Fri,8 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Lika-Liku Pelajar SMA Mencapai Perguruan Tinggi Negeri: Burn Out, Diremehkan, Gak Mau Merepotkan Orang Tua

Lika-Liku Pelajar SMA Mencapai Perguruan Tinggi Negeri: Burn Out, Diremehkan, Gak Mau Merepotkan Orang Tua

lika-liku-pelajar-sma-mencapai-perguruan-tinggi-negeri:-burn-out,-diremehkan,-gak-mau-merepotkan-orang-tua
Lika-Liku Pelajar SMA Mencapai Perguruan Tinggi Negeri: Burn Out, Diremehkan, Gak Mau Merepotkan Orang Tua
service

Beberapa bulan terakhir, hari-hari yang dijalani Alya (17) rasanya mirip dengan banyak siswa SMA dan sederajat lainnya yang terbingkai dalam tren video “a day in my life pejuang PTN” di media sosial. Alya belajar nyaris nonstop, terutama menjelang Ujian Tertulis Berbasis Komputer untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 yang berlangsung pada 21-30 April 2026.

“Pengin masuk Arsitektur ITB (Institut Teknologi Bandung),” harap siswa salah satu SMA di Bandung itu kepada Konde.co, Selasa, 5 Mei 2026.

Alya mengaku, sebelumnya ia mencoba jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Namun karena tidak lolos, ia memutuskan untuk meneruskan usahanya lewat SNBT yang baru usai pekan lalu.

“Kalau dari orang tua, ngebebasin mau masuk (jurusan) apa, yang penting kalau bisa (kampus) negeri. Kebetulan aku memang maunya arsitek, jadi usahain ke ITB dulu,” ungkap Alya.

Di media sosial, video tentang “a day in my life pejuang PTN” dipenuhi rutinitas belajar ekstrem. Siswa SMA bangun pukul 4 pagi, belajar belasan jam sehari, target skor tinggi, hingga rasa bersalah ketika beristirahat sebentar. Ada yang menunjukkan betapa fokusnya ia belajar hingga tidak sempat nongkrong dengan teman-teman sebaya. Ada pula yang justru memperlihatkan kemampuan multitasking; belajar, diselingi bermain, tapi lalu belajar lagi hingga malam larut. 

Bagi Alya, rutinitas harian biasanya dimulai sejak pukul 5 pagi. Setelah bangun dan menjalankan ibadah shalat, Alya bersiap untuk pergi ke sekolah. Di sela-sela waktu sarapan hingga perjalanan menuju dan pulang dari sekolah, ia menyempatkan diri untuk sesedikit mungkin membaca materi pelajaran yang telah diringkasnya agar mudah dan cepat dipahami. Sepulang sekolah sekitar pukul 3 sore, Alya lanjut mengikuti bimbingan belajar di dekat rumahnya. Ia kembali ke rumah sekitar pukul 6 sore dan, jika tidak capek, segera mengerjakan tugas atau berlatih soal ujian sebelum makan malam dan tidur.

Baca Juga: Nasib Guru Honorer: Gaji Telat, Hustle Culture, Hingga Dipecat Sepihak 

Di sekolahnya, pembicaraan tentang SNBT terdengar hampir setiap hari. Guru-guru menempel daftar target kampus negeri di papan kelas, lengkap dengan nama universitas dan jurusan impian. Grup WhatsApp orang tua murid ramai membicarakan passing grade, biaya les tambahan, hingga strategi memilih jurusan “aman”. Di lorong sekolah, siswa yang diterima lewat jalur prestasi dielu-elukan seperti pemenang perlombaan besar. Sementara mereka yang belum lolos atau memilih kampus swasta sering kali dipandang seolah gagal sebelum memulai hidup dewasa.

Sementara itu, Rafdian, seorang pelajar kelas 3 SMA lainnya menceritakan perjuangannya. Ia telah dinyatakan diterima di suatu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan program studi teknik elektro. Namun, di balik pencapaian itu ada perjuangannya untuk bisa berkuliah di kampus yang ia inginkan. 

Salah satunya, menyeimbangkan pencapaian akademik dengan mengemban amanah menjadi ketua OSIS. Tak dapat dipungkiri, Rafdian perlu untuk mengatur jadwal sehari-harinya, dengan tetap menyeimbangkan nilai akademik di tengah kegiatannya berorganisasi.

