Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Omertà bukan sekadar sumpah mafia untuk tutup mulut. Ia adalah teknologi kekuasaan yang menjaga jaringan tetap utuh melalui kesunyian dan loyalitas. Namun, sejarah menunjukkan, bangunan paling kuat sekalipun bisa mulai retak ketika satu sinyal muncul.
Dalam sejarah mafia Sisilia, terdapat sebuah konsep yang jauh lebih penting daripada senjata, uang, atau kekerasan. Konsep itu bernama Omertà, sebuah sumpah diam yang mengharuskan setiap anggota menjaga kerahasiaan jaringan, apapun yang terjadi.
Namun Omertà sesungguhnya bukan sekadar larangan berbicara. Ia adalah mekanisme kepercayaan yang membuat sebuah jaringan mampu bertahan menghadapi tekanan dari luar.
Dalam kajian sosiologi organisasi tertutup, keheningan sering kali menjadi mata uang yang lebih berharga daripada loyalitas formal. Selama semua pihak tetap diam, hubungan antarpelaku, aliran kepentingan, dan struktur perlindungan dapat terus bekerja tanpa gangguan.
Oleh karena itu, ancaman terbesar bagi jaringan tertutup bukanlah penyelidik dari luar, melainkan kemungkinan bahwa seseorang di dalam mulai mengirimkan sinyal mengenai keberadaan pihak lain.
Dalam konteks itulah perdebatan mengenai kepingan pernyataan eks Jampidsus Febrie Adriansyah menjadi menarik dibaca sebagai fenomena politik kekuasaan.
Dalam bait konferensi pers, Febrie mengakui rumah yang digeledah adalah miliknya namun mengatakan satu frasa kunci bahwa harta yang ada di dalamnya ada pemiliknya, yang mengindikasikan bukan dirinya sang empunya.
Bukan semata-mata soal benar atau salahnya suatu klaim, melainkan mengenai makna simbolik dari sebuah pernyataan yang dapat ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa terdapat aktor lain di luar dirinya.
Dalam logika Omertà, persoalan utama bukanlah informasi yang diungkapkan, melainkan fakta bahwa batas kesunyian mulai bergeser.
Di sinilah Omertà menjadi relevan sebagai lensa analisis. Ia tidak hanya hidup dalam organisasi kriminal. Dalam berbagai bentuk jaringan patronase, oligarki, kartel ekonomi, hingga lingkaran kekuasaan politik, selalu terdapat norma tidak tertulis yang mengatur sejauh mana seseorang boleh berbicara dan sejauh mana ia harus tetap diam.
Ketika norma itu mulai retak, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu, tetapi stabilitas seluruh jaringan yang selama ini menopangnya. Lantas, mengapa lensa analisis tersebut dapat dikatakan relevan?
Retaknya Kesetiaan?
Albert O. Hirschman dalam Exit, Voice, and Loyalty menjelaskan bahwa anggota suatu organisasi pada dasarnya memiliki tiga pilihan ketika menghadapi tekanan, tetap setia, menyampaikan suara, atau keluar dari sistem.
Dalam jaringan kekuasaan yang tertutup, loyalitas bukan hanya berarti mendukung organisasi, tetapi juga menjaga disiplin diam yang melindungi semua pihak.
Dari perspektif ini, setiap sinyal yang mengarah pada keberadaan aktor lain dapat dibaca sebagai perubahan posisi dari loyalty menuju voice.
Yang menjadi persoalan bukan apakah informasi tersebut lengkap atau tidak, melainkan munculnya persepsi bahwa seseorang tidak lagi sepenuhnya berada dalam koridor kesunyian yang sama.
Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak jaringan kekuasaan tampak kuat dari luar tetapi rapuh dari dalam. Selama semua pihak mematuhi aturan diam, solidaritas terlihat kokoh.
Namun begitu muncul indikasi bahwa seseorang mulai berbicara, tingkat kepercayaan antarpihak dapat berubah secara drastis.
Dalam dunia patronase, persepsi sering kali lebih penting daripada fakta. Sekadar kemungkinan bahwa seseorang dapat membuka pintu menuju informasi yang lebih besar sudah cukup untuk mengubah kalkulasi politik banyak aktor.
Sosiolog Mark Granovetter menyebut bahwa jaringan besar bertahan bukan karena hubungan yang sangat kuat, melainkan karena banyak hubungan kecil yang saling menopang.
Akibatnya, keretakan pada satu titik sering kali memunculkan efek berantai. Bukan karena satu individu memiliki seluruh informasi, tetapi karena perubahan sikap satu individu dapat memengaruhi persepsi seluruh jaringan mengenai siapa yang masih dapat dipercaya.
Karenanya, dalam sejarah organisasi tertutup, pelanggaran terhadap disiplin diam sering dipandang sebagai bentuk bunuh diri strategis.
Bukan karena ancaman hukum datang seketika, melainkan karena hipotesa bahwa perlindungan informal yang selama ini menjadi tameng mulai kehilangan efektivitasnya.

Sunyi yang Berkhianat
Diego Gambetta dalam kajiannya mengenai Mafia Sisilia menjelaskan bahwa mafia pada dasarnya adalah bisnis perlindungan.
Yang dijual bukan sekadar kekuatan, melainkan jaminan bahwa anggota jaringan akan tetap aman selama mematuhi aturan bersama. Perlindungan dan kesunyian merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Ketika salah satunya hilang, yang lain ikut melemah.
Dari sudut pandang tersebut, Omertà bukan sekadar budaya tutup mulut. Ia adalah teknologi kekuasaan. Ia menjaga agar hubungan antaraktor tetap berada dalam ruang abu-abu yang sulit disentuh oleh pihak luar.
Selama kesunyian bertahan, struktur kekuasaan tetap utuh. Namun ketika kesunyian mulai berubah menjadi sinyal, struktur itu memasuki fase ketidakpastian.
Di titik ini, pemikiran René Girard mengenai scapegoat atau kambing hitam menjadi relevan. Girard menjelaskan bahwa setiap komunitas yang menghadapi tekanan cenderung mencari figur yang dapat memikul beban konflik kolektif.
Dalam banyak kasus sejarah, individu yang dianggap keluar dari disiplin bersama sering kali menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena apa yang ia lakukan, tetapi karena apa yang ia simbolkan.
Akhirnya, pelajaran terbesar dari Omertà bukanlah tentang mafia. Ia adalah pelajaran mengenai bagaimana kekuasaan bekerja. Banyak orang mengira kekuasaan bertahan karena uang, jabatan, atau kekuatan koersif.
Padahal dalam banyak kasus, kekuasaan bertahan karena adanya kesepakatan diam yang dipatuhi oleh semua pihak yang terlibat.
Ketika kesepakatan itu retak, bahkan hanya melalui satu kalimat yang memunculkan tafsir baru, pertanyaan besar mulai muncul, yakni apakah jaringan masih utuh, atau justru sedang memasuki fase ketika setiap orang mulai menghitung keselamatan dirinya sendiri?
Sejarah menunjukkan bahwa bangunan kekuasaan jarang runtuh oleh serangan dari luar. Ia lebih sering melemah ketika disiplin internal mulai terkikis.
Sebab dalam dunia jaringan tertutup, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang berada di luar tembok, melainkan momen ketika kesunyian yang selama ini menjaga tembok tersebut mulai kehilangan maknanya. (J61)





Comments are closed.