Mubadalah.id – Akhirnya, beberapa hari lagi aku memasuki usia 30. Di usia ini, aku semakin menyadari bahwa tubuh perempuan bukan sekadar tubuh yang bertambah usia. Di atasnya, dunia kerap menulis begitu banyak harapan, tuntutan, dan ukuran tentang keberhasilan hidup. Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya penanda waktu, tapi bagi banyak perempuan justru sering datang bersama pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu nyaman.
Sudah menikah?
Punya anak?
Sudah punya apa?
Sudah jadi apa?
Seperti sebuah perlombaan, bukan? Seolah-olah ada batas waktu tertentu yang menentukan apakah seorang perempuan telah berhasil menjalani hidupnya. Bukan berarti laki-laki tidak pernah menghadapi tekanan serupa. Mereka pun memikul ekspektasi dan beban sosial dengan caranya masing-masing.
Namun, dalam banyak situasi, perempuan menghadapi lapisan tuntutan yang lebih kompleks karena tubuh, usia, peran, dan pilihan hidupnya kerap menjadi sasaran penilaian publik. Namun menjelang usia ini, aku justru ingin berhenti sejenak dan melihat sesuatu yang lebih dasar: tentang tubuhku sendiri.
Tubuh yang Menyimpan Lebih Banyak daripada Ingatan
Pernahkah kalian memperhatikan bekas luka di tubuh sendiri? Mungkin inilah yang baru kupahami menjelang usia 30: tubuh bukan sekadar bagian dari diri yang harus terlihat indah. Tubuh adalah arsip. Ia menyimpan perjalanan yang tidak selalu terlihat dalam foto-foto terbaik kita.
Tubuh merekam hari-hari ketika kita menangis dalam diam.
Menyimpan keberanian yang lahir dari pilihan untuk tetap bertahan.
Membawa jejak luka dari perkataan yang pernah merendahkan.
Menjadi saksi atas cinta yang pernah kita berikan, bahkan ketika tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama.
Jujur, aku pernah melihat bekas luka di tubuhku dan merasa ada sesuatu yang tidak lagi sempurna. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang berubah dan tidak bisa ku kembalikan. Namun semakin aku belajar memahami tubuhku sendiri, aku mulai menyadari satu hal: mungkin selama ini aku melihat bekas luka dengan cara yang keliru.
Bekas luka bukan tanda bahwa tubuhku gagal. Ia adalah tanda bahwa tubuhku pernah berjuang. Ia adalah cerita. Dan mungkin, tubuh memang memiliki caranya sendiri untuk mengingat. Lalu aku mulai bertanya-tanya: Kalau bekas luka yang terlihat saja menyimpan cerita, bagaimana dengan luka-luka yang tidak bisa dilihat mata?
Bagaimana dengan rasa takut yang tiba-tiba muncul ketika mendengar nada suara tertentu? Mengapa ada aroma yang bisa membawa kita kembali pada peristiwa yang telah lama berlalu? ada perempuan yang selalu merasa harus meminta maaf, bahkan ketika ia tidak melakukan kesalahan? mereka yang sulit menerima dirinya sendiri karena merasa tidak pernah cukup baik?
Semakin kupikirkan, semakin aku percaya bahwa tubuh kita tidak pernah benar-benar lupa.
Ia mengingat lebih banyak daripada yang mampu kita ceritakan.
Selama ini kita sering mengira bahwa ingatan hanya tinggal di kepala. Padahal tubuh juga memiliki bahasanya sendiri. Bahu yang terasa berat karena terlalu lama memikul tanggung jawab. Dada yang mendadak sesak ketika mengingat sesuatu yang menyakitkan. Perut yang menegang saat menghadapi situasi yang mengingatkan pada pengalaman buruk. Tubuh menyimpan semuanya, bahkan ketika pikiran berusaha melupakan.
Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Ruang Kehidupan
Kita sering diajarkan untuk memperbaiki tubuh agar sesuai dengan standar dunia. Menghapus tanda penuaan. Menyembunyikan perubahan. Mengembalikan bentuk yang dianggap ideal.
Namun semakin bertambah usia, aku semakin sadar: mungkin tubuh tidak perlu kita kembalikan ke masa lalu. Mungkin kita hanya perlu menghargainya karena telah membawa kita melewati begitu banyak masa.
Dan semakin aku mengenal tubuh perempuan, semakin aku memahami bahwa tubuh ini bukan hanya tentang bagaimana ia terlihat. Bahwa: “Tubuh perempuan adalah ruang kehidupan.”
Ada satu hal yang membuatku selalu kagum pada tubuh perempuan: ia bukan hanya tempat pengalaman hidup tersimpan, tetapi juga tempat kehidupan pertama. Selama berbulan-bulan, tubuh seorang perempuan menjadi rumah pertama bagi manusia lain. Ia berbagi ruang, tenaga, darah, dan napas. Tubuh itu mengalami perubahan yang tidak sedikit. Ada rasa lelah, nyeri, ketakutan, dan perjuangan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
Namun tubuh itu tetap bertahan.
Sayangnya, sering kali masyarakat hanya melihat hasil akhirnya: seorang bayi yang lahir. Kita lupa melihat tubuh yang berjuang di balik kelahiran itu. Ada perempuan yang mempertaruhkan tenaga, kesehatan, bahkan keselamatannya demi menghadirkan kehidupan.
Rahim: Tempat Kehidupan Bertemu Kasih Sayang
Hari ini, ketika aku melihat bekas luka di tubuhku: bolong kecil karena cacar, noda karena luka, dsb, aku mencoba melihatnya dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi melihat sesuatu yang harus aku sembunyikan. Melainkan sebuah perjalanan. Tubuh yang pernah terluka, tetapi tetap mampu bertahan.
Barangkali Begitulah tubuh perempuan. Ia memang ditakdirkan untuk mengingat. Tentang luka, cinta, kehilangan. Ia mengingat bagaimana rasanya menjadi rumah pertama bagi kehidupan. Dan mungkin, karena itulah perempuan dianugerahi sebuah makna yang begitu dalam, yaitu rahim.
Dalam tradisi Islam, kata rahim memiliki akar kata yang sama dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dua nama Allah yang mengingatkan manusia tentang luasnya kasih sayang dan rahmat-Nya.
Betapa indahnya bahwa ruang pertama tempat manusia bertumbuh diberi nama yang memiliki akar makna kasih sayang. Seolah Allah mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan tidak hanya lahir dari kekuatan, tetapi juga dari kelembutan.
Bahwa merawat bukanlah pekerjaan kecil. Kasih sayang bukanlah kelemahan. Dan tubuh yang mampu menampung kehidupan adalah tubuh yang memiliki kemuliaan.
Belajar Mencintai Tubuh Menjelang Usia 30
Maka menjelang usia 30, aku tidak ingin lagi bertanya apakah tubuhku sudah memenuhi harapan dunia.
Aku ingin bertanya: apakah aku sudah cukup menghargai tubuh yang selama ini setia menemaniku?
Tubuh yang pernah sakit.
Sering merasa lelah.
Senantiasa berubah.
Dan pernah merasa tidak sempurna.
Hari ini aku belajar melihat tubuhku bukan sebagai sesuatu yang harus terus diperbaiki, tetapi sebagai sebuah kitab kehidupan yang telah menuliskan banyak kisah. Sebab di atas tubuh perempuan, dunia mungkin telah menulis banyak sejarah. Tetapi jauh sebelum itu, Allah telah lebih dahulu menuliskan rahmat-Nya.[]





Comments are closed.