Dunia seni rupa Indonesia kembali diselimuti keheningan yang amat mendalam. Pada Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, sang maestro lukis asal Yogyakarta, Nasirun, berpulang ke hadirat Sang Maha Pencipta pada usia 60 tahun. Jenazahnya diantarkan oleh ratusan sahabat, budayawan, ulama kebudayaan, serta kaum akademisi menuju peristirahatan terakhir di Makam Seniman Giri Sapto, Imogiri, Bantul. Sebuah tanah pemakaman di perbukitan suci yang menampung jasad para perawat kebudayaan bangsa, berdekatan dengan kompleks makam raja-raja Mataram Islam.
Kepergian Nasirun bukan sekadar berhentinya laju kreativitas seorang perupa kontemporer ternama di panggung internasional. Dalam pembacaan sosiologi kebudayaan dan hermeneutika seni, berpulangnya Nasirun adalah berpulangnya salah satu artikulator paling penting yang berhasil mempertautkan antara nalar estetika modernis dengan kosmologi epistemik Nusantara. Ia adalah sosok yang secara konsisten membuktikan bahwa tradisi lokal bukanlah barang fosil yang lapuk ditelan zaman, melainkan sumber mata air spiritualitas yang tak pernah kering bagi panggung kebudayaan modern.
Kanvas sebagai Sajadah dan Hermeneutika Mistisisme Jawa
Lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 28 Mei 1965, Nasirun menempuh pendidikan formal di Jurusan Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun, alih-alih sepenuhnya terseret ke dalam arus Western-centric aesthetics yang dominan di ruang-ruang akademis modern, jemari Nasirun justru semakin erat memeluk akar tradisi lokalnya. Dalam pandangan dunianya, seni bukanlah sekadar pencapaian bentuk visual yang mekanis (mimesis), melainkan sebuah ziarah batin untuk mengurai rahasia eksistensi manusia di hadapan Sang Pencipta.
Bagi Nasirun, elemen pewayangan, mitologi lokal, cerita rakyat, hingga idiom-idiom mistisisme Jawa bukan sekadar visualitas dekoratif atau tempelan ornamen permukaan. Sebagaimana teoretisasi Wright (1994) mengenai lanskap spiritual seniman Nusantara, figur-figur wayang dalam lukisan Nasirun yang hadir meliuk, bertumpuk, distortif, dan sarat warna merupakan bentuk pementasan kembali (re-enactment) atas drama eksistensial manusia. Di sini, figur wayang bekerja sebagai alegori atas dialektika abadi antara yang profan dan yang sakral, antara dimensi marcapada dan nirwana. Suatu pencarian hakikat batin yang amat paralel dengan konsep manunggaling kawula-gusti dalam kosmologi Jawa. Wayang di tangan Nasirun mengejawantahkan pergulatan moral manusia yang tak pernah selesai dalam menggapai kesempurnaan batin (insan kamil).
Seni lukis di tangan Nasirun bekerja layaknya kontemplasi spiritual yang intens. Goresan kuasnya yang tebal (impasto), spontan, dan meluap-luap melahirkan tekstur kanvas yang “bernapas” dan berdenyut. Ia tidak sekadar melukis bentuk lahiriah (zahir), melainkan berikhtiar menangkap rasa, sebuah konsep kedalaman batin dalam mistisisme Jawa, yang sebagaimana ditunjukkan Zoetmulder (1995), berkelindan erat dengan doktrin tasawuf wahdatul wujud di Nusantara.
Kanvas di hadapan Nasirun berfungsi tak ubahnya sebuah sajadah, yakni sebuah ruang hening untuk bersujud, melepaskan ego kemanusiaan, sekaligus merayakan keindahan Ilahi (al-jamal) melalui perantara garis dan warna. Dalam tarikan napas estetiknya, setiap warna pekat dan bidang kanvas yang padat melambangkan alam semesta (makrokosmos) yang berkelindan rapat dengan jiwa sang perupa (mikrokosmos).
