Untuk sebagian orang, ular identik sebagai ancaman yang menimbulkan rasa takut. Namun, bagi Clarissa Amelia (22), mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB), pengalaman bertemu langsung ular pucuk, mengubah cara pandangnya terhadap reptil yang kerap disalahpahami ini. Ketua GARDA Nymphaea ITB itu, pertama kali mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar Sungai Cikacika, Bandung. Lokasinya bukan hutan lebat, melainkan area cukup dekat aktivitas manusia dan di tengah kota. Ada juga di kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi, Sumedang, wilayah konservasi yang vegetasinya relatif terjaga. “Dapat bertahan hidup di dua kondisi habitat berbeda,” ujarnya, Senin (12/5/2026). Di kawasan konservasi, ular pucuk hidup di antara pepohonan. Sementara, di wilayah yang mengalami gangguan manusia, reptil tersebut mampu bertahan. “Sungai Cikacika itu cukup dekat dengan manusia, tapi ularnya hidup di sana.” Ahaetulla prasina dikenal sebagai jenis arboreal atau lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon. Tubuhnya ramping memanjang dengan warna hijau terang yang membuatnya mudah berkamuflase di dedaunan. “Melingkar di batang atau di dedaunan.” Ular pucuk yang memiliki peran penting bagi ekosistem alam. Foto: Clarissa Amelia Perjumpaan malam hari Perjumpaan ular pucuk sebagian besar terjadi malam hari. Menariknya, saat Clarissa kembali ke lokasi yang sama pagi hari, ular yang tersebar luas di Asia Selatan ini, masih berada di tempat semula. “Kemungkinan tidurnya di situ. Setahu saya, ular ini justru lebih aktif siang hari,” ucapnya. Meski dikenal berbisa (lemah), ular pucuk, tidak menunjukkan perilaku agresif selama proses pengamatan. Clarissa mengaku bisa memotretnya dari jarak cukup dekat, kurang dari satu meter. “Cenderung diam dan tenang.” Ada satu detail yang membuat…This article was originally published on Mongabay
Ular Pucuk, Penjaga Keseimbangan Ekosistem Alam
Ular Pucuk, Penjaga Keseimbangan Ekosistem Alam





Comments are closed.