Tue,1 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Sosiolog: Aksi Pengeroyokan Tak Lepas dari Kekerasan Struktural dan Problem Sosial yang Berlangsung Lama

Sosiolog: Aksi Pengeroyokan Tak Lepas dari Kekerasan Struktural dan Problem Sosial yang Berlangsung Lama

sosiolog:-aksi-pengeroyokan-tak-lepas-dari-kekerasan-struktural-dan-problem-sosial-yang-berlangsung-lama
Sosiolog: Aksi Pengeroyokan Tak Lepas dari Kekerasan Struktural dan Problem Sosial yang Berlangsung Lama
service

Jakarta, NU Online

Sosiolog sekaligus Sejarawan Universitas Nasional (UNAS), Andi Achdian, menilai maraknya aksi pengeroyokan di sejumlah daerah tidak dapat dipahami semata-mata sebagai tindakan spontan individu. Menurutnya, fenomena tersebut merupakan bagian dari kekerasan yang bersifat struktural dan berkaitan dengan berbagai persoalan sosial yang telah berlangsung lama.

Andi menjelaskan, meningkatnya kekerasan di tengah masyarakat juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

“Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan sosial yang turut memengaruhi munculnya kekerasan,” ujar Andi kepada NU Online, Kamis (30/7/2026).

Ia mencontohkan krisis multidimensi pada 1998 sebagai gambaran bagaimana faktor-faktor struktural dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kekerasan di masyarakat. Pada masa itu, berbagai daerah mengalami peristiwa pembakaran, penculikan, hingga penganiayaan yang, menurutnya, tidak dapat dipisahkan dari situasi krisis yang terjadi.

“Krisisnya macam-macam, ada krisis ekonomi, politik, dan krisis legitimasi. Semua itu menjadi faktor,” ujarnya.

Selain faktor krisis, Andi juga menyoroti adanya tradisi kekerasan yang telah berlangsung sejak masa kolonial dan masih membekas di sebagian masyarakat, khususnya di Jawa. Menurutnya, terdapat anggapan yang seolah memberikan license to violence atau pembenaran terhadap penggunaan kekerasan bagi kelompok tertentu, terutama kalangan anak muda.

Ia mengutip temuan seorang peneliti antropologi yang menunjukkan bahwa tindakan kekerasan di kalangan anak muda sebelum menikah kerap dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Namun, kecenderungan tersebut biasanya mulai berkurang setelah mereka menikah.

Fenomena itu, lanjut Andi, dapat dilihat dari berbagai praktik seperti berjaga di pos ronda, perkelahian antarkelompok, hingga tawuran antardesa. Dalam situasi tertentu, tindakan-tindakan tersebut dinormalisasi sehingga mendorong perilaku agresif yang bahkan dapat menghilangkan nyawa seseorang.

Menurut Andi, pola semacam itu masih dapat dijumpai hingga sekarang. Ia menilai negara juga belum sepenuhnya mampu menghadirkan mekanisme sosial yang efektif untuk menggantikan praktik-praktik tersebut dalam menjaga ketertiban masyarakat.

“Sampai sekarang, negara juga belum mampu sepenuhnya menggantikan peran sosial tersebut dalam mengurangi tindakan kriminalitas,” imbuhnya.

Karena itu, Andi menilai praktik main hakim sendiri yang masih terjadi hingga kini perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah panjang kekerasan yang berakar dalam kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya melalui penegakan hukum terhadap pelaku, tetapi juga dengan membenahi faktor-faktor sosial yang melatarbelakanginya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.