November 2018 menjadi pertemuan yang tak akan saya lupakan. Saya sowan ke rumah Mas Nasirun untuk menyampaikan amanah dari Ciganjur: beliau diminta melukis on the spot pada saat Majelis Haul Gus Dur berlangsung.
Seperti biasa, Mas Nasirun menyambut dengan kehangatan dan humornya yang khas. Alih-alih langsung menjawab, beliau justru mengusulkan beberapa nama pelukis lain, seperti Uda Jumaldi Alfi, Tisna Sanjaya, dan Rahmad Seblat. Begitulah beliau seorang maestro yang rendah hati, tak pernah menempatkan dirinya di atas yang lain.
Saya masih ingat betul ketika surat permohonan yang kami buat dengan tulisan Arab Pegon beliau terima. Surat itu langsung disimpan rapi sambil berkelakar, “Iki tak jadikan jimat, ora oleh wong liya ngerti yo…” lalu tertawa lepas.
Rumahnya pun terasa begitu hangat. Kami disuguhi mangga dan roti oleh-oleh dari Surabaya. Sambil bercanda beliau berkata, “Saking lukisane ora ana sing payu, suguhane mung mangga lan roti oleh-oleh seko Surabaya.” Candaan yang membuat semua orang tersenyum, meski mungkin menyimpan kisah perjuangan seorang seniman.
Ada satu hal yang selalu saya kagumi. Dalam banyak undangan dan kolaborasi, Mas Nasirun hampir selalu mengajak tetangganya, Uda Alfi, untuk mendampingi. Uda sering menjadi juru bicara sekaligus jembatan komunikasi, sebab hingga akhir hayatnya, Mas Nasirun memilih hidup tanpa telepon genggam. Sebuah kesederhanaan yang terasa begitu langka di zaman sekarang.
Sekitar Januari 2019, saya kembali sowan untuk mengucapkan terima kasih atas kehadiran beliau di Haul Gus Dur Ciganjur. Dengan wajah sumringah beliau bercerita, sepulang dari haul, telepon rumahnya berdering. Ada seseorang yang misterius menghubungi dan ingin membeli salah satu lukisannya. Setelah berbulan-bulan tak kunjung laku, akhirnya karya itu menemukan pemiliknya. Sambil tersenyum beliau berkata, “mungkin iki berkah Haul Gus Dur wingi.”
Kini Mas Nasirun telah berpulang. Namun yang tertinggal bukan hanya karya-karya besarnya, melainkan juga ketulusan, kerendahan hati, kesederhanaan, dan tawa yang selalu menghidupkan setiap perjumpaan.
Selamat jalan, Mas Nasirun. Ragamu telah tiada, tetapi warna-warna yang kau torehkan akan terus bercerita. Karyamu abadi, dan kenangan tentangmu akan selalu hidup di hati kami.





Comments are closed.