Mon,18 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Top News
  3. BI yakin rupiah akan menguat mulai Juli usai permintaan valas menurun

BI yakin rupiah akan menguat mulai Juli usai permintaan valas menurun

bi-yakin-rupiah-akan-menguat-mulai-juli-usai-permintaan-valas-menurun
BI yakin rupiah akan menguat mulai Juli usai permintaan valas menurun
service

Jakarta (ANTARA) – Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan menguat mulai Juli 2026 seiring dengan meredanya tren permintaan valuta asing (valas) musiman, yang meningkat pada periode April hingga Juni 2026.

Kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) meningkat secara musiman pada April-Juni akibat pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta kebutuhan ibadah haji.

“Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.

Perry meyakini bahwa rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp16.500 per dolar AS.

Sementara itu, rerata nilai tukar rupiah secara tahun berjalan (year to date/ytd) berada pada kisaran Rp16.900 per dolar AS. Meski demikian, bank sentral optimistis penguatan rupiah pada Juli dan Agustus akan menurunkan rerata tahunan kembali ke rentang target APBN.

Selain faktor domestik karena tingginya permintaan valas, Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kondisi global yang memburuk sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada Februari yang lalu.

Meningkatnya risiko geopolitik global tecermin dari kenaikan credit default swap (CDS), lonjakan harga minyak dunia, serta tingginya inflasi di AS yang membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, baik tenor jangka pendek maupun panjang, sehingga memicu penguatan dolar AS dan arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari sisi arus modal, Perry mengungkapkan bahwa pasar saham mencatat arus keluar (outflow) Rp26,06 triliun pada Januari-Maret 2026, sedangkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow Rp25,1 triliun pada periode yang sama.

Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat inflow pada Januari dan Februari sebelum berbalik mengalami outflow pada Maret seiring meningkatnya tensi geopolitik global.

Untuk menjaga daya tarik aliran modal masuk, jelas Perry, BI meningkatkan suku bunga SRBI sehingga instrumen tersebut kembali mencatat inflow sebesar Rp48,26 triliun pada April dan Rp27,05 triliun pada Mei.

Dengan demikian, total inflow SRBI sepanjang April hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp75,31 triliun, sedangkan secara kumulatif sepanjang tahun berjalan (ytd) mencapai Rp105,16 triliun.

Perry juga mengungkapkan bahwa pembelian SBN oleh investor asing mulai meningkat, sementara aliran dana asing di pasar saham mulai mencatat inflow pada awal Mei meski secara tahun berjalan masih mengalami outflow.

Menurutnya, aliran modal masuk tersebut membantu memperkuat pasokan valas domestik di tengah tingginya permintaan dolar AS akibat faktor global dan musiman.

Ia pun memperkirakan kebutuhan intervensi akan menurun mulai Juli hingga Agustus seiring meredanya permintaan valas musiman.

“Alhamdulillah Rp67,3 triliun itu inflow (total seluruh instrumen dari Januari-8 Mei 2026), sehingga itu menambah pasokan valas. Memang masih kurang karena demand-nya sedang tinggi dan faktor global, sehingga kami intervensi. Insya Allah nanti Juli-Agustus demand-nya sudah mulai agak menurun, itu bisa kita bisa kemudian intervensi tidak terlalu besar,” kata Perry.

Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini atau Senin (18/5/2026) melemah menjadi Rp17.668 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.666 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS.

Baca juga: Ekonom nilai BI perlu terapkan kebijakan yang lebih “hawkish”

Baca juga: Rupiah menguat seiring aksi ambil untung terhadap dolar AS

Baca juga: BI tetap yakin rupiah akan stabil dan menguat seiring ekonomi RI

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.