Arina.id – Kurang lebih 100 delegasi undangan dari negara sahabat dan aliansi Pemerintah Iran turut menghadiri acara penghormatan terakhir jasad mendiang pimpinan otoritas tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei di Grand Mosalla Tehran pada Sabtu (4/7/2026). Masing-masing dari mereka memberikan penghormatan di hadapan jasad Ali Khamenei dengan diiringi bacaan ayat Al-Qur’an sebelum disambut dengan jabat tangan oleh perwakilan pemerintah Iran.
Saat delegasi Turki hadir dan diwakili langsung oleh Cevdet Yilmaz (Wapres Turki), Musa Kulaklikaya (Wamenlu Turki), dan Hicabi Kirlangic (Dubes Turki untuk Iran), mereka disambut dengan bacaan surat al-Nisa ayat 95 sebagai berikut:
لَا يَسْتَوِى الْقٰعِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ غَيْرُ اُولِى الضَّرَرِ وَالْمُجٰهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ فَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ دَرَجَةً ۗ وَكُلًّا وَّعَدَ اللّٰهُ الْحُسْنٰىۗ وَفَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًاۙ
Artinya: “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa uzur). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang terbaik (surga), (tetapi) Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.”
Ayat ini menerangkan tentang keutamaan berjihad di jalan Allah dan menjelaskan perbandingan antara Muslim yang mampu berjihad tapi hanya duduk tanpa udzur dengan Muslim yang berjihad. Muslim yang berjihad baik dengan harta benda dan fisiknya tentu lebih unggul dari segi derajat di sisi Allah Swt.
Wahbah bin Mustafa al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir [Beirut: Darul Fikr, 1991, vol. 5, hlm. 222.] menjelaskan bahwa tidak bisa disamakan derajat muslim yang hanya duduk tanpa udzur yang enggan berjihad, sebagaimana orang-orang yang mangkir dari perang Badar, dengan muslim yang berjihad baik dengan harta benda dan fisiknya yang didedikasikan untuk jalan yang diridai Allah SWT. Jihad ini diwujudkan dengan melawan kejahatan tirani dan menjunjung tinggi serta menjaga kebenaran, seperti jihad para pasukan Muslim di perang Badar di awal perlawanan Islam pasca hijrah.
Namun, Allah SWT mengecualikan orang-orang yang secara fisik tidak mampu untuk berjihad, seperti buta dan pincang. Meskipun mereka sangat menginginkan untuk berpartisipasi, mereka tidak bisa dibandingkan dengan muslim yang berjihad. Tiada celaan dan hinaan bagi mereka.
Kemudian Allah menjelaskan keutamaan orang yang berjihad mengalahkan orang yang tanpa udzur mangkir dari jihad. Bahwa Allah mengangkat derajat mereka yang tidak diketahui levelnya kecuali hanya Allah. Di dunia mereka medapatkan kemenangan, perhatian publik, dan harta ghanimah. Sedangkan di akhirat mereka mendapatkan posisi tinggi di surga.
Lalu Allah SWT menjelaskan bahwa Allah menjanjikan sebuah kebaikan yang diwujudkan sebagai surga dan pahala besar di akhirat kelak bagi Muslim yang berjihad dan sangat ingin berjihad, tetapi terkendala udzur fisik. Keduanya mempunyai keimanan yang sempurna dan keikhlasan niat dan amal.
Para pengamat geopolitik menilai bahwa Iran sengaja menggunakan ayat ini untuk tujuan peringatan keras kepada pemerintah Turki yang memilih besikap nertal, dan hanya diam tanpa ikut serta beraksi nyata pada konflik Iran-Amerika Israel. Iran menilai bahwa pemerintah Turki hanya berani bereaksi di podium dengan suara lantang, tetapi justru diam tanpa aksi nyata di lapangan karena khawatir akan stabilitas hubungan internasional yang bisa mengganggu kepentingan ekonomi nasional.
Ayat itu memberikan pesan tersirat dari Iran untuk pemerintah Turki bahwa melawan musuh dengan aksi nyata jauh lebih mulia dari pada hanya duduk di rumah dan mangkir dari perjuangan untuk bermain aman. Berani menghadapi resiko perjuangan dan berani membayar mahal untuk perjuangan jauh lebih mulia dari pada hanya sekerar menjadi pemerhati yang hanya bisa menonton tanpa berpartisipasi dalam aksi nyata. Wallahu a’lam.





Comments are closed.