Ia mengaku, sejak awal kelas 1 SMA sudah menargetkan dirinya untuk masuk ke PTN saat mencapai kelas 3. Melalui kegiatan OSIS, banyak kegiatan yang ia lakukan bersama teman-temannya di sekolah. Bergelut dengan manajemen waktu selama kelas 2 dan 3, mendorongnya untuk fokus kembali pada targetnya untuk lulus PTN. 

“(Aku cari cara) gimana caranya supaya tetap fokus? Sampai akhirnya kelas 12 (mulai) fokus,” tutur Rafdian.

Di sisi lain, Eryna, siswa SMA yang juga satu organisasi dengan Rafdian menceritakan kisahnya berjuang untuk masuk ke PTN yang ia impikan di tengah tekanan masyarakat tentang “pelajar SMA yang ideal”. Usahanya dibarengi dengan ia yang masih menjalankan hobi fotografinya.

Baca Juga: ‘Saya Masih Ngajar, Padahal Mau Lahiran, Sekarang Malah di-PHK’ Cerita Pedih Guru Honorer

Eryna sejak awal SMA menyeimbangkan kiprahnya antara ranah akademik dengan non-akademik. Pada non-akademik, ia mengembangkan diri mendalami hobinya yaitu fotografi. Mengikuti lomba dan mengambil pekerjaan untuk hunting foto, menjadi hal yang ia lakukan sambil tetap berproses di ranah akademiknya. 

Di tengah waktunya untuk saling menyeimbangkan kegiatan satu sama lain, ia tetap berambisi untuk memertahankan nilainya. Dibuktikan dengan dirinya yang masuk dalam daftar pelajar yang eligible untuk masuk ke PTN jalur SNBP. 

Sayang, walaupun telah masuk dalam kriteria itu, namun ia belum juga diterima di kampus impiannya. Hal ini yang mendorong Eryna untuk lebih berusaha lagi memersiapkan SNBT. Mendengarkan musik membantu Eryna menjalani proses belajar dengan lebih fokus sekaligus rileks.

Ia menceritakan kisahnya saat mendapati dirinya yang belum bisa mendapatkan kampus impian jalur SNBP. Eryna mengaku kecewa saat itu. Namun, ia bertekad untuk tetap mencapai tujuannya agar mendapat PTN yang ia inginkan. 

“Saat masuk ke PTN nanti, setidaknya aku bisa menginspirasi dan mengarahkan usaha adik kelasku agar bisa masuk ke kampus impian mereka,” ungkap Eryna.

Semua itu dilakukan siswa SMA seperti Alya, Rafdian, dan Eryna demi satu tujuan: diterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Ketika tidak diterima lewat jalur SNBP yang membutuhkan nilai rapor cemerlang, siswa kembali belajar lebih keras untuk ujian tertulis berbasis komputer (UTBK) sebagai syarat SNBT. Masih tidak lolos? Mereka yang sanggup mungkin akan mengambil jalur ujian mandiri di PTN tujuan. Lagi-lagi, yang utama adalah diterima di kampus negeri.

Kerap kali, kegagalan diperlakukan seperti aib. Siswa yang tidak lolos PTN sering mendapat pertanyaan bernada menghakimi: “Kenapa nggak masuk negeri?” seolah kampus swasta otomatis berarti pilihan kelas dua.

Baca Juga: Pendeta dan Guru Bisa Jadi Pelaku Kekerasan Seksual, Hati-Hati dengan Orang Terdekatmu

Bagi siswa perempuan, tekanan itu bisa jadi bertambah karena mereka juga dibebani berbagai bentuk stereotipe. Bisa jadi dianggap tidak cukup pintar untuk lolos PTN, tapi sekaligus dianggap tidak perlu se-ambisius itu mengejar kampus negeri. Karena toh, menurut banyak orang yang terjebak dalam kerangka pikir patriarki, “Perempuan ujung-ujungnya kan, cuma harus ngurus rumah tangga.”

Kembali pada Alya, ia jujur merasa terbebani dengan ekspektasi masuk PTN. Apa lagi sejak memasuki kelas 3 SMA, ia harus lebih rajin belajar sehingga tidak punya banyak waktu untuk bertemu teman-temannya. Toh, mereka juga sama-sama sedang menyiapkan diri untuk lulus sekolah dan diterima di kampus impian.

“Lebih ke nggak mau ngerepotin orang tua kalau masuk (kampus) swasta. Jadi sebisa mungkin negeri, biar nggak sia-sia juga hasil belajarnya,” kata Alya. 