Demokrasi Media, Koleksi Altruistik, dan Etika “Srawung”
Daya cipta Nasirun dikenal luas tak pernah bertepi dan selalu menolak pembatasan formalistis. Ketika wacana seni rupa modernis sering kali terjebak dalam pengagungan kanvas dan cat minyak sebagai media adiluhung yang steril, Nasirun justru melakukan pembongkaran hierarki media secara radikal. Ia melukis dengan penuh gairah di atas genteng tanah liat bekas, kayu lapuk, batu nisan, botol minyak wangi, meja tua, hingga bagian-bagian kendaraan antik.
Secara teoritis, praktik artistik Nasirun ini mencerminkan apa yang oleh Supangkat (1997) sebut sebagai upaya “dekonstruksi batas seni rupa” dalam peta seni rupa kontemporer Indonesia. Langkah eksploratif ini membawa pesan teologis-filosofis yang sangat kuat, bahwa nilai keindahan dan spiritualitas tidak terkurung di dalam ruang steril galeri-galeri borjuis atau kemewahan material mahal. Segala sesuatu yang ada di alam semesta, bahkan barang limbah terbuang sekalipun, memiliki potensi ontologis untuk disucikan kembali (re-sacralization) melalui sentuhan rasa dan artistik. Ini adalah bentuk pencerahan estetika bahwa yang Ilahi hadir di mana-mana dan dapat diartikulasikan melalui medium apa saja.
Di sisi lain, praksis pengumpulan ribuan benda pusaka, keris, wayang kulit kuno, hingga kain batik tua di studionya bukanlah bentuk akumulasi materialistis atau kapitalisme seni. Dalam kacamata Pierre Bourdieu (Distinction, 1984), Nasirun secara cerdas mengonversi modal ekonomi yang ia peroleh dari pasar seni global menjadi modal simbolik dan budaya guna merawat ingatan kolektif masyarakatnya. Studionya di kawasan Bayeman, Yogyakarta, bertindak sebagai living museum (museum hidup) yang memprotes dan menginterupsi amnesia sejarah masyarakat modern yang kerap tercerabut dari akarnya.
Bila ada hal yang paling mendasar dan memikat dari sosok Nasirun di luar keandalan teknis artistiknya, itu adalah etika sosial dan kedermawanannya yang tanpa batas. Dalam struktur sosial seni rupa Jogja yang cair, Nasirun mempraktikkan etika srawung, sebuah mekanisme kebudayaan tradisional berbasis kohesi sosial, kehangatan personal, dan kesalingan. Sikap hidupnya yang humble (andap asor) mencerminkan filosofi klasik Jawa “sepi ing pamrih, rame ing gawe.”
Pintu studio dan rumahnya senantiasa terbuka lebar 24 jam bagi siapa saja, mulai dari mahasiswa yang kesulitan biaya pameran, seniman muda yang membutuhkan patronase, hingga para budayawan, santri, dan akademisi yang sekadar ingin berbincang kebudayaan sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Kedermawanan sosial Nasirun, yang sering kali membantu pendanaan pameran independen dan gerakan kebudayaan anak-anak muda secara diam-diam, dapat dibaca sebagai manifestasi nyata dari teologi kebudayaan berbasis khidmah (pelayanan). Bagi Nasirun, kesenian bukanlah panggung untuk memegahkan ego individu atau memburu popularitas belaka, melainkan media pengabdian kemanusiaan dan ikhtiar merawat persaudaraan (ukhuwah).
Kini, sang maestro telah menyelesaikan ziarah estetik dan spiritualnya di dunia fana. Rencana pameran tunggal besarnya yang sedianya dihelat di OHD Museum Magelang pada akhir tahun ini, kini bertransformasi menjadi monumen kenangan tersisa atas jejak pemikirannya yang abadi. Namun, rekam jejak epistemik, ribuan karya bernyawa, serta keteladanan budayanya akan tetap berdenyut memandu perjalanan generasi penerusnya. Di perbukitan suci Imogiri, tempat para raja, pujangga, dan wali beristirahat dalam damai, tanah Jogja merangkul kembali salah satu putra terbaik yang paling mencintainya.
Sugeng tindak, Mas Nasirun. Lahul Fatihah. Semoga setiap goresan garis, pendar warna, dan benih kedermawanan yang engkau tanam semasa hidup menjadi amal jariyah yang melapangkan jalan pulang menuju Sang Maha Indah.





Comments are closed.