Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Budaya Membaca Jadi Dasar Membangun Rasa Cinta Tanah Air

Budaya Membaca Jadi Dasar Membangun Rasa Cinta Tanah Air

budaya-membaca-jadi-dasar-membangun-rasa-cinta-tanah-air
Budaya Membaca Jadi Dasar Membangun Rasa Cinta Tanah Air
service

Jakarta, NU Online

Founder Kayuh Literasi Indira Ratna menilai budaya membaca tidak sekadar urusan akademik, tetapi menjadi dasar membangun rasa cinta terhadap tanah air dan jembatan antara kesadaran diri, kepedulian sosial, serta kemampuan berpikir kritis sebagai fondasi kebangsaan yang kuat.

“Pantas saja literasi kita masih rendah, karena belum ada kesadaran menjadikan membaca sebagai kebutuhan,” ujar Indira dalam diskusi bertema Menjadi Indonesia Cinta dan Gagasan untuk Indonesia di Plaza Promenade, Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2025).

Indira menambahkan, banyak anak belum lancar membaca dan menulis meski tinggal di wilayah yang tidak jauh dari ibu kota dan untuk menjawab tantangan itu. Ia bersama Kayuh Literasi berinisiatif membuat pojok baca di ruang kelas untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini dan mendorong guru agar aktif membimbing literasi dasar di sekolah.

Indira juga menekankan bahwa upaya literasi harus melibatkan masyarakat secara luas, pemerintah dan sekolah.

“Kami ingin literasi menjadi gerakan hidup. Membaca bukan hanya di kelas, tapi juga di rumah, di komunitas, bahkan di jalanan. Karena literasi bukan kegiatan elitis, tapi kebutuhan dasar manusia untuk memahami dunianya,” ungkapnya.

Sementara itu, Penulis Buku Semua Suka Mengabdi, AM Syarif menilai rendahnya minat baca disebabkan karena masyarakat belum terbiasa menuntaskan bacaan.

“Kita ini lebih sering membaca setengah, lalu berhenti di tengah jalan. Padahal, menyelesaikan satu buku sampai tuntas itu latihan untuk melatih fokus dan ketekunan,” ujarnya.

Menurut Syarif, kemampuan membaca tuntas berpengaruh pada kemampuan berpikir dan berdialog. Ia juga menekankan pentingnya budaya menulis sebagai bagian dari literasi.

“Sering kali kita sibuk berdiskusi, tapi tidak punya bahan bacaan. Akibatnya, pembicaraan hanya berputar pada pendapat orang lain, bukan gagasan kita sendiri,” ucapnya.

“Kalau kita tidak menulis, kita kehilangan jejak refleksi. Setiap perjalanan dan pengalaman harusnya dicatat agar bisa menjadi sumber pengetahuan baru,” tambahnya.

Syarif menekankan bahwa literasi merupakan bentuk cinta kepada bangsa melalui pengetahuan karena kemajuan negara tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga masyarakatnya mampu berpikir kritis.

“Cinta tanah air itu tidak cukup dengan slogan. Ia harus diwujudkan lewat upaya memahami, membaca, menulis, dan menyebarkan gagasan yang mencerahkan,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.