Ketakutan itu tidak datang begitu saja. Sejak kelas 2 SMA, ia sudah mendengar kalimat-kalimat yang terus berulang dari keluarga besar dan lingkungan sekitar. “Kalau masuk PTN, hidup kamu lebih aman.” “Orang tua sudah capek kerja, masa nggak bisa masuk negeri?” Atau, “Anak ibu ini keterima UI, masa kamu nggak bisa?”

Perbandingan-perbandingan itu perlahan berubah menjadi tekanan psikologis. Setiap nilai try out terasa menentukan masa depan. Setiap kesalahan kecil terasa seperti ancaman kegagalan besar. Di media sosial, unggahan tentang skor UTBK, ranking sekolah, dan pengumuman kelulusan terus berseliweran, membuat banyak siswa merasa harus terus kompetitif bahkan saat mereka kelelahan.

Untungnya, kendati tidak selalu meraih ranking 5 besar di kelasnya, Alya cukup percaya diri karena hasil try out-nya sangat baik. “Iya, berharapnya mah pokoknya yang terbaik aja. Doain aja,” pintanya.

Di banyak keluarga, perguruan tinggi negeri bukan lagi sekadar pilihan pendidikan, melainkan simbol keberhasilan sosial. Kampus negeri dianggap lebih bergengsi, lebih sulit ditembus, dan lebih membanggakan untuk diceritakan kepada tetangga atau keluarga besar. Nama universitas negeri ternama kerap menjadi sumber prestise tersendiri bagi orang tua, seolah keberhasilan anak diterjemahkan langsung menjadi keberhasilan keluarga.

Baca Juga: Bias Gender di Buku Sekolah: Ibu Juga Memenuhi Kebutuhan Keluarga, Namun Tak Pernah Dituliskan

Pandangan masyarakat terhadap idealnya predikat pelajar dengan pencapaian yang baik, juga dirasakan oleh Rostika, pelajar SMA di Jakarta. Hal ini yang membuatnya berekspektasi tinggi atas capaian dirinya. Bergelut dengan tugas dan mengatur waktu yang ia dapati di kelas 2 SMA, tak lupa ia seimbangkan dengan tujuannya untuk masuk PTN. Salah satu usaha yang tengah ia lakukan yaitu belajar materi UTBK untuk dapat lolos SNBT. Selain itu untuk memperjelas tujuannya, Rostika kini tengah mencari referensi kampus yang akan ia capai. 

Bergeser kepada kisah siswi SMA lainnya, Laksita. Targetnya untuk memasuki PTN, ia torehkan langkahnya sedikit demi sedikit. Fokusnya pada ranah akademik, ia buktikan dengan pernah mendapatkan juara 1 saat kelas 1 SMA.

Laksita juga memerlihatkan ketekunannya untuk bisa mendapatkan PTN dengan menyicil pembelajaran UTBK sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Laksita belajar mandiri dan juga mengambil les untuk memersiapkan diri menghadapi tes masuk perguruan tinggi. Hal ini menjadi usaha konsisten yang ia ambil sebagai pelajar SMA. 

Akan tetapi, di tengah produktivitas yang padat untuk mendapatkan kampus impiannya, tak jarang Laksita mendapati dirinya burn out. Ia mengaku sering mengalami kelelahan fisik, mental, dan psikologis. Terutama saat dirinya takut tidak sesuai dengan pandangan masyarakat tentang pelajar SMA yang ideal: mendapatkan nilai tinggi hingga masuk PTN yang diidamkan banyak orang. 

Tak hanya kelelahan saat belajar mandiri, namun juga saat bersama teman-temannya. Tugas kelompok saat mengerjakan bersama teman-temannya juga menjadi hal yang menambah beban pikirannya, selain dari tugas yang berlimpah. Hal ini menambah kondisi burn out yang Laksita rasakan. 

“Sering burn out banyak tugas kelompok, ada kerkom (kerja kelompok). Aku tipe orang yang kalau lagi burn out, aku hindarin tugas itu. Aku lakuin hal lain. Terus aku sering takut gak sesuai pandangan orang,” cerita Laksita. 

Baca Juga: 3 Hal yang Bisa Dilakukan Perguruan Tinggi Agar Lulusan Cepat Dapat Kerja

Bagi siswa perempuan, tekanan itu sering hadir dalam bentuk yang lebih rumit. Mereka tidak hanya dituntut lolos kampus negeri demi kebanggaan keluarga, tetapi juga dibebani ekspektasi gender yang saling bertabrakan. Perempuan didorong untuk berprestasi tinggi, tetapi di saat yang sama tetap diharapkan tidak terlalu “melawan” norma sosial.

