Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

zuhud,-sebagai-cara-pandang,-bukan-gaya-berpakaian
Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian
service

Mubadalah.id – Tidak sedikit orang masih membayangkan zuhud sebagai kehidupan yang serba sederhana, pakaian yang lusuh, atau pilihan menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Gambaran itu begitu melekat sehingga ukuran kezuhudan sering berhenti pada penampilan. Padahal, ukuran seperti itu boleh kita bilang terlalu dangkal untuk menjelaskan makna kesejatian zuhud yang terwariskan para ulama.

Penampilan memang mudah terlihat, tetapi hati tidak pernah dapat terukur dari apa yang seseorang kenakan. Ada orang yang hidup sederhana, tetapi pikirannya terus terpenuhi hasrat mengejar dunia. Sebaliknya, ada pula yang diberi kelapangan rezeki tanpa kehilangan kebebasan hati dari godaan dunia.

Waliyullah Ibrahim bin Adham, misalnya, tidak menjelaskan zuhud melalui daftar larangan terhadap harta, jabatan, atau kenikmatan dunia. Ia justru mengajak mengubah cara memandang kehidupan. Dari sanalah zuhud bertumbuh. Dunia tidak ia pandang sebagai tujuan akhir, melainkan sekadar tempat singgah menuju kehidupan yang kekal.

Cara pandang itu terasa semakin bermakna ketika mengetahui siapa yang mengucapkannya. Ibrahim bin Adham bukan orang yang sejak awal hidup dalam kekurangan. Ia adalah putra Raja Balkh yang pernah menikmati kekuasaan, kemewahan, dan berbagai kenyamanan dunia. Pengalaman itulah yang membuat kesaksiannya memiliki bobot.

Membincang Makna Zuhud

Orang yang belum pernah memiliki dunia mungkin mudah mengatakan bahwa dunia tidak penting. Sebaliknya, ketika pernyataan itu datang dari seseorang yang pernah menggenggamnya, lalu memilih menempatkannya pada posisi yang semestinya, ucapannya menjadi pelajaran yang layak kita renungkan.

Ketika ditanya tentang bagaimana zuhud tumbuh dalam dirinya, Ibrahim bin Adham menjawab:

رَأَيْتُ الْقَبْرَ مُوحِشًا وَلَيْسَ مَعِي مُؤْنِسٌ، وَرَأَيْتُ الطَّرِيقَ طَوِيلًا وَلَيْسَ مَعِي زَادٌ، وَرَأَيْتُ الْجَبَّارَ قَاضِيًا وَلَيْسَ لِي حُجَّةٌ

“Aku melihat kubur itu mencekam, sedangkan tidak ada teman yang menyertaiku. Aku melihat perjalanan begitu panjang, sedangkan tidak ada bekal yang kubawa. Aku melihat Allah Yang Mahaperkasa sebagai hakim, sedangkan tidak ada hujah yang dapat menjadi pembelaku.”

Tiga kalimat itu menunjukkan bahwa titik berangkat zuhud bukan kemiskinan, melainkan cara memandang kehidupan. Ibrahim bin Adham melihat kubur, melihat panjangnya perjalanan menuju akhirat, dan melihat Allah Yang Mahaperkasa sebagai hakim atas seluruh amal manusia.

Cara pandang itulah yang mengubah penilaiannya terhadap kehidupan. Dunia tidak lagi ia pandang sebagai tempat menetap, melainkan persinggahan. Harta tidak lagi menjadi lambang kemuliaan, melainkan bekal yang harus dipertanggungjawabkan. Jabatan tidak lagi ia anggap sebagai puncak keberhasilan, melainkan amanah yang kelak dihisab.

Di sinilah letak kedalaman makna zuhud. Zuhud tidak lahir karena kebencian terhadap dunia, melainkan karena kejernihan cara berpikir. Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa yang ditinggalkan bukan dunia, melainkan kenyamanan dunia demi memperoleh kebahagiaan akhirat. Dunia tetap menjadi tempat bekerja, menuntut ilmu, membangun keluarga, dan menghadirkan kemaslahatan. Yang berubah ialah kedudukannya dalam hati. Dunia berada di tangan untuk terkelola, bukan di hati untuk disembah.

Zuhud dan Cara Pandang tentang Perjalanan Hidup

Cara pandang seperti ini terasa semakin relevan ketika kehidupan terpenuhi ukuran yang serba lahiriah. Kesuksesan sering terukur dari apa yang kita miliki, bukan dari perjuangan yang kita jalani. Nilai seseorang kerap ditentukan oleh citra, bukan integritas. Akibatnya, banyak orang sibuk mengejar pengakuan tanpa pernah merasa cukup. Persoalannya bukan karena dunia menawarkan terlalu banyak kenikmatan, melainkan karena dunia kita tempatkan sebagai pusat seluruh harapan.

Ibrahim bin Adham mengajarkan pelajaran yang sangat masuk akal. Perjalanan yang hanya berlangsung beberapa hari kita persiapkan dengan sungguh-sungguh, sedangkan perjalanan yang pasti ditempuh setiap manusia justru sering terabaikan. Kesadaran itulah yang melahirkan zuhud. Zuhud hadir sebagai kemampuan menempatkan setiap urusan sesuai kadar kepentingannya, bukan sebagai pelarian dari kehidupan.

Karena itu, zuhud tidak pernah bertentangan dengan kerja keras. Ibrahim bin Adham tetap mencari nafkah melalui hasil kerja tangannya setelah meninggalkan istana. Zuhud tidak melahirkan kemalasan, tetapi membebaskan manusia dari ketergantungan. Beban yang sesungguhnya bukan terletak pada pekerjaan, melainkan pada sikap menggantungkan harga diri kepada hasil pekerjaan.

Perubahan terbesar dalam hidup tidak selalu berawal dengan pergantian pakaian, tempat tinggal, atau pekerjaan. Perubahan itu bermula ketika cara memandang kehidupan berubah.

Dari tiga penglihatan Ibrahim bin Adham lahirlah hati yang merdeka, hati yang mampu menikmati dunia tanpa diperbudak olehnya, mampu memiliki tanpa dimiliki, serta mampu berjalan menuju akhirat tanpa mengabaikan tanggung jawab memakmurkan kehidupan di dunia. Itulah zuhud yang sesungguhnya, yaitu cara pandang yang mengubah arah hidup, bukan gaya berpakaian. Wallahu a’lam bi al-shawab. []

*Disampaikan dalam Pengajian Jumat Legian, Kitab Nashā’ih al-‘Ibād (Maqalah 31), di Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jumat, 10 Juli 2026.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.