Tue,14 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Imin dan Para Titisan Wiraraja

Imin dan Para Titisan Wiraraja

imin-dan-para-titisan-wiraraja
Imin dan Para Titisan Wiraraja
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Prabowo menyindir Cak Imin: dulu berpisah, kini bersama lagi. Kenapa ada politisi yang seolah selalu bertahan di sisi pemenang? 


PinterPolitik.com

“Arya Wiraraja (ayah Nambi) adalah seorang politikus ulung yang selalu bisa jeli membaca situasi, dan cepat-tepat mengambil tindak-lanjut untuk memanfaatkannya.” – Pranoedjoe Poespaningrat, Kisah Para Leluhur dan yang Diluhurkan: dari Mataram Kuno sampai Mataram Baru (2008)

Cupin menonton potongan video itu berulang kali di layar ponselnya. Di panggung peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, Presiden Prabowo Subianto tampak santai memakai perumpamaan yang akrab di telinga siapa pun.

Persaingan politik, kata Presiden, seperti sepak bola. Selalu ada yang menang dan yang kalah, dan tidak ada gunanya memukuli wasit.

Presiden lalu menunjuk satu contoh hidup, yaitu Muhaimin Iskandar. Sosok yang pernah bersamanya, lalu berpisah jalan, dan kini kembali seiring di dalam pemerintahan.

Cupin tersenyum kecil membaca pesan di balik guyon itu. Bagi Presiden, momen tersebut adalah perayaan atas kedewasaan berdemokrasi, sebuah pesan tulus bahwa bertanding boleh keras, tetapi sesudahnya semua bersatu bekerja untuk rakyat.

Namun Cupin, yang gemar menelusuri sejarah, menangkap sesuatu yang lebih dalam. Sosok yang berdiri di samping Presiden hari itu bukan sekadar mantan lawan yang kembali.

Cupin membuka catatannya yang penuh coretan. Cak Imin, gumamnya, adalah salah satu politisi paling konsisten dalam sejarah Reformasi, konsisten pada satu hal yang sangat spesifik, yakni berada di dalam kekuasaan.

Sejak Reformasi bergulir, kata Cupin, jumlah tahun ketika Cak Imin berada sungguh-sungguh di kursi oposisi nyaris bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pola yang terlalu rapi untuk diabaikan begitu saja.

Sebagian pengamat, kata Cupin dalam hati, menjuluki Cak Imin dengan istilah penuh warna, si paling hijrah. Sebutan itu bernada guyon, sebab hijrah dalam maknanya yang asali adalah perpindahan mulia yang sarat tujuan.

Cupin menyalakan lampu meja dan mulai berpikir serius. Ketika idiom itu ditempelkan pada rekam jejak Cak Imin, yang muncul bukan gambaran perpindahan menuju satu tujuan tetap, melainkan pola perpindahan yang selalu bermuara ke titik yang sama.

Titik itu adalah pusat kekuasaan. Pola semacam ini, pikir Cupin, terasa sangat tua dan sangat khas Nusantara.

Dua pertanyaan pun menggantung di benak Cupin sebelum ia melanjutkan penelusurannya. Adakah arketipe atau pola dasar yang menjelaskan sosok politisi yang selalu bertahan di sisi pemenang seperti ini?

Dan jika arketipe itu memang ada, apakah ia hanya milik Indonesia, atau justru bergema di panggung politik seluruh dunia? Cupin membalik halaman catatannya untuk mencari jawaban.

Silsilah Sang Kancil

Cupin memulai dari dunia fiksi yang paling ia gemari. Ia teringat pada Petyr Baelish, tokoh berjuluk Littlefinger dalam serial Game of Thrones, seorang bangsawan kecil tanpa pasukan besar yang bertahan melewati pergantian demi pergantian penguasa.

Bagi Baelish, kekacauan adalah sebuah tangga. Setiap perebutan kekuasaan bukan ancaman, melainkan peluang untuk memanjat satu anak tangga lebih tinggi, renung Cupin sambil mengangguk.

Arketipe sang penyintas cerdik ini, sadar Cupin, muncul di hampir setiap kebudayaan. Ia hadir dalam fabel Kancil, dalam figur punakawan seperti Semar di pewayangan, hingga drama politik Barat yang paling mutakhir.

Cupin lalu teringat akademisi yang pernah ia baca. Dalam buku Policy, Office, or Votes?, Kaare Strom dan Wolfgang Muller memetakan tiga motivasi dasar partai, yaitu mengejar kebijakan, mengejar suara, atau mengejar jabatan.

Sang pemburu jabatan, atau office seeker, menempatkan akses terhadap kekuasaan eksekutif sebagai prioritas tertinggi. Cupin merasa kerangka ini seperti pisau bedah yang pas untuk sosok yang sedang ia telusuri.

Namun Cupin tidak ingin berhenti di teori Barat. Ia yakin arketipe ini punya akar yang jauh lebih tua di tanah sendiri.

