
Merayakan 73 tahun Cak Nun adalah menyelami jalan cinta Maiyah, warisan spiritual Syekhona Kholil, dan hikmah kelembutan batin.
Kita sering kali kesulitan mengukur kedalaman samudra pemikiran seorang Muhammad Ainun Nadjib. Sosok yang akrab kita sapa Cak Nun ini merayakan usianya yang ke-73, meninggalkan jejak panjang yang membentang dari ranah sastra, budaya, hingga spiritualitas murni. Menyelami Cak Nun tidak cukup hanya dengan kacamata rasionalitas akademis. Kita membutuhkan kejernihan kalbu untuk memahami bagaimana cinta segitiga antara Allah, Muhammad, dan hamba mewujud nyata dalam laku hidupnya.
Kesaksian Buya Kamba: Menembus Tirai Ilmu Laduni
Banyak cendekiawan dan ahli teologi terjebak dalam rasa penasaran. Bagaimana seorang Cak Nun, yang secara formal tidak pernah menjadi anggota tarekat atau menempuh pendidikan tasawuf bergelar, mampu mengurai literatur sufistik dengan begitu gamblang?
Almaghfurlah Buya Muhammad Nursamad Kamba memberikan jawaban yang sangat reflektif mengenai fenomena ini. Buya Kamba, yang menemani perjalanan spiritual Cak Nun, mencatat sebuah kesaksian penting pada tahun 2018: “Saya mulai mengenal Emha semenjak tahun 70-an melalui tulisan-tulisannya yang dimuat di berbagai media massa dan majalah… Perkenalan yang benar-benar nyata adalah pada tahun 2002 saat saya bertugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo, ketika kami mengundang Cak Nun dalam rangka program pembinaan mahasiswa Indonesia di Mesir.“
Menariknya, sebuah obrolan tengah malam di tepian Sungai Nil membuka mata Buya Kamba. Ketika perbincangan menyentuh rumitnya pemikiran Ibn Arabi dan karya Al-Futuhat al-Makkiyah, Cak Nun merespons dengan uraian yang membuka gerbang pemahaman spiritual berskala raksasa. Padahal, Cak Nun mengaku tidak memiliki satu pun kitab karya Ibn Arabi.
Realitas ini membatalkan teori-teori psikologi pengetahuan konvensional. Cak Nun tidak membaca lembaran kertas, melainkan langsung membaca layar semesta. Ia memperoleh karunia untuk menangkap goresan Al-Qalam di Lauh Mahfuzh, sebuah anugerah yang dalam tradisi tasawuf kita kenal sebagai ilmu laduni.
Maiyah: Danau Serapan dan “Gegana” Penjinak Zaman
Berbekal keluasan pandangan batin tersebut, Cak Nun melahirkan Maiyah. Gerakan ini menjabarkan prinsip persahabatan, persaudaraan, dan cinta kasih yang terinspirasi dari keikhlasan momentum hijrah Nabi. Jika kita menyandingkannya dengan sejarah, Maiyah menempati posisi setara dengan kaum Malamatiyah—sebuah ruang berteduh bagi masyarakat umum saat menghadapi kezaliman zaman.
Lebih lanjut, Maiyah menghadirkan nikmat tersendiri bagi bangsa Indonesia. Forum-forum Maiyah berfungsi sebagai danau serapan yang menampung banjir kebencian sosial. Ia menjelma menjadi pasukan “Gegana” penjinak bom konflik yang setiap saat bisa meledak akibat ketidakadilan. Melalui Maiyah, masyarakat menempuh sekolah kehidupan yang mengajarkan kearifan, kelapangan dada, dan kemampuan untuk tetap bahagia di tengah himpitan hidup.
Warisan Cincin Cinta Syekhona Kholil
Kedalaman cinta yang Cak Nun tebarkan tentu tidak lahir dari ruang hampa. Sejarah mencatat kisah empat santri pilihan Syekhona Kholil Bangkalan yang menerima warisan pusaka. KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan menerima pusaka kitab, sedangkan KH Romly Tamim membawa pulang pisang emas.
Pusaka terakhir, yang menduduki hierarki tertinggi sebagai simbol penyatuan, adalah sebuah cincin. Syekhona Kholil mewariskan cincin tersebut kepada KH Imam Zahid, kakek buyut Cak Nun. Cincin inilah yang kemudian menjadi roh pergerakan Maiyah—sebuah wadah yang merangkul semua golongan tanpa sekat.
Filosofi cincin ini kelak bermanifestasi menjadi simbol “Nun” karya desainer grafis Harianto. Visual melingkar tersebut menyimpan tiga lapis makna:
- Identitas Natural: Mewakili nama panggilan “Nun” yang lekat di hati masyarakat.
- Manifestasi Cincin Cinta: Melambangkan ikatan yang mendamaikan ragam perbedaan, napas utama Cak Nun dan KiaiKanjeng.
- Kesadaran Sangkan Paran: Mengingatkan manusia pada rute abadi (inna lillahi wa inna ilaihi roji’un), menampar kita yang sering kehilangan arah agar senantiasa sadar dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.
Memasuki usia ke-73 tahun, Cak Nun terus menuntun masyarakat dengan bahasa cinta yang melampaui batasan akal. Ia tidak menuntut penghargaan dari pemerintah atau siapa pun, karena niat utamanya hanyalah mempraktikkan kecintaan murni kepada Allah dan Rasul-Nya.
Semoga Allah senantiasa mengaruniakan umur panjang dan kesehatan bagi Cak Nun. Di tengah dunia empirik yang sering kali menipu kita dengan bayang-bayang realitas palsu, kita membutuhkan sosok peneduh yang terus menyadarkan kita akan pentingnya membersihkan kalbu, merawat cinta segitiga antara pencipta, utusan, dan hamba, serta menjaga keselarasan sejati di bumi Nusantara.[]





Comments are closed.