
Legenda Asal Usul Pesta Tapai di Batu Bara, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
Ada sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara yang menceritakan tentang legenda asal usul Pesta Tapai yang ada di daerah Batu Bara. Pesta Tapai merupakan salah satu tradisi yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat yang ada di sana.
Konon tradisi ini tercipta dari sebuah kebiasaan yang ada di masa lalu. Lama-kelamaan, kebiasaan ini menjadi tradisi dan terus diwariskan hingga saat ini.
Bagaimana kisah di balik legenda asal usul Pesta Tapai yang ada di daerah Batu Bara tersebut? Simak k lengkap dari cerita rakyat Sumatera Utara ini dalam artikel berikut.
Mengenal Pesta Tapai, Tradisi Turun Temurun di Batu Bara Sumatera Utara
Pesta Tapai adalah salah satu tradisi unik yang ada di daerah Batu Bara, Sumatera Utara, khususnya di kawasan pesisir. Tradisi ini biasanya diselenggarakan masyarakat dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan.
Menurut keyakinan masyarakat, tradisi ini dipercaya sudah ada sejak abad ke-18 silam. Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo menjadi sosok penting di balik penyelenggaraan tradisi tersebut.
Seperti namanya, akan ada banyak penjual tapai yang berjualan pada helatan Pesta Tapai ini. Terdapat beberapa jenis panganan tradisional yang biasanya dijual dalam momen ini, seperti tapai ketan, tapai ubi, lemang, dan kue tradisional khas Melayu lainnya.
Salah satu daerah yang menjadi pusat pesat tapai adalah Desa Dahari Selebar di Kecamatan Talawi. para pedagang akan menjajakan berbagai macam jenis tapai di jalan besar yang ada di daerah tersebut.
Biasanya Pesta Tapai akan digelar satu bulan sebelum memasuki momen Ramadan setiap tahunnya.
Legenda Asal Usul Pesta Tapai di Batu Bara, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
Dinukil dari buku Antologi Cerita Rakyat Batu Bara, pada zaman dahulu ada seorang raja yang memerintah di daerah pesisir Batu Bara. Raja tersebut bernama Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo.
Pada masa pemerintahanya, Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo memerintahkan untuk membangun tempat pemotongan sapi dan kerbau di sana. Tempat pemotongan ini dibangun dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan.
Keberadaan tempat pemotongan ini membuat banyak orang yang mendatangi daerah tersebut. Orang-orang yang datang berasal dari berbagai daerah berbeda, mulai dari Labuhan Ruku, Tanjung Tiram, Titi Putih, Titi Merah, dan lainnya.
Orang-orang yang datang ke sana memiliki tujuan yang sama. Mereka ingin mendapatkan daging sapi maupun kerbau yang nantinya dimasak di keluarga masing-masing.
Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo melihat potensi di balik ramainya orang-orang yang datang ke daerahnya. Datuk Mudo Jalil Lelo Sumaso Tuo meminta masyarakat untuk membangun kedai-kedai kecil dan mulai berjualan.
Kedai-kedai ini nantinya bisa memenuhi keperluan orang-orang yang datang di sana. Terdapat berbagai macam pangan yang dijual, mulai dari lemang, tapi, karas-karas, cendol, dan lainnya.
Para pengunjung bisa memilih makanan yang mereka sukai dalam baskom yang tersedia. Setelah itu barulah mereka membayar pada penjualnya.
Keberadaan kedai ini menghidupkan perekonomian masyarakat yang ada di sana. Selain menguntungkan pedagang, kedai ini juga bisa menjadi tempat istirahat bagi orang-orang yang datang untuk membeli daging di sana.
Sejak saat itu, kebiasaan ini kemudian berubah menjadi tradisi Pesta Tapai yang berlangsung hingga sekarang. Tradisi ini biasanya akan digelar menjelang bulan Ramadan, di mana orang-orang akan berbondong-bondong membeli daging kerbau dan sapi serta berjualan lemang tapai di sana.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.
Tim Editor




Comments are closed.