Ingatannya melayang ke abad ke-13, kepada Arya Wiraraja, penguasa Sumenep. Menurut tradisi babad seperti Pararaton, Wiraraja adalah ahli siasat yang menjaga hubungan baik dengan Jayakatwang sambil pada saat yang sama melindungi Raden Wijaya.

Wiraraja bermain di dua meja sekaligus, kata Cupin takjub. Ia berakhir sebagai arsitek di balik layar bagi berdirinya Majapahit, kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Cupin lalu melompat ke abad ke-20 dan tersenyum menemukan padanannya. Adam Malik, sang diplomat berjuluk Si Kancil, berawal dari Partai Murba yang berhaluan kiri bersama Tan Malaka, lalu berpindah ke Golkar ketika angin berubah.

Adam Malik menjadi tokoh penting di era Soekarno, lalu justru semakin bersinar di era Soeharto hingga menjadi Wakil Presiden. Falsafahnya yang termasyhur, semua bisa diatur, terekam Cupin sebagai ringkasan sempurna seni bertahan lintas rezim.

Pola ini bahkan mendunia, pikir Cupin. Di Jerman, Hans-Dietrich Genscher bertahan sebagai Menteri Luar Negeri selama hampir dua dekade meski partainya berpindah dari koalisi kiri ke kanan, sementara Italia mengenal tradisi trasformismo, kebiasaan elite berganti aliansi demi tetap memerintah.

Dua pertanyaan baru kini muncul di kepala Cupin. Jika arketipe sang kancil ini universal, seberapa presisi ia menjelaskan sosok Cak Imin secara khusus?

Dan apa sesungguhnya yang membuat seorang kancil politik bisa bertahan begitu lama, bahkan tanpa selalu memenangkan pertandingan? Cupin menyeruput kopinya dan mulai membedah rekam jejak.

image

Titisan Wiraraja Termutakhir?

Cupin membentangkan rekam jejak Cak Imin di atas meja. Sejak PKB lahir pada 1998, Cak Imin telah melewati lima kepresidenan, dari Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo.

Yang membuat Cupin terkesan bukan kemenangannya, melainkan ketahanannya. Setelah era Gus Dur, PKB tidak pernah lagi finis di tiga besar, tetapi posisinya di lingkar kekuasaan nyaris tak tergoyahkan.

Cupin mencatat titik terendah pada 2009, ketika kursi PKB anjlok drastis. Menariknya, di tahun sulit itu Cak Imin justru duduk sebagai menteri di kabinet Susilo Bambang Yudhoyono.

Inilah bukti tesis sang office seeker, simpul Cupin. Ketahanan jabatan Cak Imin tidak berbanding lurus dengan naik turunnya perolehan suara.

Cupin lalu teringat kerangka dari Dan Slater soal lanskap kepartaian kita. Dalam berbagai tulisannya, Slater menyebut fenomena party cartelization, kondisi ketika hampir semua partai bersedia berbagi kekuasaan eksekutif terlepas dari afiliasi kampanye.

Slater juga memakai istilah promiscuous powersharing, pembagian kekuasaan yang cair dan mudah berpindah pasangan. Bagi seorang kancil, kata Cupin, sistem semacam ini adalah habitat yang ideal.

Ketika norma bersama adalah bahwa pihak yang kalah pun akhirnya diundang masuk, maka kekalahan tidak pernah benar-benar menutup pintu. Kekalahan hanya menjadi ruang tunggu, bukan pintu keluar, tulis Cupin dengan huruf tebal.

Cupin membandingkannya dengan sosok seperti Genscher di Jerman tadi. Perbedaannya, Cak Imin memadukan kelenturan koalisi dengan basis massa Nahdlatul Ulama yang solid, sebuah kombinasi yang membuat posisinya semakin lestari.

Contoh serupa juga terlihat di Jepang, catat Cupin, tempat sejumlah faksi dalam partai yang lama berkuasa mampu bertahan melintasi banyak kabinet. Di sana, seperti di sini, kunci ketahanan bukanlah selalu menang, melainkan selalu berada di dalam barisan yang memerintah.

Cupin menutup catatannya dengan renungan yang tenang. Sindiran Presiden Prabowo di panggung koperasi itu, pikirnya, sesungguhnya adalah artikulasi elegan dari kedewasaan sebuah bangsa yang memilih bersatu setelah bersaing.

Namun bagi Cupin, kisah Cak Imin menyimpan pelajaran struktural yang lebih besar tentang cara kerja demokrasi kita. Dari Wiraraja di abad ke-13 hingga hari ini, Nusantara selalu mengenal sosok penyintas yang cerdik membaca arah angin.

Kelincahan semacam itu, catat Cupin, terbukti menjadi modal politik yang jauh lebih awet ketimbang kemenangan elektoral itu sendiri. Ia bukan cacat, melainkan cermin dari sistem yang memberinya ruang untuk tumbuh dan lestari.

Pertanyaan yang tersisa, gumam Cupin sambil mematikan lampu meja, bukanlah tentang seorang tokoh semata. Melainkan tentang sistem politik yang terus melahirkan para titisan sang kancil dari satu generasi ke generasi berikutnya. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.