Di Indonesia, perayaan Tahun Baru Islam tidak berlangsung dalam satu warna. Di berbagai daerah, 1 Muharram hadir dengan ragam tradisi yang mencerminkan perjumpaan harmonis antara ajaran Islam dan budaya lokal.
Fenomena ini menjadi fokus penelitian Wulan Oktaviani dari IAI Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas yang dimuat dalam Syi’ar: Jurnal Ilmu Komunikasi, Penyuluhan dan Bimbingan Masyarakat Islam, Volume 7 Nomor 2 Agustus 2024. Penelitian diberi judul Nilai-Nilai Dakwah pada Perayaan 1 Muharram (Studi pada Beberapa Bentuk Perayaan 1 Muharram di Indonesia).
Penelitian tersebut berangkat dari kenyataan bahwa masyarakat Indonesia memiliki cara yang beragam dalam menyambut datangnya tahun baru Hijriah. Di balik keragaman itu, terdapat nilai-nilai dakwah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi melalui tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Salah satu tradisi yang dibahas adalah pawai obor yang banyak ditemukan di wilayah Sunda. Setiap malam 1 Muharram, masyarakat berjalan berkeliling kampung sambil membawa obor yang menyala. Menurut penelitian ini, obor tidak sekadar berfungsi sebagai alat penerang, melainkan simbol cahaya ilmu, petunjuk, dan harapan. Tradisi tersebut juga menjadi media syiar yang efektif karena melibatkan partisipasi masyarakat secara luas, terutama generasi muda.
Tradisi berikutnya adalah barikan yang masih dilestarikan masyarakat Jawa saat menyambut malam Satu Suro. Warga berkumpul dengan membawa makanan yang kemudian dinikmati bersama atau saling ditukar. Aktivitas sederhana ini mengandung pesan sosial yang kuat, yakni mempererat silaturahim, membangun solidaritas, dan menumbuhkan rasa syukur. Di saat yang sama, masyarakat memanjatkan doa agar memperoleh keselamatan dan keberkahan pada tahun yang baru.
Penelitian ini juga menyoroti tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng yang menjadi bagian dari budaya Keraton Yogyakarta. Dalam ritual tersebut, para peserta berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan yang dijaga sepanjang perjalanan dimaknai sebagai sarana introspeksi diri. Pergantian tahun tidak dipandang sebagai perayaan semata, melainkan momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan memperbaiki diri pada masa mendatang.
Sementara itu, masyarakat Sambas, Kalimantan Barat, memiliki tradisi yang khas dalam menyambut 1 Muharram. Setelah melaksanakan salat Magrib berjamaah, warga berkumpul di masjid untuk membaca doa awal tahun. Keesokan harinya, mereka kembali mengadakan doa selamat dan doa tolak bala. Salah satu ciri unik perayaan ini adalah penyajian ketupat yang membuat masyarakat setempat mengenalnya sebagai Hari Raya Ketupat. Tradisi tersebut mencerminkan harapan kolektif agar masyarakat memperoleh keselamatan dan dijauhkan dari berbagai musibah.
Dari berbagai contoh tersebut, penelitian Wulan Oktaviani menunjukkan bahwa tradisi-tradisi lokal tidak berdiri terpisah dari nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, tradisi menjadi media dakwah yang efektif karena mampu menyampaikan pesan agama melalui simbol, kebiasaan sosial, dan pengalaman budaya yang dekat dengan masyarakat.
Temuan ini sekaligus memperlihatkan karakter Islam Indonesia yang tumbuh melalui proses dialog dengan budaya lokal. Pawai obor mengajarkan pentingnya ilmu dan petunjuk hidup. Barikan menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong. Tapa Bisu Mubeng Beteng mengajak masyarakat melakukan muhasabah. Adapun Hari Raya Ketupat di Sambas menjadi simbol doa dan harapan akan keselamatan.
Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis tradisi lokal, penelitian ini mengingatkan bahwa perayaan 1 Muharram di Nusantara bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga sarana dakwah yang hidup. Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bahwa Islam dapat hadir secara membumi tanpa kehilangan substansinya, sekaligus memperkaya khazanah budaya bangsa.





Comments are closed.