Ditulis oleh Hutama Prayoga •
KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)sebesar 83 poin ke level Rp17.680 pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026.
Pengamat Ekonomi mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak.
“Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,” ujar dia dalam keterangannya.
Menurut Ibrahim, prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi. Ia menilai hal ini telah memperlambat kemajuan disinflasi, sehingga mendorong inflasi semakin jauh dari target 2 persen The Fed
Selain itu, sentimen juga datang mengenai potensi terhentinya upaya mengakhiri perang AS-Iran. Ibrahim menyebut pembicaraan pekan lalu antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa indikasi dari importir minyak terbesar di dunia bahwa hal itu akan membantu menyelesaikan konflik.
“Serangan drone di UEA dan Arab Saudi serta retorika dari AS dan Iran menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik,” ungkapnya.
Dari dalam negei, Ibrahim mengatakan pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait masyarakat di desa tidak menggunakan dolar AS menjadi sentimen tersendiri bagi rupiah.
“Kondisi masyarakat di desa saat ini lebih pandai dibandingkan masyarakat kota karena teknologi sudah merata, sehingga salah kalau orang desa tidak mengenal dolar AS bahkan transaksi mata uang kebanyakan orang-orang desa,” jelasnya.
Sementara itu untuk perdagangan besok, Selasa, 19 Mei 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.680-Rp17.750. (*)





Comments are closed.