Thu,28 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Qurban: Ketika Akal Bersujud kepada Wahyu

Qurban: Ketika Akal Bersujud kepada Wahyu

qurban:-ketika-akal-bersujud-kepada-wahyu
Qurban: Ketika Akal Bersujud kepada Wahyu
service

Di panggung peradaban modern, kini, ilmu pengetahuan sering kali dipuja sebagai “berhala baru”. Manusia modern, dengan segala perangkat metodologi ilmiahnya, termasuk rasionalisme sekulernya, cenderung memandang atas dirinya sebagai penentu tunggal pada sebuah kebenaran. Padahal, kemampuan akal untuk menganalisis, mengukur, dan mengendalikan materi atas akal, justru bakal melahirkan sebuah delusi berbahaya yang dalam tradisi spiritual Islam disebut sebagai kesombongan intelektual (al-kibr). 

Dalam konteks epistemologis inilah, ibadah qurban hadir bukan sekadar sebagai ritus rutin tahunan menyembelih hewan ternak belaka, melainkan aktivitas itu sesungguhnya sebagai sebuah kritik metafisik konkrit yang sangat tajam terhadap keangkuhan nalar manusia. 

Kisah pengorbanan agung yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, menyingkap sebuah kebenaran fundamental; bahwa puncak pencapaian intelektual bukanlah ketika akal manusia berhasil menguasai segalanya, melainkan ketika ia mudah mengenali batas kemampuannya, lalu tunduk dengan penuh takzim di hadapan wahyu transendental itu.

Ketika Nalar Menemui Batas di Altar Ketaatan

Perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail, adalah mestinya menjadi sebuah titik guncangan hebat bagi nalar kemanusiaan kita. Dari perspektif logika etis murni, perintah itu memang tampak absurd dan cukup bertentangan dengan insting purba perlindungan anak. 

Filsuf Søren Kierkegaard menggambarkan pergulatan eksistensial ini sebagai sebuah paradoks iman, di mana ketaatan sejati menuntut individu melakukan lompatan spiritual (leap of faith) melampaui sekat-sekat etika universal demi berserah diri sepenuhnya pada titah Ilahi  (Esendemir, 2025). Namun, Dalam diskursus Islam, kepatuhan ini tidaklah kemudian dieksekusi secara buta atau bahkan otoriter. Alih-alih mengeluarkan perintah otoriter yang keras, Nabi Ibrahim justru dengan lembut memulai dialog.

Menurut Hidayah (2024) M. Quraish Shihab, dalam mahakaryanya, Tafsir Al-Mishbah, ia menguraikan bagaimana Nabi Ibrahim justru mengedepankan dialog partisipatif dan komunikasi interpersonal yang sangat matang ketika menyampaikan mimpi wahyu tersebut kepada Ismail. Pertanyaan lembut dilahirkan, “Bagaimana pendapatmu?”. 

Dari posisi pertanyaan dialogis itu, keindahan teologisnya justru terungkap; bahwa sesungguhnya secara hakikat wahyu tidaklah pernah dihadirkan untuk memasung atas akal budi manusia, melainkan justru untuk mengasah dalam upaya melahirkan ketajaman intuisi spiritual manusia agar selaras dengan kehendak Ilahi. Artinya, bahwa sekali lagi, wahyu tidak pernah diturunkan dalam tujuan untuk membunuh fungsi berpikir manusia, melainkan untuk melatih ketajaman intuisi spiritualnya.

Hubungan dinamis antara akal dan wahyu ini pun menjadi fokus kajian mendalam Harun Nasution dalam bukunya Akal dan Wahyu dalam Islam, yang dikutip oleh Muniroh (2018) kira-kira begini, bahwa Nasution cukup menegaskan bahwa akal memiliki kapasitas luar biasa untuk mengidentifikasi keberadaan Tuhan serta membedakan kebajikan dan keburukan secara garis besar. Namun, akal yang mandiri tanpa arah kompas wahyu akan terjebak dalam kesombongan intelektual dan relativisme ekstrem karena ia tidak mampu menetapkan syariat secara rinci.

Di sinilah, Otoritas Wahyu memberikan konfirmasi atas sebuah kebenaran universal, sekaligus menyediakan informasi detail mengenai sebuah jalan keselamatan yang tidak mampu dijangkau oleh keterbatasan panca indra manusia. 

Menyembelih Ego Intelektual dan Al-Kibr dalam Kehidupan Modern

Bahaya terbesar dari akumulasi pengetahuan yang tidak diimbangi dengan kebersihan spiritual adalah bakal munculnya penyakit hati bernama al-kibr (kesombongan). Menurut (Rizqa, 2024) Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Ihya’ ‘Ulum al-Din, telah mengingatkan dengan sangat getir, bahwa kesombongan intelektual jauh lebih berbahaya dan lebih mudah menyerang kaum terpelajar dibandingkan orang awam. Kaum akademisi dan ilmuwan sering kali terjangkit delusi superioritas karena merasa menguasai kepakaran khusus, sehingga mereka cenderung menolak kebenaran dari pihak lain, serta mudah merendahkan sesama hamba Allah. 

Menurut Haider (2016) kesombongan jenis ini adalah merupakan replika nyata dari sebuah aktivitas pembangkangan primordial Iblis, ia melakukan kesalahan fatal dalam deduksi logisnya saat membandingkan asal penciptaan api dan tanah. Termasuk, Iblis juga terjebak dalam kesombongan intelektual dengan merasa dirinya lebih mulia, ini sebuah kekeliruan nalar setan yang menghancurkan seluruh nilai ibadahnya selama ribuan tahun.

Sehingga, dalam upaya pemaknaan esensial sejati kembali dari ibadah qurban kini adalah keberanian revolusioner kita untuk dapat menyembelih “ego kebinatangan” tersebut, termasuk kesombongan ilmiah yang sering kali terselubung di balik jubah objektivitas akademis itu.

Menyembelih seekor domba atau sapi secara fisik jauh lebih mudah daripada menyembelih gengsi, rasa ingin diakui, dan keangkuhan merasa paling tahu. Padahal, apa pun tingkat keilmuan yang dicapai manusia, pengetahuan tersebut hanyalah laksana setetes air di tengah samudra ketidaktahuan. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah sama sekali tidak melihat nilai fisik, daging, atau darah dari hewan yang disembelih, melainkan nilai ketakwaan dan ketulusan hati yang membimbing jalannya ibadah tersebut (QS. Al-Hajj: 37).

Sebagai pungkasan, bahwa ibadah qurban, mendidik kaum intelektual untuk kembali merunduk secara epistemologis. Pengetahuan yang hakiki bukanlah pengetahuan yang memicu lahirnya keakuan, arogansi sektarian, atau pengotakan sosial, melainkan ilmu yang dapat membuahkan rasa takut yang mendalam kepada Allah SWT. serta mudah melahirkan rasa kepedulian yang tulus terhadap sesama. Dari sinilah, ilmu, pengetahuan, dapat dikembalikan pada fungsi asalnya; sebagai instrumen pengabdian yang tulus kepada Sang Pencipta dan sarana pembawa maslahat bagi kemanusiaan. Tabik.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.