Legenda Asal Usul Masyarakat Batu Bara, Cerita rakyat dari Sumatera Utara
Ada sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara yang berkisah tentang legenda asal usul masyarakat Batu Bara. Konon masyarakat ini merupakan keturunan dari putra raja Pagaruyung dan putri Simalungun dulunya.
Bagaimana kisah dari legenda asal usul masyarakat Batu Bara tersebut?
Legenda Asal Usul Masyarakat Batu Bara, Cerita rakyat dari Sumatera Utara
Dikutip dari buku Antologi Cerita Rakyat Batu Bara, alkisah pada zaman dahulu Kerajaan Pagaruyung dipimpin oleh seorang raja bernama Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah. Sang raja memiliki seorang putra yang bernama Balambangan.
Ketika memasuki usia dewasa, Balambangan diizinkan oleh sang ayah untuk pergi merantau. Hal ini menjadi kesempatan untuknya mempraktikkan semua ilmu yang sudah dipelajari sebelumnya.
Suatu hari, Balambangan meminta izin untuk pergi berburu. Sang ayah menitipkan 21 pengawal untuk mendampingi Balambangan dalam perjalanannya itu.
Balambangan kemudian menaiki perahu besar bernama Gajah Ruku. Perahu ini berlayar hingga ke daerah Tanjung Tiram.
Di sana kapal Gajah Ruku kandas. Daerah ini kemudian dikenal dengan nama Labuhan Ruku.
Balambangan kemudian memutuskan untuk berburu di dekat daerah itu. Setelah berburu cukup lama, lewatlah seorang kakek tua melintasi rombongan ini.
Para pengawal kemudian bertanya apa nama daerah tempat mereka berburu. Sang kakek kemudian menjawab jika daerah itu bernama Pematang.
Sang kakek juga menunjukkan jika di dekat sana ada istana raja. Raja yang memimpin daerah itu bernama Raja Damanik Simalungun.
Balambangan kemudian berangkat menuju istana raja untuk beristirahat selama beberapa hari. Raja Damanik Simalungun menyambut Balambangan dengan tangan terbuka dan suka dengan pribadinya yang baik hati.
Diam-diam putri Raja Damanik Simalungun, yaitu Anis Damanik ternyata jatuh hati pada Balambangan. Akhirnya sang raja menikahkan putrinya tersebut dengan Balambangan.
Beberapa bulan kemudian, Anis Damanik hamil anak pertama mereka. Dia pun mengidam untuk mandi di laut.
Balambang kemudian menyampaikan permintaan ini pada Raja Damanik. Dia meminta izin untuk membawa istrinya ke pantai di daerah Kuala Tanjung.
Sang raja mengizinkan hal itu. Akhirnya berangkatlah Balambangan dan Anis Damanik ke sana.
Anis Damanik merasa kerasan dengan daerah tersebut. Akhirnya pasangan suami istri ini menetap di Kuala Tanjung.
Selang beberapa waktu, anak pertama mereka pun lahir. Balambangan dan Anis Damanik mendapatkan seorang putri yang cantik jelita dan diberi nama Wang Gadis.
Balambangan pun diangkat menjadi raja di daerah Kuala Tanjung. Pada suatu masa, daerah Kuala Tanjung dilanda kemarau panjang.
Sebagai pemimpin, Balambanga bertanggung jawab untuk memastikan kondisi masyarakatnya. Dia pun memerintahkan pengawalnya untuk menggali sebuah sumur di sebuah lembah.
Ketika sedang menggali sumur, Balambangan menemukan sebuah batu besar berwarna kuning kemerah-merahan seperti bara api. Balambangan pun mengambil batu itu dan disimpan dengan baik di istana.
Atas perbuatannya ini, Balambangan kemudian dikenal dengan nama Datuk Batu Bara. Sejak batu ini dia simpan, Datuk Batu Bara makin terkenal dan disenangi oleh masyarakat.
Beberapa tahun kemudian, datang sebuah perahu dari Pagaruyung ke Kuala Tanjung. Rombongan ini ternyata diutus oleh Raja Pagaruyung untuk mencari Datuk Batu Bara yang sudah tidak lama pulang.
Setelah mengetahui keberadaan Datuk Batu Bara, sang ayah akhirnya meninggalkan empat orang pendamping untuknya. Keempat pendamping ini membantu Datuk Batu Bara dalam menjalankan pemerintahan.
Ternyata keempat pendamping ini jatuh hati pada Wang Gadis yang sudah mulai beranjak dewasa. Datuk Batu Bara tentu kebingungan, sebab tidak mungkin anak gadisnya akan dinikahkan dengan empat orang pria.
Datuk Batu Bara pun berdoa tiap malam agar mendapatkan petunjuk dan solusi atas permasalahan ini. Pada suatu malam, Anis Damanik berkata jika kambing, anjing, dan kera yang mereka pelihara hilang begitu saja.
Hal ini tidak dipikirkan lebih lanjut oleh Datuk Batu Bara. Dia hanya peduli dengan nasib putrinya.
Malam berikutnya, Anis Damanik kembali menghampiri Datuk Batu Bara. Kali ini dia berkata jika Wang Gadis sudah berubah menjadi empat orang yang sama.
Datuk Batu Bara langsung melihat kamar anak gadisnya. Benar saja, Wang Gadis sudah berubah menjadi empat orang yang sama.
Pesta pernikahan akhirnya diselenggarakan dengan meriah. Para pembantu Datuk Batu Bara akhirnya dinikahkan dengan keempat Wang Gadis.
Namun Datuk Batu Bara masih penasaran siapa Wang Gadis yang asli di antara mereka. Pada saat jamuan makan, Datuk Batu Bara melihat satu Wang Gadis yang hanya memakan sayuran saja.
Datuk Batu Bara kemudian membatin jika ini adalah jelmaan kambing yang hilang sebelumnya. Setelah itu, dia melihat satu Wang Gadis yang hanya memakan saja.
Maka yakinlah Datuk Batu Bara jika itu adalah jelmaan dari anjing yang hilang. Wang Gadis ketiga terlihat suka mengejek orang lain layaknya kera.
Datuk Batu Bara yakin jika itu adalah jelmaan kera yang hilang. Akhirnya Datuk Batu Bara menandai anak gadisnya dari sifat mereka untuk mengetahui siapa Wang Gadis yang asli.
Konon dari keturunan Datuk Batu Bara inilah yang nantinya menjadi asal usul masyarakat Batu Bara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News



Comments are closed.