Bagi penulis, pembahasan mengenai Sayyidah Ummu Kultsum seakan tidak pernah habis untuk diulas. Semula, tulisan yang kami publikasikan di alif.id hanya direncanakan terdiri atas dua seri. Namun, tingginya antusiasme pembaca—terutama melalui infografis yang diunggah di akun Instagram alif__id—lalu mendorong penulis untuk kembali merampungkan beberapa catatan tambahan mengenai sang Diva Arab tersebut.
Dorongan itu semakin kuat setelah Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), melalui akun Instagram pribadinya (@s.kakung), berkenan memberikan ta’liqot—istilah di dunia pesantren yang berarti catatan atau keterangan tambahan—mengenai sosok Ummu Kultsum. Keterangan beliau membuka perspektif baru yang menarik untuk dituliskan, terutama tentang sisi-sisi Ummu Kultsum yang belum banyak diketahui publik.

Dalam kolom komentar unggahan Instagram alif__id, Gus Mus menuturkan bahwa sekitar dekade 1970-an beliau pernah menulis secara rinci di majalah bulanan Intisari mengenai para penyanyi Arab beserta julukan-julukan kehormatan yang mereka sandang. Salah satunya adalah Ummu Kultsum yang dikenal dengan gelar Al-Kawkab asy-Syarq (Bintang dari Timur). Sayangnya, beliau sudah tidak mengingat lagi edisi maupun bulan terbit tulisan tersebut.
Selain itu, Gus Mus juga menyampaikan beberapa catatan penting mengenai sosok Ummu Kultsum.
Pertama, Ummu Kultsum hanya menyanyikan karya para penyair besar, bukan sekadar lirik lagu biasa. Hal ini tampak jelas ketika kita menelusuri perjalanan artistiknya. Sejumlah pujangga ternama Mesir, seperti Ahmad Syafiq Kamil dan Muhammad Abdul Wahab, merupakan di antara penyair yang karya-karyanya dilantunkan Ummu Kultsum, baik dalam konser-konser nasional di Mesir maupun pertunjukan internasional, termasuk di Paris.
Kedua, Ummu Kultsum benar-benar memahami dan menghayati setiap puisi yang dinyanyikannya. Rekaman konser-konsernya memperlihatkan bagaimana ia melantunkan syair-syair tersebut tanpa melihat teks, seolah telah menyatu dengan setiap bait yang diucapkannya.
Hal itu tampak, misalnya, ketika ia membawakan beberapa bait terakhir qasidah Saluu Qalbi. Pada bagian yang berisi munajat kepada Allah melalui perantara Abaz Zahrah, yakni Rasulullah saw., Ummu Kultsum sempat berhenti sejenak karena menahan haru hingga menitikkan air mata. Momen tersebut menjadi bukti betapa dalam penghayatannya terhadap syair yang ia lantunkan.
Ketiga, selain qasidah bertema cinta, sebagian besar repertoar Ummu Kultsum justru bertemakan tasawuf dan nilai-nilai keagamaan. Hal itu dapat ditemukan dalam karya-karya seperti Nahjul Burdah, Wulidal Huda, dan Qasidah Hijriyyah. Qasidah terakhir merupakan syair pujian kepada Rasulullah saw. yang hingga kini terpatri di dinding luar kawasan makam Rasulullah di Masjid Nabawi.
Demikian pula lagu Ats-Tsulatsah al-Muqaddasah yang mengangkat tema keagamaan sekaligus semangat perjuangan. Syair tersebut dipersembahkan untuk membangkitkan moral pasukan Mesir dan Suriah dalam menghadapi Zionis Israel pada Perang Yom Kippur tahun 1973.
Keempat, Ummu Kultsum dikenal sebagai sosok yang dermawan. Menurut penuturan Gus Mus, hasil dari konser-konser besarnya banyak disalurkan untuk membantu fakir miskin dan berbagai kegiatan sosial, terutama ketika Mesir mengalami krisis pasca-Perang Enam Hari pada 1967.
Kelima, ia memiliki kecintaan yang besar kepada para penggemarnya. Hal ini tampak dari berbagai dokumentasi konsernya. Bahkan setelah tirai panggung ditutup, Ummu Kultsum masih menyempatkan diri menyapa para penonton. Dalam berbagai kesempatan perjalanan pun ia tidak segan memberikan perhatian kepada para penggemarnya, baik anak-anak, orang dewasa, maupun para lansia.
Informasi menarik lainnya kami peroleh dari salah seorang jamaah Al-Khidmah. Ia menuturkan bahwa Kiai Utsman Al-Ishaqi Jatipurwo, murid kesayangan Kiai Romly Tamim Jombang, juga dikenal sebagai penikmat lagu-lagu Ummu Kultsum. Ketika penulis menanyakan sumber cerita tersebut, ia menjelaskan bahwa kisah itu berasal dari Kiai Zubair Umar Affandi, salah seorang santri yang lama mendampingi Kiai Utsman.
Kiai Zubair pernah berkisah bahwa ketika menyaksikan tayangan konser Ummu Kultsum di TV9, beliau teringat dawuh Kiai Utsman, “Zubair, Ummu Kultsum iki wali wadon (wali dari kalangan perempuan).”
Tentu pernyataan tersebut bukan sekadar ungkapan tanpa dasar. Ketika Ummu Kultsum wafat pada tahun 1975, sekitar empat juta warga Mesir memenuhi jalan-jalan untuk mengantarkan kepergiannya. Jumlah pelayat yang begitu besar menunjukkan betapa dalam kecintaan masyarakat Mesir terhadap sosok yang telah menjadi ikon budaya bangsa Arab itu.
Selain Kiai Utsman Al-Ishaqi, sejumlah ulama Nusantara lain yang dikenal mengagumi Ummu Kultsum antara lain Kiai Nurul Huda Jazuli, Kiai Imam Yahya Mahrus, dan Kiai Asrori Utsman Kedinding. Tentu masih banyak nama lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu dalam tulisan singkat ini.
Bagi masyarakat Arab, Ummu Kultsum bukan sekadar penyanyi legendaris. Ia merupakan simbol pemersatu bangsa, seorang seniman yang melalui suara dan karya-karyanya mampu menghadirkan harapan di tengah berbagai gejolak politik, konflik, dan peperangan yang berkepanjangan. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila hingga hari ini sosoknya tetap menempati posisi yang nyaris tak tergantikan dalam sejarah kebudayaan Arab. Wallahhu a’lam.





Comments are closed.