Ditulis oleh Harun Rasyid •
KABARBURSA.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai tidak semata dipengaruhi turbulensi ekonomi global. Di balik fluktuasi tersebut, tersimpan persoalan struktural dalam negeri yang masih membayangi ketahanan ekonomi nasional dan persepsi investor terhadap Indonesia.
Menurut Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino, otoritas moneter sejauh ini telah menempuh berbagai langkah stabilisasi untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Intervensi di pasar valuta asing hingga optimalisasi instrumen moneter dilakukan guna menjaga keseimbangan kurs di tengah derasnya arus ketidakpastian global.
Namun demikian, tekanan terhadap mata uang domestik yang masih bertahan menunjukkan adanya persoalan internal yang belum sepenuhnya terurai.
“Kalau tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat, artinya kita juga perlu melihat faktor-faktor domestik yang memengaruhi persepsi pasar dan kepercayaan investor,” ujar Harris Turino di Komplek Senayan, Jakarta Selatan, Senin 18 Mei 2026.
Politikus Fraksi PDI Perjuangan itu menilai kondisi fiskal nasional, defisit transaksi berjalan, dinamika investasi, hingga kepastian arah kebijakan ekonomi menjadi variabel krusial dalam menentukan daya tahan rupiah. Karena itu, stabilitas kurs tidak dapat hanya bertumpu pada langkah moneter semata.
Ia menekankan perlunya orkestrasi kebijakan yang solid antara Bank Indonesia, pemerintah, serta seluruh pemangku kepentingan ekonomi agar stabilitas nilai tukar dapat terjaga secara berkesinambungan.
Menurut Harris, kepercayaan investor merupakan simpul utama dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. Ketika optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia menguat, daya tahan rupiah terhadap gejolak eksternal juga akan semakin kokoh.
“Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri. Stabilitas nilai tukar juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah,” kata legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX tersebut.
Ia turut menyoroti pentingnya komunikasi kebijakan yang konsisten, transparan, dan kredibel. Kepastian arah kebijakan, menurutnya, menjadi fondasi penting agar pelaku pasar memperoleh rasa aman dalam mengambil keputusan investasi.
Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, lanjut Harris, akan menjadi determinan utama dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang semakin kompleks dan penuh volatilitas.
Komisi XI DPR RI, kata dia, akan terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia agar tidak hanya menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga menopang akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan fundamental ekonomi yang terus diperkuat serta tingkat kepercayaan investor yang tetap terjaga, rupiah diharapkan memiliki resiliensi yang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai guncangan global pada masa mendatang.(*)





Comments are closed.