wilayah udara Aljazair merupakan “tanda kebaikan, kemurahan hati, dan rasa hormat yang ingin ditunjukkan oleh rakyat Aljazair dan pemerintah Aljazair kepada Takhta Suci, kepada saya” ungkap Leo kepada media.
Selain kepada pemerintah Aljazair, Paus Leo juga memberikan ucapan terimakasih kepada seluruh umat Katolik , karena sudah menyambut dirinya dengan penuh sukacita.
Perjalanan sebagai “Berkat Istimewa”
Bagi Paus Leo, kunjungan ini menjadi ‘berkat istimewa’. Kepada awak media, beliau mengatakan demikian “Merupakan berkat istimewa bagi saya pribadi untuk kembali ke Annaba kemarin,” kata Paus Leo.
Dalam kunjungannya ke Aljazair, Leo berdialog dengan umat Katolik yang ada di sana dan juga berdialog dengan umat islam. Beliau sangat bergembira ketika mendegar kesaksian dari umat Katolik yang menceritakan bagaimana kehidupan mereka di tengah saudara-saudari muslim di Aljazair.
Selain kepada umat Katolik, Paus Leo juga menyempatkan diri berkunjung ke salah satu masjid di Aljazair. Menurutnya, kunjungan ini menjadi penting karena dapat terus mendorong dialog perdamaian. Kedamaian dapat tercipta ketika semua saling mendukung dan memahami.
Paus Leo XIV adalah paus pertama yang menginjakkan kaki di tanah Aljazair, namun banyak paus sebelumnya yang juga mengadakan kunjungan ke negara-negara dengan mayoritas Islam.
Salah satu yang aktif dalam kunjungan apostolik ke negara-negara mayoritas Islam adalah Paus Fransiskus. Salah satu yang terkenal adalah kunjungan Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab dan menghasilkan sebuah dokumen perdamaian bernama, dokumen Abu Dhabi pada 4 Februari 2019 silam. Dokumen ini ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Syekh al-Ahzar Ahmad al-Tayyeb.
Dialog perdamaian menjadi salah satu tujuan utama kunjungan para paus ke negara-negara Islam. Dialog-dialog perdamaian seperti ini sudah ada sejak lama, misalnya dialog perdamaian yang terjadi antara Santo Fransiskus Asisi dan Sultan Malik al-Kamil. Hal ini menunjukkan bahwa sudah sejak lama perdamaian sudah tumbuh secara bersama-sama.
Terus Menyebarkan Perdamaian di Tengah Ketegangan
Kunjungan Apostolik ini membawa kekhwatiran banyak pihak. Hal ini karena dalam beberapa waktu ini ada ketegangan antara Vatikan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Ketegangan ini bermula ketika Paus Leo mengecam serangan Amerika Serikat kepada Iran. Menurutnya, ini adalah perbuatan yang terkutuk, karena serangan itu menimbulkan banyak korban. Setelah pernyataan Paus Leo ini tersebar ke publik, Donald Trump menanggapi pernyataan itu dengan sindiran. Menurut Trump, Leo tidak perlu ikut campur dalam dunia politik dan berfokus saja pada urusan agama.
Meskipun demikian, Leo tidak pernah berhenti untuk mewartakan perdamaian. Dengan tegas dia mengatakan bahwa tidak takut dengan Trump. Dia juga menyebut bahwa dirinya tidak akan berdebat dengan Trump jika soal politik. Hanya satu yang Leo inginkan, yakni perdamaian.
Paus Leo ingin meneruskan apa yang sudah menjadi tradisi para pendahulunya, yakni terciptanya perdamaian di dunia. Di tengah perang yang terjadi, Leo mengajak seluruh umat apapun agamanya untuk saling mendoakan supaya perang cepat usai dan perdamaian dapat tercipta.
Perjalanan Apostolik Bapa Suci Leo XIV ini membawa pesan yang mendalam bagi umat manusia, yakni pentingnya perdamaian. Ia tidak hanya mengajak umat Katolik saja, namun juga mengajak semua orang untuk menciptakan perdamaian.
“Masa depan adalah milik pria dan wanita yang cinta damai,” ucapnya dalam pidatonya di istana kepresidenan Aljazair. Hal ini menegaskan bahwa perdamaian bukan hanya milik satu golongan atau agama saja, tetapi miliki semua orang.
Ini juga menjadi pesan sekaligus bahan bagi kita untuk berefleksi. Sebagai pemiliki masa depan, kita juga harus memikirkan apa yang bisa kita sumbangkan untuk mencapai perdamaian tersebut. []





Comments are closed.