Tekanan itu terasa berbeda bagi siswa laki-laki dan perempuan. Beberapa siswa laki-laki, misalnya, masih dianggap “punya banyak jalan” jika gagal masuk kampus negeri. Mereka bisa bekerja dulu, ikut tes lagi tahun depan, atau membantu usaha keluarga. Tetapi bagi banyak siswi perempuan, kegagalan masuk PTN sering kali dibarengi stigma yang lebih personal. Mereka dianggap kurang pintar, kurang serius, atau bahkan dicap “ujung-ujungnya juga menikah”.

Dinda, lulusan sebuah SMA di Jakarta Utara yang kini menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM), pernah merasakan cita-citanya masuk PTN diremehkan. Awalnya, Dinda bercita-cita masuk program studi Kriminologi Universitas Indonesia. Sejak SMA, teman-teman Dinda berpandangan bahwa ia adalah seorang yang ambisius. Menjadi ketua OSIS yang mengorganisir teman-temannya, diseimbangi aktif dalam pembelajaran, membuat teman-temannya secara tak langsung menanamkan ekspektasi “harus berhasil” bagi Dinda. 

Adakalanya Dinda merasa perlu untuk memenuhi ekspektasi itu. Namun, hal itu ia lepaskan pada hasil. Sementara, ia fokus pada prosesnya agar dapat berkuliah di kampus yang ia inginkan.

Kok gitu aja gak bisa,” adalah salah satu pernyataan dari teman Dinda yang merupakan produk dari stigma masyarakat. Bahwa seorang pemimpin yang terlihat bisa menyelesaikan masalah, tetap mengalami struggle dalam proses menemukan cita-citanya. 

Baca Juga: Guru dan Aktivis Kecam Tindakan Cukur Rambut Karena Tak Pakai Ciput Jilbab

Berbagai cara telah Dinda lakukan demi mewujudkan mimpinya masuk Kriminologi UI. Mulai dari mendaftar kampus jalur SNBP, SNBT, hingga SIMAK UI. Namun, ketidaklulusannya dalam jalur tersebut mendorong Dinda untuk menjalani gap year; mengambil jeda tahunan dari kelulusannya dan tidak segera berkuliah untuk menyiapkan diri menuju ujian masuk PTN di tahun berikutnya

Dari sinilah struggle bagi Dinda datang. Di saat dirinya berproses, banyak pandangan yang menghampiri. Mulai dari omongan guru yang mengatakan pilihan jurusannya, “Ketinggian, emang kamu bisa?” saat mengetahui bahwa Dinda hendak mengambil program studi kriminologi UI. 

Rupanya, terlepas dari kemauan dan kemampuan, cita-cita yang dianggap masyarakat sulit tercapai, tetap dicap “terlalu berangan-angan”.  Bahkan di lingkup pendidikan itu sendiri yaitu sekolah. Kekerasan berlapis juga terjadi apabila pertanyaan diskriminatif tersebut mengenai perempuan dengan kondisi ekonomi yang kurang mencukupi.

Selain soal gengsi, alasan ekonomi juga menjadi tekanan yang nyata. Biaya kuliah perguruan tinggi negeri sering dianggap lebih “masuk akal” dibanding kampus swasta yang uang pangkal dan biaya semesterannya bisa sangat tinggi. Banyak orang tua yang bekerja keras bertahun-tahun menggantungkan harapan pada satu kemungkinan: anaknya lolos PTN agar beban finansial keluarga tidak semakin berat. Akibatnya, siswa SMA tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus berhasil masuk kampus negeri, bukan hanya demi diri sendiri, tetapi demi membalas pengorbanan keluarga.

Beruntung, di tengah gelombang pandangan masyarakat yang masuk dalam pikiran Dinda, ia masih didukung oleh keluarganya untuk belajar saat gap year. Keluarganya juga menyarankan Dinda untuk fokus belajar dan tidak mengisi gap year dengan kerja. Dari hal ini, kita bisa menyadari bahwa masih banyak anak yang perlu untuk bekerja membantu keluarganya sambil mempersiapkan diri agar lulus tes masuk dan berkuliah di kampus impian. Terutama bagi seorang perempuan yang terus mendapat stigma tentang, “Ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi?” dan perihal kewajiban untuk bekerja atau tidak. 

