Selain menurunkan ciri fisik, gen orang tua ternyata juga mampu wariskan kesehatan mental pada anak. Hampir sebagian materi genetik dan pola asuh orang tua dapat memengaruhi kondisi mental anak di kemudian hari, lho.
“Temuan yang paling menarik adalah bahwa gejala kecemasan dan depresi pada anak-anak tampaknya tidak hanya terkait dengan kecenderungan genetik mereka sendiri. Profil genetik orang tua juga tampaknya berperan,” kata seorang ahli dari Pusat Penelitian PROMENTA, Razieh Chegeni.
Mungkin selama ini kita mengetahui bahwa peran dan kehadiran orang tua sangat penting bagi kesehatan mental anak. Namun, materi genetik dari ibu, ayah, dan anak, secara bersamaan saling berkaitan dalam mendukung kesehatan mental yang baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini dikemukakan dalam studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health. Yuk, simak penjelasan lengkapnya agar Bunda memahami lebih lanjut terkait bagaimana gen orang tua wariskan kesehatan mental pada anak.
Temuan gen orang tua yang dapat wariskan kesehatan mental
Temuan yang dilakukan para ahli dari Universitas Oslo memberikan sebuah wawasan baru mengenai kesehatan mental anak. Selain itu, genetik orang tua juga dipercaya dapat membentuk lingkungan anak dalam tumbuh dan berkembang.
Nah, baik atau tidaknya lingkungan anak saat bertumbuh dan berkembang dipengaruhi bagaimana orang tua berperilaku dan menerapkan pola asuh pada anak. Tak hanya itu, tingkat kecemasan, depresi, dan stres pada anak juga dipengaruhi oleh faktor tersebut.
Kecenderungan genetik orang tua menjadi pengaruh bagaimana anak-anak mengatur emosi, menghadapi kehidupan sehari-hari, hingga bersosialisasi. Dengan cara ini, pewarisan genetik dapat memengaruhi lingkungan tempat anak dibesarkan.
Melansir dari News Medical & Life Sciences, studi yang dipimpin oleh Razieh Chegeni ini melibatkan lebih dari 9.314 keluarga. Mereka menganalisis data anak dan genetik orang tua, kebiasaan, dan pola asuh yang diuji dalam studi kohort sebelumnya.
Hasil dari penelitian yang melibatkan genetik dan kesehatan mental
Pada anak-anak, hubungan tersebut jauh lebih kuat saat anak berusia 14 tahun daripada di usia 8 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak gen dan lingkungan rumah sangat dinamis (berubah-ubah) dari masa kanak-kanak hingga remaja.
Sementara dari sisi orang tua, pewarisan genetik terhadap kebiasaan ibu dan kesejahteraan psikologis ayah sangat menonjol dalam berbagai bentuk. Chegeni menekankan bahwa faktor tersebut menunjukkan bagaimana genetik orang tua dapat memengaruhi lingkungan keluarga di sekitar anak.
Pada saat yang sama, para peneliti menegaskan bahwa ini bukanlah indikator untuk memprediksi kesehatan mental pada anak-anak secara individu. Bahkan, temuan ini hanya menunjukkan sekitar 2,7 persen variasi gejala depresi dan 1,2 persen variasi kecemasan.
“Gen bukanlah satu-satunya penentu. Temuan ini tidak dimaksudkan untuk memprediksi kesehatan mental tiap anak, melainkan untuk memberikan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana risiko dapat diwariskan antar generasi,” pungkas Chegeni.
Jadi, dapat dikatakan bahwa risiko kecemasan dan depresi pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh gen yang diwariskan, tetapi juga oleh sifat dan kecenderungan genetik orang tua yang membentuk lingkungan tempat anak tumbuh.
Kecenderungan genetik terhadap kecemasan tersebut dapat memengaruhi cara orang tua merespon stres, berinteraksi dengan anak, dan menciptakan suasana di rumah. Sehingga, gen memang dapat mewariskan kesehatan mental, tetapi bagaimana cara orang tua bersikap menjadi faktor pendukung yang juga membentuk kesehatan mental anak.
Demikian penjelasan tentang gen orang tua yang mampu wariskan kesehatan mental pada anak. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)





Comments are closed.