Mubadalah.id – Saya pernah mengira tantangan terbesar menuju pernikahan adalah menemukan pasangan yang tepat. Belakangan saya menyadari bahwa tantangan yang lebih sering membuat banyak anak muda mengurungkan niat justru biaya pesta. Di tengah kegelisahan itu, saya teringat pada tulisan-tulisan Agus Mulyadi tentang kehidupan rumah tangganya bersama Kalis Mardiasih.
Menariknya, yang terus pembaca kenang bukan kemegahan hari pernikahan mereka, melainkan cerita-cerita sederhana setelahnya. Belajar menjadi pasangan, saling memahami, bertengkar karena hal-hal kecil, lalu kembali berdamai. Dari situlah saya bertanya, jika yang paling berharga dari sebuah pernikahan adalah kehidupan setelah akad, mengapa kita justru menghabiskan begitu banyak energi untuk mempersiapkan budaya nikah mahal yang hanya berlangsung beberapa jam?
Pertanyaan itu semakin terasa ketika saya berbincang dengan teman-teman sebaya. Kalimat yang saya dengar hampir selalu sama, “Saya sebenarnya sudah siap menikah, tetapi belum siap menggelar pesta.” Yang mereka maksud bukan biaya akad nikah, tetapi biaya gedung, katering, dekorasi, dokumentasi, rias pengantin, hingga daftar tamu yang terus bertambah. Pernikahan seolah belum dianggap sah secara sosial jika tidak kita rayakan secara besar-besaran.
Hal ini bukan sekadar kesan. Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa sepanjang 2025 tercatat 1.479.533 pernikahan di Indonesia, hanya meningkat sekitar 1.231 daripada tahun sebelumnya.
Kenaikan yang sangat tipis ini memang menghentikan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga mengingatkan bahwa keputusan menikah masih terpengaruhi berbagai tantangan, terutama kondisi ekonomi. Ketika harga rumah terus meningkat, biaya hidup semakin tinggi, dan lapangan kerja belum sepenuhnya memberikan kepastian, tambahan beban berupa tuntutan budaya nikah mahal menjadi persoalan yang patut kita pikirkan.
Budaya Pesta Pernikahan
Ironisnya, yang mahal sebenarnya bukan proses menikah itu sendiri. Negara telah menyediakan layanan akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) tanpa biaya apabila kita laksanakan pada hari dan jam kerja. Artinya, beban terbesar justru berasal dari berbagai tuntutan yang tumbuh di sekeliling pernikahan. Gedung harus megah, dekorasi harus memukau, dokumentasi harus sinematik, suvenir harus berkesan, dan daftar tamu harus panjang. Yang mahal bukan akadnya, tetapi budaya yang mengiringinya.
Budaya nikah mahal ini tidak muncul begitu saja. Ia terwariskan dari generasi ke generasi dan terus diperkuat oleh lingkungan sosial. Banyak orang tua merasa kehormatan keluarga dipertaruhkan melalui pesta pernikahan anaknya. Kerabat membandingkan satu resepsi dengan resepsi lainnya.
Media sosial kemudian memperbesar tekanan itu dengan menampilkan pernikahan yang serba sempurna. Tanpa kita sadari, pasangan muda bukan hanya menikah dengan orang yang mereka cintai, tetapi juga dengan ekspektasi sosial yang telah lama hidup di sekeliling mereka.
Hal tersebut sejalan dengan konsep conspicuous consumption yang Thorstein Veblen perkenalkan. Veblen menjelaskan bahwa seseorang sering kali mengonsumsi atau membelanjakan sesuatu bukan semata karena kebutuhan, tetapi untuk menunjukkan status sosial.
Dalam konteks pernikahan, resepsi yang semakin mewah kadang bukan lagi tentang merayakan cinta, tetapi tentang bagaimana keluarga ingin dipandang oleh orang lain. Tidak mengherankan jika ada pasangan yang rela berutang demi mempertahankan gengsi yang sesungguhnya hanya bertahan satu hari.
Kemewahan Resepsi Pernikahan Bukan Jaminan Rumah Tangga yang Langgeng
Penelitian juga menunjukkan bahwa kemewahan pesta tidak selalu sejalan dengan kualitas kehidupan rumah tangga. Nisa dan Rumayya (2021), melalui analisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), menemukan bahwa besarnya pengeluaran pernikahan terpengaruhi oleh tingkat pendapatan, pendidikan, dan literasi keuangan. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan menggelar pesta besar tidak dapat terlepaskan dari cara masyarakat memandang pengelolaan keuangan.
Temuan Francis-Tan dan Mialon (2015) bahkan memberikan perspektif yang lebih menarik. Berdasarkan penelitian terhadap lebih dari 3.000 pasangan, mereka menemukan bahwa besarnya pengeluaran untuk pesta pernikahan tidak berkaitan dengan usia pernikahan yang lebih panjang. Temuan tersebut tentu tidak berarti pesta besar menyebabkan perceraian, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa kemewahan resepsi bukanlah jaminan lahirnya rumah tangga yang langgeng.
Bukan berarti pesta pernikahan yang meriah harus kita hindari. Selama kita selenggarakan sesuai kemampuan, itu adalah pilihan yang sah. Industri pernikahan juga menghidupi banyak orang, mulai dari perias, fotografer, dekorator, katering, hingga pelaku UMKM. Persoalannya muncul ketika kemewahan berubah menjadi kewajiban sosial. Sehingga pasangan yang memilih sederhana justru dianggap kurang berhasil atau bahkan kita pandang sebelah mata.
Kesederhanaan tidak Mengurangi Makna Akad
Karena itu, perubahan harus kita mulai dari cara kita memandang pernikahan. Orang tua tidak perlu lagi menjadikan pesta besar sebagai simbol kehormatan keluarga. Tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat terus mengingatkan bahwa kesederhanaan tidak mengurangi makna sebuah akad.
Pasangan muda pun perlu berani menetapkan prioritasnya sendiri. Membatasi jumlah tamu, memilih resepsi sesuai kemampuan, serta mengalokasikan dana untuk uang muka rumah, modal usaha, atau dana darurat. Persiapan kehidupan setelah menikah jauh lebih penting daripada kemewahan acara yang hanya berlangsung beberapa jam.
Barangkali kita memang perlu mengubah satu pertanyaan sederhana. Jangan lagi bertanya, “Seberapa mewah pesta pernikahannya?” tetapi, “Bagaimana kehidupan mereka setelah menikah?” Sebab ketika semua tamu telah pulang, dekorasi telah terbongkar, dan lampu pelaminan telah padam, yang menentukan kebahagiaan bukanlah kemewahan resepsi. Akan tetapi kesediaan dua orang untuk tetap saling memilih, saling menguatkan, dan bertumbuh bersama setiap hari.
Itulah pelajaran yang secara sederhana tercermin dari kisah Agus Mulyadi dan Kalis Mardiasih. Pada akhirnya, investasi terbesar dalam sebuah pernikahan bukanlah pesta yang orang lain kenang selama beberapa hari, tetapi kehidupan yang terus kita rawat selama bertahun-tahun. []





Comments are closed.