Baca Juga: Darurat Bullying Anak, Orang Tua dan Guru Jangan Lengah

Setahun mempersiapkan agar lulus tes masuk ke PTN yang diimpikan, namun untuk kesekian kalinya Dinda tak dapat meraihnya kembali. Rasa kecewa seakan menyiraminya. Namun, ia terus melangkah dan mengevaluasi diri. Sampai pada titik, ia mencoba untuk mengadu usahanya di jalur mandiri Universitas Gadjah Mada. Alhasil, berkat kegigihan dan kesabarannya, Dinda lulus tes masuk dan diterima di Fakultas Hukum kampus tersebut.

Namun, udara yang memasuki telinganya tak berhenti pada momen tersebut. Salah satu guru di sekolahnya mengatakan bahwa dari perjuangannya, tetap saja tak mendapat jurusan yang sejak awal diinginkan. 

Udah susah-susah gap year, tetep aja gak dapat (jurusan) Kriminologi kan?” tanya guru tersebut. Hal ini Dinda maknai sebagai masyarakat yang secara tak langsung menuntut “kesempurnaan” dari setiap pelajar Indonesia. 

Tekanan SNBT sendiri sudah cukup melelahkan. Banyak siswa belajar hingga larut malam, mengorbankan waktu istirahat, kesehatan mental, dan relasi sosial demi mengejar kursi kampus negeri yang jumlahnya terbatas. Banyak yang mengikuti dua sampai tiga bimbingan belajar sekaligus karena takut tertinggal. Tidak sedikit orang tua rela berutang demi membayar les anak mereka, dengan harapan semua pengorbanan itu akan “terbayar” ketika nama anak muncul di pengumuman kelulusan PTN.

Di tengah tekanan tersebut, banyak siswa mulai mengukur harga diri mereka dari hasil ujian dan nama kampus. Padahal, pendidikan seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh, bukan arena yang membuat remaja merasa tidak berharga ketika gagal memenuhi standar tertentu. Stigma terhadap kampus swasta, pendidikan vokasi, atau pilihan hidup di luar jalur akademik elit akhirnya menciptakan hierarki sosial baru di kalangan anak muda.

Banyak remaja seusia Alya, Rafdian, Eryna, Rostika, Laksita, dan Dinda tumbuh dalam budaya yang memuja keberhasilan akademik. Tanpa benar-benar memberi ruang aman bagi kegagalan. Mereka didorong bermimpi besar, tetapi sering tidak diajarkan bahwa nilai manusia tidak berhenti pada nama universitas. Dan bagi perempuan muda, situasinya lebih rumit karena mereka juga harus melawan stigma gender yang membuat pendidikan terasa seperti pembuktian diri tanpa akhir.

Baca Juga: Trauma Dituduh Mencuri Tak Membuat Saya Berhenti Jadi PRT

Dari sini kita bisa melihat bersama bahwa pandangan masyarakat terhadap pelajar yang ideal: berprestasi, mendapat nilai tinggi, dan masuk ke kampus yang diidamkan banyak orang, tanpa sadar memenuhi ekspektasi pribadi para pelajar. Di tengah prosesnya untuk menorehkan prestasi dan mendapat nilai yang kompetitif, para pelajar ini bergelut dengan waktu yang ia luangkan. Sambil berusaha menyelaraskan antara pencapaian diri dengan ekspektasi yang dilimpahkan masyarakat bagi mereka. 

Berbagai perjuangan melalui hambatan telah mereka alami. Mulai dari pandangan dari orang lain, hingga keraguan yang timbul dalam diri. Pengalaman membuat Dinda menyampaikan bahwa tidak perlu untuk berlarut dalam perkataan orang lain. Melainkan perlu baginya untuk berusaha, meregulasi emosi, dan bangkit kembali untuk berproses mencapai tujuan yang diinginkan.

“Selain kebutuhan untuk memenuhi dirinya, perempuan juga dibentuk untuk memenuhi ekspektasi masyarakat. Walaupun dunia menekan perempuan, orang yang menerobos batas tersebut, pasti tetap (punya) banyak kesempatan yang datang,” tandas Dinda.

Mungkin itulah yang paling melelahkan dari semua ini: bukan hanya soal belajar menghadapi ujian atau masuk perguruan tinggi negeri. Tetapi belajar bertahan di tengah tuntutan sosial yang membuat orang muda percaya bahwa mereka baru pantas dihargai jika berhasil memenuhi ekspektasi orang lain.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.