KABARBURSA.COM – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membukukan pendapatan usaha sebesar Rp17,71 triliun hingga kuartal I 2026.
Nilai tersebut berasal dari penjualan lokal, ekspor, hingga transaksi dengan pihak berelasi yang tersebar di berbagai lini bisnis grup.
Berdasarkan laporan keuangan interim audit per 31 Maret 2026, penjualan lokal masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp16,89 triliun.
Sementara penjualan ekspor tercatat sebesar Rp364,84 miliar dan transaksi pihak berelasi mencapai Rp452,55 miliar.
Di tengah besarnya kontribusi penjualan domestik tersebut, bisnis pengolahan ayam dan produk konsumen masih menjadi salah satu mesin utama grup. Hal ini terlihat dari besarnya aset PT Ciomas Adisatwa yang bergerak di bidang peternakan ayam, rumah potong ayam, dan perdagangan dengan total aset mencapai Rp11,82 triliun.
Selain itu, lini produk konsumen melalui PT Japfa Food Indonesia juga tercatat memiliki aset sebesar Rp4,44 triliun.
Unit usaha ini bergerak pada segmen produk konsumen yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu area ekspansi JPFA di luar bisnis pakan ternak tradisional.
Segmen pakan ternak dan agribisnis juga masih menjadi fondasi utama perusahaan. JPFA tercatat memiliki sejumlah entitas yang bergerak pada produksi pakan ternak, pakan ikan dan udang, hingga usaha perunggasan, termasuk PT Indojaya Agrinusa dengan aset Rp4,04 triliun serta PT Suri Tani Pemuka dengan aset Rp3,9 triliun.
Manajemen JPFA dalam laporan keuangan interim menyebut grup menjalankan bisnis pada sektor consumer non-cyclicals dengan fokus utama pada industri produk agrikultur, ikan, daging, dan unggas.
Ekspansi bisnis kesehatan hewan juga masih terlihat dalam struktur usaha perusahaan. PT Vaksindo Satwa Nusantara yang bergerak di bidang produksi vaksin memiliki aset Rp1,59 triliun, sedangkan Vaksindo Vietnam Co., Ltd dan Vaksindo Animal Health Pvt Ltd menjadi bagian dari pengembangan bisnis kesehatan hewan regional JPFA.
Di sisi neraca, total aset JPFA hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar Rp39,33 triliun. Nilai tersebut terdiri atas aset lancar Rp20,01 triliun dan aset tidak lancar Rp19,32 triliun.
Persediaan perusahaan tercatat sebesar Rp10,26 triliun, sedangkan aset tetap mencapai Rp15,98 triliun. Posisi tersebut mencerminkan besarnya kebutuhan operasional dan distribusi grup yang tersebar pada bisnis pakan, peternakan, pengolahan makanan, hingga distribusi logistik.
Sementara dari sisi likuiditas, kas dan setara kas JPFA berada di level Rp1,84 triliun per kuartal I 2026. Adapun piutang usaha pihak ketiga tercatat sebesar Rp3,35 triliun.
JPFA juga masih menjaga ekspansi melalui sejumlah lini baru, termasuk distribusi logistik, produk makanan olahan, hingga budidaya perikanan dan udang.
Struktur anak usaha yang tersebar di berbagai sektor menunjukkan strategi diversifikasi grup untuk menjaga keseimbangan bisnis di tengah fluktuasi industri perunggasan domestik.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.